Menenun Sunyi di antara Lima Gender: Tragedi dan Keteguhan "Sabda Luka"

  • 29 Mei 2026 14:01 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan: Suku Bugis di Sulawesi Selatan dikenal memiliki kosmologi unik yang mengakui lima gender dalam tatanan adatnya: oroane (laki-laki), makkunrai (perempuan), calabai (laki-laki yang berperan sebagai perempuan), calalai (perempuan yang berperan sebagai laki-laki), dan bissu (pendeta suci bergender spiritual purba).

Namun, di balik kekayaan antropologis itu, ada realitas kemanusiaan yang kerap berdarah-darah. Realitas pahit inilah yang dipotret dengan apik oleh sastrawan S. Gegge Mappangewa lewat novelnya, Sabda Luka: Calabai, Sepasang Merpati Tanpa Dara. Melalui pendekatan naratif yang kuat, penulis membawa pembaca menyelami labirin batin seorang anak manusia yang terlahir di luar dikotomi gender konvensional. Buku ini di ternitkan pada November 2022 oleh Indiva Media Kreasi.

Kisah Segi Tiga Luka: Pua’ Ridwan, Becce, dan Saripis

Kisah dalam Sabda Luka berpusat pada dinamika psikologis dan sosial tiga tokoh utama: Pua’ Ridwan, Becce, dan seorang pemuda bernama Saripis.

Konflik bermula dari Pua’ Ridwan, seorang pria paruh baya yang terperangkap dalam ekspektasi budaya patriarki Bugis yang kaku. Bagi Ridwan, memiliki anak laki-laki adalah lambang kehormatan, penerus silsilah, dan harga diri keluarga (siri’). Harapan itu seolah runtuh ketika anak laki-lakinya justru menunjukkan kecenderungan sebagai calabai—pria yang memiliki jiwa, kebiasaan, dan sensitivitas seorang perempuan.

Ketidakmampuan Pua’ Ridwan menerima kenyataan ini melahirkan gelombang kekerasan, baik verbal maupun fisik. Di tengah badai penolakan sang ayah, hadirlah Becce. Sebagai sosok perempuan (atau ibu) dalam narasi ini, Becce menjadi jangkar emosional yang mencoba menambal luka-luka suaminya sekaligus melindungi sang anak dari penghakiman sosial yang kejam.

Namun, takdir membawa mereka pada titik paling krusial ketika Saripis masuk ke dalam pusaran hidup mereka. Hubungan interpersonal yang rumit di antara mereka bertiga memicu benturan budaya, agama, dan ego yang berujung pada akhir yang tragis dan penuh air mata.

Menggugat Stigma Lewat Lembaran Sastra

Gegge Mappangewa tidak sedang menulis pembelaan politik, melainkan sebuah refleksi kemanusiaan. Lewat novel ini, ia menelanjangi bagaimana institusi keluarga—yang seharusnya menjadi tempat teraman—sering kali berubah menjadi ruang interogasi dan penyiksaan pertama bagi mereka yang dianggap "berbeda."

Metafora "Sepasang Merpati Tanpa Dara" yang disematkan sebagai sub-judul mempertegas ironi kehidupan tokoh-tokohnya: mereka mendambakan kedamaian dan cinta yang murni (disimbolkan oleh merpati), namun terbang tanpa arah karena kesucian eksistensi mereka telah dicabut oleh penghakiman lingkungan sekitar.

Secara sosiologis, Sabda Luka memberikan gambaran kontras yang tajam. Di satu sisi, masyarakat Bugis secara historis menghormati calabai karena peran penting mereka dalam upacara adat (sebagai indo’ botting atau penata rias pengantin) dan kedekatan spiritual mereka dengan institusi bissu. Namun di sisi praktis sehari-hari, mereka tetap mengalami marginalisasi, dianggap sebagai aib keluarga, dan dipaksa untuk "sembuh" melalui represi.

Akhir Kata: Sabda yang Menjadi Pengingat

Sabda Luka ditutup dengan sebuah resolusi yang getir namun sarat perenungan. Kematian, kepergian, dan penyesalan yang terlambat dari tokoh-tokohnya menjadi kritik terbuka bagi pembaca. Novel ini menegaskan bahwa sebelum membicarakan hukum adat atau dogma sosial, ada satu hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu: memanusiakan manusia.

Bagi pencinta sastra berlatar budaya lokal, karya S. Gegge Mappangewa ini bukan sekadar hiburan pengisi waktu luang. Ia adalah sebuah dokumen sosial, sebuah "sabda" atau suara dari mereka yang selama ini dipaksa bungkam oleh luka-luka sosial yang tak kunjung sembuh. ( Sumber : Buku kita.com).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....