ketika Suara Asing Mengguncang Realitas

  • 27 Jul 2026 18:47 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan: Meniti karier di tengah kerasnya persaingan metropolitan sering kali menuntut kompromi mental yang tinggi. Itulah premis tajam yang diangkat dalam novel kontemporer bertajuk "Voice in My Head" karya Lilian Chan. Alih-alih terjebak dalam kisah romansa klise kaum borjuis kota, novel ini membedah pergulatan psikologis seorang perempuan muda dalam menghadapi ekspektasi sosial, ambisi, dan batas tipis antara kewarasan serta halusinasi.

Menghirup Udara Bangsar: Ambisi di Balik Meja Resepsionis

Cerita berpusat pada Tessa Goh, sosok anak muda ambisius yang menyimpan impian besar untuk menjadi seorang penulis profesional. Namun, realitas ekonomi perkotaan yang kejam memaksanya berkompromi. Tessa harus bersyukur bisa bertahan hidup sebagai seorang resepsionis di sebuah klinik kecantikan eksklusif di kawasan bergengsi Bangsar, Kuala Lumpur, melayani para wanita kelas atas.

Di atas kertas, hidup Tessa tampak berjalan konvensional: lingkungan kerja yang suportif, bos yang baik, serta rekan kerja yang menyenangkan. Titik balik kehidupan sosialnya bermula ketika ia berhasil memikat hati Aran Shankar—seorang pemuda dari kalangan elit elit Kuala Lumpur yang cerdas, tampan, dan mapan. Aran memenuhi segala kriteria impian romantis siapapun. Namun, di sinilah petaka psikologis itu dimulai.

Teror Bisikan: Realitas atau Ilusi?

Konflik esensial novel yang di terbitkan oleh Haru Media pada Oktober 2017 ini, mencuat ketika Tessa mulai mengalami fenomena ganjil: ia mendadak bisa mendengar isi kepala atau pikiran orang-orang di sekitarnya. Situasi menjadi runyam tatkala suara-suara yang masuk ke dalam kepalanya didominasi oleh narasi jahat, manipulatif, dan penuh kebencian—terutama suara pikiran yang diatribusikan kepada calon ibu mertuanya, Datin Shankar.

Lilian Chan secara cerdas membawa pembaca masuk ke dalam zona abu-abu. Narasi dibangun secara apik untuk memancing pertanyaan investigatif:

Apakah Datin Shankar benar-benar menyimpan niat dan pandangan toksik yang kejam terhadap Tessa, ataukah suara-suara tersebut murni manifestasi dari kecemasan akut, rasa insecure, dan tekanan mental yang dialami Tessa sendiri?

Refleksi Sosial: Kesehatan Mental dan Tekanan Kelas

Dalam sudut pandang jurnalistik, "Voice in My Head" bukan sekadar bacaan fiksi ringan (romance/teenlit), melainkan sebuah kritik sosial terhadap:

  1. Insecure Class-Syndrome: Kecemasan kaum marjinal atau kelas pekerja saat mencoba masuk ke dalam lingkaran sosial elit yang kerap memandang rendah latar belakang mereka.

  2. Krisis Kesehatan Mental: Bagaimana tekanan hidup modern, ambisi karier, dan validasi sosial dapat memicu gangguan psikologis berupa paranoia dan halusinasi auditori pada individu muda.

Melalui gaya penuturan yang mengalir dan penuh ketegangan psikologis, novel ini sukses mengajak pembaca merefleksikan seberapa sering kita dikendalikan oleh "suara-suara" penghakiman—baik dari luar maupun dari dalam kepala kita sendiri. (Sumber: Buku kita.com).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....