Mengenang Mayjen Anumerta Sutoyo, Pahlawan Revolusi dari Kebumen
- 01 Okt 2026 11:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- 1 Oktober, bangsa Indonesia mengenang gugurnya tujuh perwira Angkatan Darat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Salah satunya adalah Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo, perwira tinggi asal Kebumen, Jawa Tengah.
- Pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan Cakrabirawa pimpinan Sersan Mayor Surono mendatangi rumah Sutoyo. Rumah di Jalan Sumenep, Menteng, itu mereka masuki sekitar pukul 04.00 WIB melalui garasi.
- Jenazah sang Mayor Jenderal ditemukan di sebuah sumur tua bersama para perwira lainnya pada 3 Oktober 1965. Lokasi itu kini menjadi kawasan Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur.
RRI.CO.ID, Jakarta – Hari ini, 1 Oktober, bangsa Indonesia mengenang gugurnya tujuh perwira Angkatan Darat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Salah satunya adalah Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo, perwira tinggi asal Kebumen, Jawa Tengah, yang kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi.
Sutoyo lahir di Kebumen pada 28 Agustus 1922 dan menempuh pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School di Semarang. Ia menamatkan pendidikannya di Algemene Middelbare School Semarang pada 1942, bertepatan dengan kedatangan pasukan Jepang di Indonesia.
Melansir laman Kementerian Kebudayaan (Kemenbud), selama masa pendudukan Jepang Sutoyo banyak belajar tentang pemerintahan di Jakarta. Ia kemudian bekerja sebagai pegawai pemerintah di Purworejo sebelum mengundurkan diri pada 1944 dengan alasan pribadi.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sutoyo tertarik pada dunia keprajuritan dan bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat di Purworejo. Ketika badan itu berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat, ia memilih bertugas sebagai Polisi Tentara berpangkat Letnan Dua.
Pada Januari 1946, pangkat Sutoyo naik menjadi Letnan Satu dan ia ditunjuk sebagai ajudan Komandan Divisi Lima, Kolonel Gatot Subroto. Sang komandan dikenal membela kaum lemah dan toleran terhadap anak buah.
"Ayah sangat percaya bahwa tidak ada satu pun prajurit yang jelek. Ia memberi contoh dengan selalu hidup sederhana, namun selalu memerhatikan kesejahteraan anak buahnya," kata Nani Surachman Sutojo, putri Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo, dalam laman Kemenbud, dikutip RRI.co.id , Kamis, 1 Oktober 2026.
Pada 1947, Sutoyo yang telah berpangkat kapten dipercaya memimpin Bagian Organisasi Polisi Tentara Resimen 2 Purworejo. Ia kemudian sempat menjadi Kepala Staf Corps Polisi Militer di Yogyakarta selama satu bulan sebelum diangkat menjadi Komandan Detasemen Tiga Corps Polisi Militer di Surakarta.
Saat itu kondisi politik dan keamanan Surakarta sangat kacau akibat penculikan dan pembunuhan antarkelompok politik yang terus terjadi. Sutoyo ikut berperan mengamankan kota tersebut menjelang pemberontakan PKI di Madiun pada September 1948.
Ketika Belanda melancarkan agresi militer kedua pada 19 Desember 1948, Sutoyo meninggalkan Surakarta untuk bergabung dalam perjuangan gerilya. Setelah Yogyakarta kembali ke tangan Republik pada 29 Juni 1949, ia ditugaskan sebagai Kepala Staf Batalyon Corps Polisi Militer di Yogyakarta.
Setelah revolusi berakhir, Sutoyo menjabat Komandan Batalyon Satu Corps Polisi Militer di Jakarta dengan pangkat Mayor pada 1950. Lima tahun kemudian, ia bertugas di Staf Umum Angkatan Darat dengan pangkat Letnan Kolonel.
Sutoyo lalu menjadi atase militer di London selama tiga tahun. Sepulangnya ke tanah air pada 1959, ia mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, Bandung.
Pada 1961, Sutoyo yang sudah berpangkat kolonel menjabat Inspektur Kehakiman sekaligus Oditur Jenderal Angkatan Darat. Ia juga memimpin Akademi Militer atau Perguruan Tinggi Hukum Militer.
Pada 1963, Sutoyo membantu Jenderal A.H. Nasution menjalankan Operasi Budhi untuk memberantas korupsi di militer dan lembaga negara. Atas keberhasilan operasi itu, pangkatnya naik menjadi Brigadir Jenderal pada 1964.
Keterlibatan dalam Operasi Budhi membuat Sutoyo dituduh terlibat dalam Dewan Jenderal, tuduhan yang tidak pernah terbukti. Ketegangan dengan PKI meningkat ketika Sutoyo dan perwira lainnya menolak pembentukan angkatan kelima yang mempersenjatai buruh dan tani.
Pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan Cakrabirawa pimpinan Sersan Mayor Surono mendatangi rumah Sutoyo. Rumah di Jalan Sumenep, Menteng, itu mereka masuki sekitar pukul 04.00 WIB melalui garasi.
Pasukan Cakrabirawa memaksa pembantu menyerahkan kunci, lalu mengatakan bahwa Sutoyo dipanggil Presiden ke Istana. Namun, Sutoyo justru dibawa ke Lubang Buaya dan dibunuh di sana.
Jenazah sang Mayor Jenderal ditemukan di sebuah sumur tua bersama para perwira lainnya pada 3 Oktober 1965. Lokasi itu kini menjadi kawasan Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Dua hari kemudian, Sutoyo dinaikkan pangkatnya secara anumerta menjadi Mayor Jenderal. Ia juga dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi dan gugur dalam usia 43 tahun. (Nikita Yunistia Maryam)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....