Beriman kepada Takdir Allah adalah Kunci Ketenangan
- 05 Agt 2026 07:02 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang berbeda-beda. Ada yang lebih dahulu memperoleh rezeki, jodoh, pekerjaan, maupun berbagai nikmat lainnya. Namun, sebagai seorang muslim, setiap orang diajarkan untuk meyakini bahwa segala sesuatu telah ditetapkan Allah SWT dan akan terjadi pada waktu yang telah ditentukan-Nya.
Wakil Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Nunukan), Ustaz Anam Azhari,dalam program Mutiara Pagi RRI Nunukan menjelaskan bahwa jauh sebelum manusia diciptakan, Allah SWT telah menetapkan seluruh takdir makhluk-Nya.
"Rasulullah SAW menjelaskan bahwa lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan, Allah SWT telah menuliskan seluruh takdir makhluk di Lauhul Mahfuz. Makhluk pertama yang Allah ciptakan adalah pena, kemudian Allah memerintahkannya untuk menulis seluruh ketetapan hingga datangnya hari kiamat," ujarnya.
Menurutnya, keyakinan terhadap takdir Allah akan membuat seseorang lebih tenang dalam menjalani kehidupan. Ia mengutip nasihat para ulama yang menyebutkan bahwa segala sesuatu memiliki waktunya masing-masing dan akan terjadi tepat pada waktu yang telah Allah tetapkan.
"Nasihat ini mengajarkan agar kita tidak terlalu bersedih terhadap sesuatu yang belum kita miliki atau belum terjadi. Apa yang menjadi rezeki kita tidak akan tertukar, dan semuanya akan datang sesuai waktu yang Allah kehendaki," katanya.
Ustaz Anam menegaskan bahwa salah satu rukun iman adalah beriman kepada qada dan qadar, baik yang menurut manusia terasa menyenangkan maupun yang dianggap sebagai musibah.
| Baca juga: Ketika Dunia Mengalihkan Hati dari Allah SWT |
"Ketika kita mampu mengembalikan segala sesuatu kepada ketetapan Allah, insyaallah rasa sedih, kecewa, dan gelisah akan berkurang. Kita yakin bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya," jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa tidak mudah bagi manusia untuk menerima setiap ketentuan Allah. Terkadang seseorang merasa kecewa ketika doa belum dikabulkan, keinginan belum tercapai, atau musibah datang silih berganti.
"Sering kali karena beratnya ujian, manusia mengeluh, bahkan muncul perasaan seolah-olah Allah tidak adil. Padahal yang membuat hati sulit menerima adalah dorongan hawa nafsu yang ingin semua keinginan segera terpenuhi," ungkapnya.
| Baca juga: Ciri- Ciri Orang yang Beriman |
Lebih lanjut, Ustaz Anam menjelaskan bahwa dalam kehidupan, setiap orang akan selalu mengalami dua bentuk ketetapan Allah, yaitu nikmat dan musibah. Keduanya akan datang silih berganti sesuai kadar yang telah Allah tetapkan. Ia juga mengingatkan firman Allah SWT dalam Surah Al-Anbiya ayat 35 yang menyatakan bahwa Allah akan menguji manusia dengan keburukan maupun kebaikan sebagai bentuk ujian.
Di akhir tausiyahnya, Ustaz Anam mengajak umat Islam untuk selalu bersabar dan memperkuat keimanan kepada Allah SWT.
"Segala sesuatu ada waktunya, ada masanya. Jangan terburu-buru terhadap apa yang belum Allah berikan. Apa yang ada di dunia akan berlalu, tetapi apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Maka perkuat iman kepada qada dan qadar-Nya, karena di sanalah letak ketenangan hati seorang mukmin," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....