“Huwaida Elmira” Sebuah Catatan Dextrocardia Gadis Berusia 3 Tahun

  • 28 Mei 2026 07:36 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan: Dunia kedokteran mengenal dextrocardia sebagai sebuah anomali langka - kondisi di mana jantung seseorang terletak di sisi kanan rongga dada, berkebalikan dengan manusia pada umumnya. Namun bagi Riviena Nidya W., istilah medis ini bukan sekadar bab dalam buku teks ilmiah. Ia adalah realitas hidup, perjuangan air mata, sekaligus simbol keteguhan yang ia tuangkan dalam memoar menyentuh hati berjudul Huwaida Elmira.

Buku yang terbit pada Maret 2022 oleh Penerbit Diandra Primamitra ini, bukan sekadar catatan harian seorang ibu, melainkan sebuah laporan mendalam mengenai perjuangan hidup dan mati seorang anak perempuan berusia tiga tahun bernama Huwaida Elmira. Melalui untaian kata yang jujur dan emosional, Riviena membawa pembaca menyusuri lorong-lorong rumah sakit, menghadapi vonis medis, hingga menemukan keajaiban di balik kepasrahan.

Ketukan Pertama: Ketika Jantung Berdetak Berbeda

Kisah dimulai ketika diagnosa medis menjatuhkan vonis yang meruntuhkan dunia orang tua Elmira. Mengidap dextrocardia di usia yang sangat belia—tiga tahun—bukanlah perkara mudah. Tubuh mungil Elmira harus berhadapan dengan berbagai komplikasi fisik yang menuntut penanganan medis ekstra ketat.

Riviena dengan sangat apik menggambarkan atmosfer kepanikan, kebingungan, hingga fase penyangkalan (denial) yang kerap dialami oleh orang tua yang menghadapi situasi serupa. Artikel-artikel bab awal buku ini secara jurnalistik berhasil memotret bagaimana sebuah keluarga mendadak harus beradaptasi dengan rutinitas rumah sakit, tabung oksigen, dan bunyi monitor detak jantung yang konstan.

Investigasi Emosi: Perjuangan Tanpa Batas

Sebagai sebuah karya memoar, kekuatan utama buku ini terletak pada kejujurannya. Riviena tidak berusaha menutupi kerapuhannya. Ia menceritakan bagaimana lelahnya fisik dan mental berkejaran dengan waktu dan biaya pengobatan. Namun, di tengah keputusasaan tersebut, sosok Huwaida Elmira digambarkan sebagai "pahlawan kecil" yang memiliki semangat hidup luar biasa.

"Senyum Elmira di tengah rasa sakit adalah bahan bakar utama yang membuat kami tetap berdiri," tulis Riviena dalam salah satu fragmen paling menyentuh di buku tersebut.

Melalui pendekatan humanis, pembaca diajak untuk melihat bahwa perjuangan melawan penyakit langka tidak hanya melibatkan aspek medis Barat, melainkan juga kekuatan spiritual, dukungan komunitas (support system), dan cinta tanpa syarat dari keluarga.

Catatan Medis dan Refleksi Sosial

Dari kacamata jurnalistik, buku Huwaida Elmira juga berfungsi sebagai kritik sekaligus refleksi sosial mengenai sistem kesehatan kita. Riviena secara tersirat membagikan pengalaman bagaimana berinteraksi dengan berbagai karakter tenaga medis—mulai dari yang memberikan secercah harapan hingga mereka yang menyampaikan vonis dengan dingin.

Buku ini juga memberikan edukasi penting bagi masyarakat awam mengenai kelainan jantung bawaan. Penulis berhasil menyederhanakan bahasa medis yang rumit menjadi narasi yang mudah dipahami, membuat pembaca tidak hanya bersimpati, tetapi juga mendapatkan pengetahuan baru.

Akhir Kata: Jantung Kanan yang Menggerakkan Hati

Secara keseluruhan, Huwaida Elmira (Sebuah Catatan Dextrocardia Gadis Berusia 3 Tahun) bukan sekadar kisah tentang kesakitan. Ini adalah manifesto tentang harapan. Riviena Nidya W. berhasil mengubah trauma personal menjadi sebuah karya literatur yang menguatkan siapa saja yang sedang berjuang di titik terendah hidup mereka.

Buku ini mengingatkan kita semua bahwa terkadang, hidup tidak berjalan sesuai dengan anatomi yang normal. Namun, seperti jantung Elmira yang berdetak kuat di sebelah kanan, kehidupan yang tidak biasa pun tetap bisa mengalirkan cinta dan inspirasi yang luar biasa ke seluruh penjuru dunia. (Sumber: Buku kita.com).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....