Seni Menyembuhkan Luka Hati dalam “Bukan Move On Biasa”

  • 25 Mei 2026 08:47 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan: Patah hati sering kali dirayakan dengan air mata, lagu melankolis, dan keputusan impulsif untuk segera mencari pengganti. Namun, bagi psikolog Pingkan C.B. Rumondor, M.Psi., pendekatan "pelarian" seperti itu justru menjadi bom waktu. Melalui bukunya yang bertajuk Bukan Move On Biasa, ia membedah anatomi patah hati bukan sebagai akhir dari segalanya, melainkan sebuah fase transisi psikologis yang menuntut keberanian untuk jujur pada diri sendiri.

Buku yang diterbitkan oleh Lentera Hati ada Juni 2016 ini, hadir sebagai oase di tengah gempuran tips-tips instan "cepat melupakan mantan" yang beredar di media sosial. Menggabungkan pendekatan ilmiah psikologi dengan bahasa yang membumi, Pingkan menawarkan panduan taktis bagi mereka yang sedang terjebak di ruang hampa pasca-putus cinta.

Berdamai dengan "Sakit", Bukan Menyangkalnya

Salah satu sorotan utama dalam artikel-artikel ilmiah yang diadaptasi Pingkan ke dalam buku ini adalah konsep penerimaan rasa sakit. Masyarakat modern sering kali menuntut kita untuk selalu terlihat tangguh dan cepat move on. Padahal, menurut Pingkan, menyangkal rasa sedih justru memperpanjang masa duka (grief).

"Putus cinta itu menyakitkan secara fisik dan emosional karena otak kita memproses penolakan sosial di area yang sama dengan rasa sakit fisik," tulis Pingkan dalam salah satu ulasannya.

Langkah pertama yang ditawarkan buku ini bukanlah melupakan, melainkan merasakan. Mengizinkan diri sendiri untuk menangis dan kecewa adalah fondasi utama sebelum seseorang bisa melangkah ke tahap rekonstruksi diri.

Tiga Pilar Utama Bukan Move On Biasa

Pingkan membagi proses penyembuhan ini ke dalam beberapa fase yang terstruktur, yang dirangkum menjadi tiga pilar esensial:

Pilar Kebangkitan

  1. Regulasi Emosi.

Fokus Utama Mengelola badai perasaan pasca-putus.

Langkah Nyata Menulis jurnal, membatasi stalking media sosial mantan (diet informasi).

  1. 2. Rekonstruksi.

Kognitif Fokus Utama Mengubah sudut pandang terhadap kegagalan hubungan. Langkah Nyata Berhenti menyalahkan diri sendiri secara total; melihat hubungan secara objektif.

  1. 3. Reorientasi.

Diri Fokus Utama Menemukan kembali jati diri yang sempat hilang saat berpasangan.

Langkah Nyata Mencoba hobi baru, menata ulang tujuan hidup, dan fokus pada karier/edukasi.

Memutus Rantai Stalking: Tantangan Digital Terbesar

Di era digital, tantangan terbesar dari gagalnya sebuah hubungan bukanlah jarak geografis, melainkan jejak digital. Pingkan secara khusus menyoroti perilaku cyberstalking—mengintip aktivitas mantan di media sosial—sebagai candu yang merusak proses pemulihan.

Buku ini menegaskan bahwa setiap kali seseorang melihat foto atau pembaruan status sang mantan, otak akan melepaskan dopamin yang memicu rasa rindu semu. Imbasnya, proses move on kembali ke titik nol. Pingkan menyarankan "detoks digital" atau pembatasan interaksi digital secara tegas sebagai bentuk pertolongan pertama pada patah hati.

Menuju Versi Diri yang Lebih Tangguh (Post-Thriving)

Gong dari buku Bukan Move On Biasa adalah konsep bahwa akhir dari sebuah hubungan bukan sekadar kembali ke kondisi semula sebelum berpacaran. Pingkan mendorong pembaca untuk mencapai tahap post-traumatic growth atau pertumbuhan pasca-trauma.

Seseorang yang berhasil menerapkan move on yang tidak biasa ini akan keluar sebagai individu yang lebih bijaksana, tahu apa yang mereka inginkan dalam hubungan berikutnya, dan yang terpenting: tidak lagi menggantungkan kebahagiaannya pada kehadiran orang lain.

Buku ini pada akhirnya mengirimkan pesan jurnalistik yang kuat bagi pembacanya: patah hati memang tidak bisa dihindari, tetapi hancur berlarut-larut adalah sebuah pilihan. Melalui panduan Pingkan Rumondor, bergerak maju kini bukan lagi sekadar slogan, melainkan sebuah proses ilmiah yang indah untuk dijalani. (Sumber: Buku kita.com).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....