Memungut Serpihan Hati dalam Cinta yang Hilang
- 30 Des 2025 10:51 WIB
- Nunukan
KBRN, Nunukan: Dalam riuh rendah dunia sastra yang sering kali mengagungkan kesempurnaan cinta, Masriadi Sambo hadir dengan perspektif yang menohok melalui karyanya, Cinta yang Hilang (Disc 50%). Buku ini bukan sekadar kumpulan kata, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang kerapuhan manusia saat menghadapi kehilangan, pengkhianatan, dan proses penyembuhan yang tidak pernah murah harganya. Judul buku ini, yang menyertakan label "Disc 50%", bukanlah sebuah strategi pemasaran barang dagangan, melainkan sebuah metafora satir. Sambo seolah ingin mengatakan bahwa dalam kehidupan nyata, cinta sering kali tidak datang dalam paket utuh. Ada bagian-bagian yang terpotong oleh ego, terpangkas oleh jarak, atau bahkan sengaja dikurangi oleh pengkhianatan. Penulis membawa pembaca menelusuri lorong-lorong gelap perasaan seseorang yang merasa dunianya runtuh. Ia menggambarkan bahwa kehilangan cinta bukan hanya soal kepergian seseorang, tetapi tentang hilangnya separuh identitas diri—inilah "diskon" paksa yang harus diterima oleh jiwa yang terluka.
Kekuatan utama buku yang di terbitkan oleh Prenada Mesdia Group BP pada Agustus 2015 ini terletak pada kejujuran narasinya. Masriadi Sambo tidak menjanjikan pelangi setelah badai secara instan. Sebaliknya, ia memotret fase-fase penyangkalan, kemarahan, hingga tawar-menawar dengan takdir.
Melalui gaya bahasa yang lugas namun tetap puitis, Sambo menyentuh realitas sosial di mana cinta sering kali kalah oleh ambisi atau ketidaksiapan mental. Ia menyoroti bagaimana manusia modern sering kali terburu-buru mencintai, namun tidak pernah siap untuk "membayar harga" dari sebuah komitmen.
Meski bernuansa melankolis, Cinta yang Hilang (Disc 50%) tidak membiarkan pembacanya tenggelam dalam kesedihan yang nihilistik. Buku ini menawarkan sebuah peta jalan menuju self-healing. Sambo menekankan bahwa meski cinta kita "didiskon" oleh keadaan atau orang lain, sisa 50% yang ada pada diri kita sendiri adalah modal untuk bangkit kembali.
Pesan moral yang kuat adalah tentang penerimaan. Bahwa mencintai diri sendiri adalah langkah pertama untuk menambal lubang-lubang yang ditinggalkan oleh kehilangan tersebut.Karya Masriadi Sambo ini adalah pengingat bagi setiap pembaca bahwa dalam setiap perpisahan, selalu ada pelajaran yang tertinggal. Ia mengajak kita untuk tidak takut mencintai, meski risiko kehilangan selalu membayangi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....