Puasa Hanya Menahan Lapar dan Dahaga? Ini Konsekuensinya

  • 05 Mar 2026 06:28 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Wakil Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Nunukan, Ustaz Anam Azhari, mengingatkan umat Islam agar tidak memaknai puasa sebatas menahan lapar dan dahaga. Menurutnya, puasa yang tidak dibarengi dengan penjagaan lisan, pandangan, dan perilaku hanya akan menyisakan rasa haus dan lapar tanpa nilai pahala yang sempurna.

“Rasulullah telah memberikan peringatan, betapa banyak orang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus saja. Ini sangat relevan dengan kondisi kita hari ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam sebuah hadis Rasulullah ditegaskan bahwa siapa yang berpuasa namun masih melakukan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya. Artinya, puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga ibadah hati dan perilaku.

Ustaz Anam juga mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-An'am ayat 160, bahwa siapa yang mengerjakan satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat. Selain itu, Allah menjanjikan pahala tanpa batas bagi orang-orang yang sabar, dan puasa merupakan bagian dari kesabaran. Namun, jika puasa hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, maka lipatan pahala tersebut tidak akan diraih.

“Allah menjanjikan pengampunan. Rasulullah pun bersabda, siapa yang berpuasa dengan niat mencari ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Tapi jika puasanya tidak dijaga, pengampunan itu bisa saja tidak kita dapatkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, ada dua konsekuensi besar ketika puasa hanya dimaknai secara fisik:

1. Lipatan pahala tidak akan didapatkan secara maksimal.

2. Pengampunan yang telah Allah janjikan bisa terlewatkan.

Dalam praktik sehari-hari, menurutnya, banyak umat Islam yang mampu menahan lapar dan dahaga, tetapi tidak mampu menjaga lisan dari dusta, menjaga mata dari hal-hal yang haram, serta menjaga telinga dari sesuatu yang tidak bermanfaat.

Ia mengingatkan bahwa umat Islam umumnya mengetahui hal-hal yang membatalkan puasa, namun sering kali kurang memahami hal-hal yang merusak atau mengurangi pahala puasa.

“Menonton drakor atau dracin saat puasa hukumnya mubah, tapi sering kali menjadi tidak berfaedah dan melalaikan dari ibadah. Begitu pula dengan scroll media sosial tanpa kontrol hingga melihat hal yang haram, itu bisa mengurangi pahala puasa,” tegasnya.

Ustaz Anam juga menyampaikan nasihat sahabat Nabi, Jabir bin Abdillah, yang berkata: “Jika kamu berpuasa, maka puasakan pula pendengaranmu, penglihatanmu, dan lisanmu. Jangan jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasa sama saja.”

Lebih lanjut, ia mengutip hadis riwayat Muhammad yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, bahwa sangat rugi seseorang yang mendapati Ramadan, namun Ramadan itu berlalu sementara dosa-dosanya belum diampuni.

“Ada obral pengampunan dari Allah SWT di bulan Ramadan. Kalau sampai kita tidak mendapatkannya, betapa ruginya kita,” ujarnya.

Sebagai solusi, ia mengajak umat Islam untuk melakukan tarbiyah diri, memanajemen waktu dengan baik, dan mengisi Ramadan dengan membaca Al-Qur’an, berdzikir, serta memperbanyak ibadah. Momentum Ramadan, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk meraih lipatan pahala dan pengampunan Allah SWT secara maksimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....