Bahaya Berprasangka Buruk
- 27 Jan 2026 06:00 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Berprasangka buruk dapat membawa dampak serius, baik dalam kehidupan pribadi, rumah tangga, maupun di tengah masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Ustaz Muamar Kadafi, M.Pd., Kepala SD Muhammadiyah 1 Nunukan, dalam acara Mutiara Pagi RRI Nunukan yang mengangkat topik terkait “Jangan Berprasangka Buruk”.
Menurutnya, rumah tangga akan mudah rusak ketika di dalamnya dipenuhi prasangka buruk. Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat, prasangka buruk akan menghilangkan hubungan yang harmonis antarindividu.
“Sering kali kita menilai seseorang hanya berdasarkan perspektif kita sendiri, padahal kita tidak tahu apakah prasangka itu benar atau tidak,” ujarnya.
Ustaz Muamar menjelaskan bahwa berprasangka buruk merupakan perbuatan yang sangat dibenci Allah SWT. Seseorang yang terbiasa berprasangka buruk akan terdorong untuk mencari-cari kesalahan orang lain, sebuah perilaku yang dapat menjerumuskan pada azab neraka Jahannam.
“Berprasangka buruk tidak hanya merugikan orang lain, tetapi dampak terbesarnya justru kembali kepada diri kita sendiri. Jiwa menjadi gelisah dan tidak pernah merasa bahagia,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa Allah SWT memberikan gambaran yang sangat keras tentang prasangka buruk, yakni seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati, sesuatu yang sangat menjijikkan, sebagaimana halnya dengan perbuatan ghibah. Ustaz Muamar juga mengutip firman Allah dalam Surah Al-An’am ayat 116, “Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu.” Ayat ini, menurutnya, menjadi peringatan agar umat Islam tidak mudah terpengaruh oleh penilaian atau prasangka tanpa dasar yang jelas.
Lebih lanjut, ia membagi prasangka buruk ke dalam beberapa kategori. Pertama, berprasangka buruk kepada Allah SWT, misalnya takut menikah karena khawatir miskin. “Tugas kita adalah menjaga ketakwaan dan berhusnuzan kepada Allah,” tegasnya.
Kedua, berprasangka buruk kepada sesama manusia. Padahal, semua manusia adalah hamba Allah. Orang yang terbiasa berprasangka buruk, lanjutnya, tidak akan mampu menikmati nikmat yang Allah berikan dalam hidupnya.
Ketiga, berprasangka buruk kepada seluruh hamba Allah, tidak hanya manusia. Ia menegaskan bahwa tidak ada manusia yang benar-benar bebas dari penyakit prasangka buruk, namun dengan ikhtiar dan kesadaran, penyakit hati tersebut dapat dihindari.
“Bisa jadi orang yang kita prasangkakan buruk justru merupakan kekasih Allah. Betapa mengerikannya jika kita berprasangka buruk kepada kekasih-Nya,” ujarnya.
Ustaz Muamar juga menekankan pentingnya membedakan antara membenci perbuatan dan membenci pelakunya. “Jika seseorang berbuat salah, yang kita benci adalah kesalahannya, bukan orangnya. Karena setiap orang memiliki potensi untuk berbuat baik dan benar,” katanya.
Ia menutup dengan pesan agar umat Islam senantiasa memperbaiki hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia. Menurutnya, prasangka buruk dapat menghalangi turunnya ridho Allah dan bahkan mendatangkan bencana.
“Sebagai seorang muslim, ketika menilai sesuatu, kita harus melakukan verifikasi. Walaupun terkesan repot, hal itu akan membawa dampak positif bagi diri kita sendiri,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....