Rukun Puasa Transformasi Ibadah Formal Menjadi Etika Sosial
- 22 Feb 2026 19:19 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan : Memaknai rukun puasa bukan sekadar menggugurkan kewajiban ritual melainkan sebuah proses transformasi spiritual yang berimplikasi pada etika sosial. Puasa, yang berlandaskan pada niat dan menahan diri (imsak), sejatinya adalah madrasah untuk membangun kesalehan sosial, empati, dan solidaritas terhadap sesama.
Memaknai Rukun Puasa: Transformasi Ibadah Formal Menjadi Etika Sosial. Dalam pemaparan dari Ketua MUI Kabupaten Nunukan Muhammad Harun Zain, S.Ag mengajak umat Islam bersyukur karena kembali dipertemukan dengan Ramadan, mengingat tidak semua orang mendapat kesempatan menikmati bulan penuh berkah ini.
Muhammad Harun Zain, S.Ag menjelaskan bahwa terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai rukun puasa. Menurut mazhab Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad, rukun puasa adalah imsak atau menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, sementara niat menjadi syarat sah. Sedangkan mazhab Imam Syafi’i dan Imam Malik menyebutkan rukun puasa meliputi niat, menahan diri dari yang membatalkan, serta pelaksanaannya pada waktu Ramadan.
Lebih lanjut, iya menekankan bahwa makna imsak tidak hanya sebatas menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan emosi, amarah, serta sikap yang dapat merusak hubungan sosial. Menurutnya, nilai kesabaran yang dilatih selama puasa harus mampu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, bertetangga, maupun bermasyarakat.
Ketua MUI Kabupaten Nunukan Muhammad Harun Zain, S.Ag mengatakan Puasa mengajarkan kita untuk sabar, menjaga lisan, serta menghindari konflik. Ketika seseorang terpancing emosi, ia harus ingat bahwa dirinya sedang berpuasa,” ujarnya Jumat 20/02/2026
Ramadan menjadi momentum evaluasi diri agar ibadah yang dijalankan tidak hanya bernilai secara lahiriah, tetapi juga berdampak pada perilaku sosial yang lebih baik dan tantangan era digital saat ini mengingatkan pentingnya bijak bermedia sosial selama Ramadan. Menurutnya, puasa menjadi pengendali diri agar umat Islam mampu memilah konten yang bermanfaat dan menjauhi hal-hal yang dapat merusak pahala, termasuk ujaran kebencian maupun perilaku negatif di dunia maya.
Ketua MUI Kabupaten Nunukan juga mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai madrasah pembinaan diri. Ia berharap nilai-nilai kesabaran, kepedulian, dan kedermawanan yang tumbuh selama Ramadan dapat terus dipraktikkan di luar bulan suci.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....