Jejak Sejarah dan Budaya Lokal di Nunukan

  • 29 Sep 2025 21:14 WIB
  •  Nunukan

KBRN, Nunukan: Kabupaten Nunukan sering kali dikenal karena dinamika wilayah perbatasan dan sosialnya. Namun, di balik itu, Nunukan juga menyimpan kekayaan sejarah dan budaya yang terwujud dalam beragam situs dan benda cagar budaya.

Situs-situs ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan cermin identitas, penguat kebangsaan, dan pelajaran berharga bagi generasi mendatang. Mari kita telusuri beberapa jejak sejarah penting di kabupaten ini.

Sejarah dan Budaya Kabupaten Nunukan

1. Monumen Pengingat Jasa Pahlawan: Tugu Dwikora

Di jantung Kota Nunukan, berdiri megah Tugu Dwikora. Monumen ini didirikan untuk mengenang perjuangan heroik dalam mempertahankan kedaulatan bangsa selama masa konfrontasi.

Sejak ditetapkan sebagai cagar budaya, Tugu Dwikora bertransformasi menjadi ruang edukasi terbuka. Sekolah, organisasi masyarakat, hingga warga menjadikannya lokasi penting untuk mengenang jasa para pahlawan dan memupuk rasa kebangsaan di wilayah perbatasan.

Pesan Penting: Jika Anda berkunjung, mari kita jaga ketertiban dan kebersihan lingkungan tugu sebagai bentuk penghormatan atas sejarah yang diwakilinya.

2. Batu Berukir Kuno di Dataran Tinggi Krayan

Beranjak ke dataran tinggi Krayan, kita akan menemukan warisan budaya yang tak kalah menarik: Batu Narit atau batu-batu berukir kuno. Situs ini tersebar di beberapa desa, seperti Pamanit, Pa Rupai, dan Arur Bilit.

Ukiran-ukiran pada Batu Narit diyakini menyimpan jejak aktivitas ritual, penanda penting, bahkan menjadi bentuk komunikasi pada masa lampau. Benda-benda ini memiliki nilai sangat besar bagi pemahaman sejarah lokal, meskipun keberadaannya masih rentan karena lokasi yang terpencil.

3. Situs Kultural di Lumbis dan Krayan Lainnya

Di wilayah Lumbis dan sekitarnya, masyarakat juga mengenal Batu Teteidan yang dipercaya sebagai "Batu Gunung Bertuah." Selain itu, makam-makam tua di Krayan juga menyimpan kisah kekerabatan dan adat istiadat masa lampau yang berharga.

Objek-objek ini kerap masuk dalam daftar usulan cagar budaya, sebab tidak hanya bernilai historis tetapi juga memiliki makna kultural yang mendalam bagi komunitas setempat.

Peran Kita dalam Pelestarian Cagar Budaya

Menjaga cagar budaya bukanlah semata-mata tugas pemerintah. Ini adalah tanggung jawab kolektif kita bersama. Pemerintah daerah bersama Balai Cagar Budaya Provinsi memang telah melakukan pendataan dan penetapan.

Baca Juga: Formaline Ajak Etnis di Nunukan Komitmen Merawat Kebinekaan

Namun, proses kajian terus berlanjut karena banyak situs yang sifatnya sangat lokal dan komunal. Di sinilah peran aktif masyarakat sangat diperlukan:

  1. Laporkan Temuan: Jika Anda menemukan batu berukir, makam tua, atau bangunan bersejarah di sekitar tempat tinggal Anda, segera laporkan kepada dinas kebudayaan atau panitia cagar budaya kabupaten setempat.
  2. Jaga Keaslian: Hindari merusak, mencoret (grafiti), atau memindahkan benda tanpa izin resmi. Keaslian situs adalah kunci utama nilai sejarahnya.
  3. Edukasi Generasi Muda: Ajak anak-anak untuk belajar langsung di lapangan. Dengan demikian, warisan leluhur ini akan terus hidup dalam cerita keluarga dan komunitas.

Dengan menumbuhkan rasa bangga dan kepedulian, terutama pada generasi muda, kita memastikan warisan berharga di tanah perbatasan ini tetap terjaga, hidup, dan menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Nunukan. (RM).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....