Nelayan Nunukan Mulai Menatap Pentingnya Perlindungan Sosial

  • 28 Nov 2025 22:14 WIB
  •  Nunukan

KBRN, Nunukan: Penghasilan yang berubah-ubah dan medan kerja yang tak pernah benar-benar aman membuat banyak nelayan di Nunukan, Kalimantan Utara, hidup dalam ketidakpastian. Setiap kali mereka berangkat melaut, keluarga hanya bisa berharap mereka kembali dalam keadaan utuh.

Perlindungan sosial perlahan dianggap sebagai satu-satunya pegangan ketika risiko menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Oleh karena itu, 200 nelayan memilih mendaftar BPJS Ketenagakerjaan secara mandiri agar apa pun yang terjadi di laut tidak sepenuhnya jatuh menjadi beban keluarga.

Ketua Himpunan Nelayan Kabupaten Nunukan, Syahril, mengatakan para nelayan sudah paham bahwa pekerjaan mereka tak memberi ruang banyak untuk rasa aman. Untuk itu, jaminan sosial memberi harapan bahwa keluarga tetap memiliki pegangan ketika musibah datang.

“Namanya kita ke laut kan, itu berisiko ya, kalau ada apa-apa, kecelakaan atau meninggal, kan ada asuransi yang bisa kita tinggalkan untuk keluarga,” ujar Syahril, Minggu (9/11/2025).

Masih banyak nelayan yang belum terjangkau informasi karena ritme hidup mereka bergantung pada pasang surut dan cuaca. Pada saat sosialisasi digelar, sebagian besar dari mereka masih berada di laut dan melewatkan penjelasan yang penting bagi perlindungan diri.

“Masih ada yang belum paham, karena pada saat sosialisasi dari BPJS itu kan ada yang tidak hadir, karena pas melaut jadi belum terlalu paham,” katanya.

Di sisi lain, BPJS Ketenagakerjaan berupaya menjaga agar keluarga pekerja rentan seperti nelayan tidak kehilangan pijakan ketika risiko tiba-tiba mengetuk pintu. Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Nunukan, Jodi Widardi, menjelaskan program perlindungan hadir untuk menahan guncangan paling berat yang sering tak terlihat datangnya.

Ia mengatakan ahli waris peserta yang meninggal berhak menerima santunan sekitar Rp 42 juta. Sementara risiko kecelakaan kerja ditanggung penuh selama terjadi dalam proses bekerja.

“Pokoknya ter-, misalnya terjatuh, terbentur, terpeleset saat bekerja,” ujar Jodi.

Jaminan hari tua dirancang sebagai simpanan kecil yang membantu ketika peserta sudah tidak kuat lagi bekerja. Adapun jaminan kehilangan kerja memberi akses pelatihan dan bantuan tunai bagi pekerja yang tiba-tiba terhenti pendapatannya.

Menurut Jodi, nelayan berada di posisi yang rapuh karena sepenuhnya menggantungkan hidup pada cuaca dan hasil tangkapan. Penghasilan yang tidak stabil membuat mereka sulit menyisihkan uang untuk melindungi diri sendiri.

Untuk pekerja mandiri seperti nelayan, BPJS TK menyiapkan tiga layanan inti yakni jaminan kematian, kecelakaan kerja, dan hari tua. Skema ini sudah berjalan sejak 2015 dan menyasar pekerja informal yang selama ini bekerja tanpa jaring pengaman.

“Memang edukasi itu tidak cepat langsung ditangkap sama masyarakat, jadi lebih banyak menganalisa dulu,” katanya.

Banyak nelayan yang pendapatannya berada di bawah upah minimum sehingga iuran dipandang sebagai beban tambahan yang tidak selalu bisa dipenuhi. Karena itu, BPJS TK menggandeng Pemkab Nunukan agar pekerja rentan tetap bisa terlayani.

“Kalau di bawah UMR kan logikanya tidak akan cukup,” katanya.

Pemkab Nunukan mulai memasukkan nelayan dan pekerja informal lain ke dalam program bantuan iuran sebagai bentuk perlindungan dasar. Pemerintah daerah menilai risiko yang menimpa kepala keluarga sering kali berujung pada beban sosial baru jika tidak segera ditangani.

“Kalau peserta yang sudah terdaftar selama 3 tahun, maka akan mendapatkan beasiswa bagi anaknya sebagai ahli waris,” ujar Jodi.

Hingga kini, sekitar 2.000 pekerja rentan telah terdaftar melalui APBD Kabupaten Nunukan. Selain itu, desa-desa mengalokasikan APBDes untuk melindungi 8.113 pekerja, ditambah 1.000 pekerja sawit melalui dana bagi hasil sawit.

Data BPS mencatat pekerja non penerima upah di Nunukan mencapai 60.000–70.000 orang. Sementara potensi pekerja penerima upah berada pada kisaran 30.000–40.000 orang.

Peserta BPJS TK dari pekerja formal yang sudah terdata sekitar 20.000 orang, sedangkan pekerja informal baru mencapai 11.000 orang. Jumlah itu menunjukkan masih banyak pekerja yang harus dilindungi agar tidak jatuh lebih dalam ketika risiko menghampiri hidup mereka.

“Ini kan sifatnya memang dari pemerintah jadi bergantung anggaran dari pemerintah, kalau secara personal kita menyasar kelompok nelayan atau UMKM,” ujar Jodi.

Namun, sebagaimana diakui Jodi, edukasi tidak semudah membalik telapak tangan. Masyarakat perlu waktu, perlu diyakinkan, dan perlu mengalami sendiri bahwa risiko bukanlah kemungkinan, melainkan kepastian yang hanya menunggu waktu. Keterbatasan penghasilan juga membuat sebagian keluarga nelayan harus menimbang-nimbang, apakah iuran bulanan itu bisa disisihkan dari pendapatan yang tak menentu.

Di titik inilah pemerintah daerah turun tangan. Plt. Sekda Nunukan, Iwan Kurniawan, menegaskan bahwa perlindungan bagi pekerja rentan menjadi komitmen bersama. Pemerintah mulai mengalokasikan anggaran melalui berbagai dinas untuk meng-cover ribuan pekerja rentan di kabupaten, termasuk mereka yang bekerja di perkebunan sawit maupun yang berada di desa-desa pesisir. Skema ini, menurut Iwan, merupakan langkah untuk memastikan bahwa ketika seorang pekerja menghadapi musibah, keluarganya tidak jatuh ke jurang yang lebih dalam dan pada akhirnya menjadi beban pemerintah.

“Kita bertahap, ya. Pemerintah daerah terus mendorong agar warga mendapatkan perlindungan sosial, karena tentu ini sangat membantu terutama bagi pekerja rentan,” ujarnya. Menurutnya, jaminan sosial bukan hanya tentang administrasi, tetapi tentang menjaga keberlangsungan hidup keluarga, terutama mereka yang hidup dari pekerjaan yang penuh risiko seperti nelayan. Ia menambahkan bahwa program beasiswa bagi anak peserta yang telah terdaftar cukup lama menjadi salah satu bentuk perlindungan jangka panjang yang sangat berarti bagi keluarga pekerja.

Meski jumlah pekerja nonformal di Nunukan masih jauh lebih banyak dibanding mereka yang sudah terlindungi, upaya membangun kesadaran perlahan mulai terlihat. Langkah dua ratus nelayan ini menjadi awal yang menunjukkan bahwa mereka tidak hanya bertarung dengan gelombang di laut, tapi juga sedang belajar melindungi masa depan keluarganya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....