Platypus, Mahakarya Evolusi yang Membuat Sains Kebingungan
- 26 Mei 2026 21:22 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan: Ketika para ilmuwan Eropa pertama kali menerima kiriman spesimen platypus dari Australia pada akhir abad ke-18, mereka mengira sedang dikerjai. Paruh seperti bebek yang ditempelkan pada tubuh berbulu mirip berang-berang, dengan ekor pipih menyerupai berang-berang air, membuat para ahli taksonomi saat itu menuduh penemunya telah menjahit beberapa hewan mati menjadi satu.
Namun, platypus (Ornithorhynchus anatinus) bukanlah lelucon. Hewan endemik bagian timur Australia ini adalah makhluk nyata dan menduduki takhta sebagai salah satu hewan paling aneh, unik, dan membingungkan yang pernah tercatat dalam sejarah sains.
Monotremata: Mamalia yang Bertelur
Keunikan paling mendasar dari platypus terletak pada klasifikasi biologisnya. Mereka termasuk dalam kelompok Monotremata, sebuah ordo mamalia purba yang sangat langka yang hanya menyisakan platypus dan echidna di dunia ini.
Sebagai mamalia, platypus memiliki rambut dan menyusui anaknya. Namun, alih-alih melahirkan, platypus betina berkembang biak dengan cara bertelur layaknya burung atau reptil.
Keunikan tidak berhenti di situ; mereka tidak memiliki puting susu. Ketika telurnya menetas, sang ibu akan mengeluarkan susu melalui pori-pori kulit di perutnya, dan anak-anak platypus akan menjilati susu yang keluar dari lipatan kulit tersebut.
Berburu dengan "Indra Keenam" (Elektroresepsi)
Saat menyelam di dasar sungai yang gelap untuk mencari makanan seperti cacing, larva serangga, dan udang kecil, platypus akan menutup rapat mata, telinga, dan lubang hidungnya. Mereka menyelam dalam kondisi "buta" dan "tuli". Lalu, bagaimana mereka bisa menemukan mangsa dengan akurasi yang luar biasa?
Jawabannya ada pada paruh mereka yang fleksibel dan sensitif. Paruh platypus tidak keras seperti burung, melainkan dilapisi kulit lembut yang dialiri oleh puluhan ribu sel saraf sensorik. Struktur ini memberi mereka kemampuan elektroresepsi yaitu sebuah "indra keenam" yang mendeteksi medan listrik lemah yang dihasilkan oleh gerakan otot mangsa mereka.
Platypus adalah satu-satunya mamalia darat/air yang diketahui memiliki navigasi sonar biologis secanggih ini. Di balik penampilannya yang menggemaskan, platypus jantan adalah salah satu dari sedikit mamalia yang memiliki bisa beracun.
Mereka memiliki taji di kaki belakangnya yang dapat menyuntikkan racun yang cukup kuat untuk membunuh hewan kecil, atau menyebabkan rasa sakit luar biasa yang tidak mempan dieliminasi oleh obat pereda nyeri biasa pada manusia.
Menyala dalam Gelap (Biofluoresensi)
Seolah belum cukup membuat para ilmuwan takjub, sebuah penelitian terbaru menemukan rahasia lain yang tersembunyi pada bulu platypus. Ketika ditembaki dengan sinar ultraviolet (UV), bulu cokelat pekat milik platypus akan memancarkan warna hijau kebiruan yang menyala dalam gelap (biofluoresensi).
Meskipun fenomena ini umum ditemukan pada beberapa jenis jamur, ikan, atau amfibi, namun penemuan ini sangat langka di kalangan mamalia. Para ilmuwan menduga kemampuan ini membantu platypus untuk saling mengenali sesama jenisnya atau menyamar dari predator dalam kondisi cahaya redup di habitat semi-akuatik mereka.
Penjaga Garis Waktu Evolusi
Bagi dunia sains, platypus bukan sekadar hewan aneh, melainkan sebuah mesin waktu biologis. Analisis DNA menunjukkan bahwa platypus memiliki kombinasi gen dari mamalia, burung, dan reptil sekaligus. Mereka adalah bukti hidup bagaimana garis keturunan mamalia modern mulai memisahkan diri dari nenek moyang reptil ratusan juta tahun yang lalu.
(Sumber: yupiland.com)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....