Hari Kesaktian Pancasila, Mengenang Perjuangan Jenderal Ahmad Yani

  • 30 Sep 2026 14:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hari Kesaktian Pancasila diperingati untuk mengenang perjalanan sejarah dan tokoh-tokoh yang gugur dalam peristiwa 1965.
  • Jenderal Ahmad Yani adalah salah satu pahlawan revolusi yang dikenang karena kontribusi dan perjuangannya dalam bidang militer.
  • Jenderal Ahmad Yani lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 19 Juni 1922, sebagai anak laki-laki pertama dari pasangan Sardjo dan Murtini.

RRI.CO.ID, Jakarta - Hari Kesaktian Pancasila diperingati untuk mengenang perjalanan sejarah dan para tokoh yang gugugr dalam peristiwa 1965. Salah satu tokoh yang dikenang ialah Jenderal Ahmad Yani, pahlawan revolusi yang memiliki perjalanan Panjang dalam perjuangan militer.

Mengutip laman Kementerian Kebudayaan (Kemenbud), Jenderal Ahmad Yani lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 19 Juni 1922. Ia merupakan anak laki-laki pertama dari pasangan Sardjo dan Murtini.

Sejak kecil, Ahmad Yani mendapat kesempatan menempuh pendidikan berkat bantuan Jans Hulstijn, tempat ayahnya bekerja sebagai sopir pribadi. Ia kemudian bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) dan melanjutkan pendidikan hingga Algemene Middelbare School (AMS) B di Jakarta.

Namun, Pendidikannya di AMS-B hanya berlangsung hingga tahun kedua karena ketertarikannya pada bidang militer. Pada 1940, ia mengikuti pendidikan milisi Corps Opleiding voor Reserve Officieren (CORO) sebelum melanjutkan pendidikan militer di beberapa daerah.

Setelah itu, Ahmad Yani menjalani pendidikan militer di Magelang, Malang, dan Bogor sebelum bertugas di Bandung. Pada Maret 1942, ia ditangkap tentara Jepang karena menjadi bagian dari pasukan Hindia Belanda.

Setahun setelahnya, ia dibebaskan dan kembali ke Purworejo, mengikuti kursus mengetik. Salah satu guru kursus tersebut ialah Yayu Rulia Subandiah yang kemudian menjadi istrinya.

Setelah dibebaskan, Ahmad Yani bergabung dengan Heiho, kesatuan militer bentukan Jepang. Ia memperoleh pangkat Shodancho atau Komandan Kompi dan pada 1944 dipindahkan ke Magelang.

Memasuki masa perang kemerdekaan, ia berhasil menyita senjata Jepang di Magelang. Setelah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia dipercaya menjadi Komandan TKR Purwokerto.

Kemudian, pasukan Ahmad Yani berhasil menahan serangan Belanda di daerah Pingit saat Agresi Militer Pertama. Setelah itu, pada Oktober 1945, ia memimpin Batalyon 4 melawan pasukan Inggris di Banyubiru, Ambarawa.

Dalam pertempuran tersebut, pasukannya berhasil memukul mundur pasukan Inggris menuju Semarang. Setelah itu, mereka mengejar hingga terjadi pertempuran di Lapangan Banten, Semarang.

Selanjutnya, Ahmad Yani menjalankan perang gerilya di Gunung Merapi, Merbabu, dan Sumbing sebagai Komandan Wehrkreise II. Strateginya menyulitkan pasukan Belanda hingga kehebatannya diakui Kolonel van Zanten.

Lebih lanjut, Ahmad Yani dipercaya memimpin pemberantasan Angkatan Umat Islam (AUI) dan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Tengah. Pada 1958, ia juga memimpin Operasi 17 Agustus untuk menghadapi Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Perjalanan karier Ahmad Yani mencapai puncaknya ketika ia dilantik sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada 23 Juni 1962. Saat itu, ia menjadi perwira yang menduduki jabatan tertinggi dalam Korps Angkatan Darat.

Namun, perjalanannya harus berakhir pada 1 Oktober 1965 sekitar pukul 03.00 hingga 04.00. Pada hari itu, sekelompok pasukan Cakrawibawa menerobos kediamannya hingga Jenderal Ahmad Yani tertembak di depan kamar.

Peristiwa tersebut disaksikan oleh anak-anaknya sebelum jenazahnya dibawa menuju Lubang Buaya. Pada 4 Oktober, jasad Ahmad Yani bersama enam korban lainnya ditemukan dan menjalani autopsi.

Sehari kemudian, Ahmad Yani dan para perwira yang gugur dimakamkan melalui upacara kebesaran militer. Mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. (Nadya Syifa Syauqiyah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....