Pulang ke Diri Sendiri Merupakan Perjalanan Paling Jauh

  • 10 Sep 2026 06:04 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Seumur hidup manusia berjalan ke banyak tempat. Ia mengejar pendidikan, pekerjaan, pengakuan, kekayaan, dan berbagai pencapaian yang dianggap sebagai tanda keberhasilan. Kakinya terus melangkah, tetapi hatinya belum tentu ikut sampai. Tidak sedikit orang yang mengenal begitu banyak tempat di dunia, namun asing terhadap dirinya sendiri. Ia tahu bagaimana menyenangkan orang lain, tetapi lupa bagaimana memahami isi hatinya. Ia pandai membaca keadaan, tetapi gagal membaca dirinya sendiri.

Kesibukan hidup sering membuat manusia hidup di luar dirinya. Ia sibuk memenuhi harapan keluarga, tuntutan pekerjaan, dan penilaian masyarakat hingga perlahan kehilangan suara batinnya. Apa yang diinginkan orang lain menjadi lebih penting daripada apa yang sebenarnya dibutuhkan jiwanya. Tanpa disadari, ia menjalani kehidupan yang terlihat utuh dari luar, tetapi terasa kosong di dalam. Semakin jauh ia mengejar dunia, semakin jauh pula ia meninggalkan dirinya sendiri.

Baca Juga: Kahlil Gibran, Pemuda Patah Hati yang Menuangkan Perasaannya Melalui Tulisan

Pulang kepada diri sendiri bukan berarti menjauh dari kehidupan atau mengasingkan diri dari dunia. Ia adalah keberanian untuk berhenti sejenak, menatap luka yang selama ini disembunyikan, menerima kekurangan tanpa membenci diri, dan berdamai dengan masa lalu yang tidak mungkin diubah.

Perjalanan ini sering kali lebih berat daripada mendaki gunung atau mengarungi lautan, karena musuh yang dihadapi bukan berada di luar, melainkan ego, ketakutan, dan penyesalan yang selama ini menetap di dalam hati.

Ketika seseorang akhirnya mengenal dirinya, ia tidak lagi mudah diguncang oleh pujian ataupun dihancurkan oleh celaan. Ia memahami bahwa nilai dirinya tidak bergantung pada tepuk tangan manusia, melainkan pada kejujuran dalam menjalani hidup sesuai hati nurani dan nilai yang diyakininya. Dari sanalah lahir ketenangan yang tidak perlu dipamerkan, kebahagiaan yang tidak bergantung pada pengakuan, dan keberanian untuk hidup apa adanya tanpa terus-menerus memakai topeng demi diterima.

Barangkali perjalanan yang paling melelahkan memang bukan menuju tempat yang jauh, melainkan kembali kepada diri yang pernah hilang di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Namun ketika perjalanan itu akhirnya selesai, seseorang akan menemukan rumah yang selama ini ia cari bukan berada di luar sana, melainkan di dalam hatinya sendiri. Sebab orang yang telah pulang kepada dirinya tidak lagi sibuk mencari arti hidup di mana-mana. Ia telah menemukannya dalam kejujuran, penerimaan, dan kedamaian yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri. (Sumber: SinggasanaKata)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....