Rahasia Evolusi Skincare: Melintasi Zaman Kuno, Keemasan Islam, hingga Sekarang

  • 23 Apr 2026 12:57 WIB
  •  Nunukan
Poin Utama
  • Skincare sudah hadir sejak lama dalam kehidupan manusia. Mulai dari Zaman Kuno (Mesir Kuno, Yunani Kuno dan Romawi), Abad Pertengahan dan Renaissance, Pengaruh Asia, Revolusi Industri hingga Era Modern.

RRI.CO.ID, Nunukan: Perawatan kulit dengan bahan alami bukanlah hal baru. Jauh sebelum industri kecantikan modern berkembang pesat seperti sekarang, manusia telah memanfaatkan berbagai bahan dan teknologi pada masanya untuk menjaga kesehatan dan kecantikan kulit. Seperti apa perkembangan skincare dari zaman kuno sampai era modern? Mari kita bahas satu persatu!

Zaman Kuno

Mesir Kuno

Peradaban Mesir Kuno dikenal sangat memperhatikan kecantikan. Mereka menggunakan bahan-bahan seperti minyak zaitun, madu, susu, dan minyak almond untuk melembapkan kulit dan rambut. Cleopatra, ratu Mesir yang terkenal dengan kecantikannya, konon menggunakan susu segar untuk mandi, lho.

Yunani Kuno

Orang Yunani kuno menganggap kebersihan kulit adalah sesuatu yang penting bahkan kulit bersih dianggap sebagai kebajikan moral. Zaman itu mereka telah menggunakan minyak zaitun sebagai pelembab dan pembersih wajah. Kemudian oatmeal dan madu untuk meredakan jerawat. Ada pula ramuan krim dingin pertama yang terbuat dari campuran air, minyak zaitun dan lilin lebah (beeswax)

Romawi Kuno

Bangsa romawi memiliki pemandian umum yang bisa dibilang menjadi pusat sosial. Dimana perawatan kulit itu dianggap menandakan status sosial. Bangsawan dan orang berada pada masa itu menggunakan minyak impor seperti minyak mur. Untuk eksfoliasi kulit mati, mereka memakai minyak zaitun dan batu apung.

Abad Pertengahan hingga Renaissance

Pada abad pertengahan, penggunaan tanaman obat atau herbal untuk perawatan kulit semakin populer yang dipengaruhi oleh inovasi pada masa keemasan Islam. Orang-orang menggunakan berbagai macam herbal seperti chamomile, rosemary, peppermint dan lavender untuk membuat ramuan kecantikan.

Pengaruh Islam masa Golden Age

Karya Ibnu Sina yang berjudul “The Canon of Medicine” memperkenalkan teknik penyulingan. Teknik ini memungkinkan terjadinya proses ekstraksi minyak dari mawar dan chamomile yang bermanfaat untuk kelembaban kulit dan penyembuhan.

Pada masa Renaisans Eropa

Wanita era ini mulai menggabungkan sains dan seni dalam skincare mereka. Putih telur sangat populer kala itu sebagai bahan dasar masker wajah untuk mengencangkan pori-pori kulit. Kemudian, karena standar kecantikan, lebih tepatnya simbol status sosial, pada saat itu adalah putih pucat, para wanita terobsesi untuk memiliki kulit pucat apapun caranya.

Pengaruh Asia

Negeri Tiongkok memanfaatkan bahan-bahan alami dalam praktik skincare mereka. Hal ini karena pengaruhi budaya pengobatan tradisional yang menekankan harmoni tubuh dengan alam. Rutinitas perawatan kulitnya mencakup ramuan herbal, roller giok untuk memijat wajah, dan air beras sebagai toner untuk mencerahkan kulit.

Era Modern: Abad Ke-20 hingga Ke-21

Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahan-bahan alami mulai diteliti dan diuji secara ilmiah. Seiring perkembangan zaman, penggunaan bahan kimia yang aman untuk kulit seperti retinol dan hyaluronic acid mulai diperkenalkan.

Menariknya lagi sekarang ini, perawatan kulit atau skincare diciptakan menyesuaikan berbagai jenis kulit. Sehingga formula final atau produk yang dihasilkan bisa lebih efektif dan sesuai dengan permasalahan kulit

(Sumber: Reviva Labs dan Capstone Medical Centre Southbank)

BACA JUGA: Cantik Alami dengan Bahan Dapur: 5 Bahan Rahasia Skincare Para Leluhur

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....