Zakat Bukan Sekadar Gugur Kewajiban, tetapi Tanggung Jawab Kemanusiaan
- 04 Mar 2026 10:34 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan: Zakat bukan hanya kewajiban yang harus ditunaikan setiap Muslim, tetapi juga bentuk tanggung jawab kemanusiaan yang berdampak luas bagi kehidupan sosial. Hal ini disampaikan Ustaz Ambo Tuo, S.Pd.I., M.Pd., Wakil Ketua III Bidang Keuangan & Pelaporan, Kesekretariatan, SDM & Umum BAZNAS Kabupaten Nunukan dalam Dialog Ramadan RRI Nunukan, Selasa (3/4/2026).
Dalam pemaparannya, Ustaz Ambo Tuo menjelaskan bahwa secara bahasa, zakat berarti membersihkan. Yang dibersihkan bukan hanya harta, tetapi juga jiwa dan hati manusia dari sifat kikir serta kecintaan berlebihan terhadap dunia.
“Ketika seseorang mendapatkan rezeki, maka ada kewajiban mengeluarkan minimal 2,5 persen. Itu bukan semata-mata pemberian sukarela, tetapi hak orang lain yang ada dalam harta kita, baik diminta maupun tidak diminta,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa zakat hukumnya wajib. Bersedekah saja tidak otomatis menggugurkan kewajiban zakat. “Kalau kita sudah bersedekah, belum tentu kita sudah berzakat. Karena zakat ada aturan dan ketentuannya,” ujarnya.
Lebih jauh, zakat memiliki peran besar sebagai tanggung jawab kemanusiaan. Dalam Islam dikenal konsep habluminallah (hubungan dengan Allah) dan habluminannas (hubungan dengan sesama manusia). Zakat menjadi jembatan keduanya.
Menurutnya, manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Ia mencontohkan proses sederhana seperti pakaian yang dikenakan. Kapas tidak bisa menjadi baju tanpa melalui banyak tahapan dan peran banyak orang, mulai dari menjadi benang, kain, hingga akhirnya menjadi pakaian. Hal itu menunjukkan manusia saling membutuhkan.
“Zakat bukan hanya menggugurkan kewajiban, tetapi manfaatnya kembali kepada kita. Di antaranya menghindarkan dari kecemburuan sosial dan menguji keimanan kita,” katanya.
Ia juga mengutip pandangan ulama klasik seperti Imam Ahmad bin Hanbal yang dalam pandangannya tidak menetapkan secara kaku persoalan haul dan nisab dalam kondisi tertentu, serta Ibnu Qayyim al-Jauziyah yang menyatakan bahwa ketika seseorang memberi zakat kepada orang lain, sejatinya ia sedang memberi kepada dirinya sendiri.
“Dalam urusan kemanusiaan, kita memberi kepada siapa pun tanpa memandang latar belakang, agama, atau status sosial. Namun dalam konteks tertentu seperti ar-rahim, Allah memberikan kekhususan bagi orang beriman,”katanya.
Ustaz Ambo Tuo mengajak masyarakat Nunukan menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat kesadaran zakat. Ia menekankan bahwa zakat adalah instrumen keadilan sosial yang mampu memperkecil kesenjangan dan mempererat solidaritas di tengah masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....