Perjalanan Siswondo Parman, Perwira Intelijen hingga Korban G30SPKI
- 30 Sep 2026 18:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Parman menyelesaikan pendidikan formal di HIS Wonosobo dan melanjutkan ke GHS Jakarta untuk mempelajari ilmu kesehatan.
- Kedatangan pasukan Jepang ke Jawa pada 1 Maret 1942 menyebabkan Parman meninggalkan studi di Jakarta dan kembali ke Wonosobo.
- Letnan Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman lahir di Wonosobo pada 4 Agustus 1918 dan merupakan seorang perwira intelijen yang memberikan kontribusi signifikan bagi Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta – Letnan Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman lahir di Wonosobo pada 4 Agustus 1918. Parman merupakan seorang perwira intelijen yang memiliki banyak kontribusi bagi Tanah Airnya, Indonesia.
Parman memulai pendidikannya di HIS (Hollandsch Inlandsche School) Wonosobo hingga ke perguruan tinggi GHS (Geneeskundige Hoogeschool) Jakarta. Kedatangan Jepang di Jawa pada 1 Maret 1942, membuatnya lebih memiliki meninggalkan studi di Jakarta dan kembali ke Wonosobo.
Pasukan Jepang berusaha menguasai sumber daya alam Indonesia dan mencari dukungan kaum nasionalis dan pemuda Indonesia. Parman yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang fasih, dimanfaatkan oleh Jepang sebagai penerjemah.
Parman sempat bergabung dengan Kempetai, polisi militer dan rahasia Jepang di sejumlah kota Jawa Tengah. Setelah beberapa waktu sebagai penerjemah, Parman diangkat menjadi pegawai sipil pada dinas Kempetai di Yogyakarta.
Parman juga turut berperan dalam pembentukan Kempeiho, pasukan pembantu tentara yang dikhususkan untuk unit kepolisian militer Jepang. Saat sebagai pegawai Kempetai, Parman memperdalam ilmu intelejennya di Kenpei Kasya Butai.
Letjen S.Parman memiliki banyak jasa melalui perjuangan-perjuangan membela Ibu Pertiwi. Setelah Proklamasi 1945, Parman bergabung dengan organisasi perjuangan di Yogyakarta.
Ia turut berjuang merebut persenjataan dan sejumlah gedung yang dikuasai Jepang. Parman juga berkontribusi dalam proses pembentukan Markas Besar Badan Keamanan Rakyat (MBBKR) di Yogyakarta.
Pada 5 Oktober 1945, Badan Keamanan Rakyat (BKR) berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Parman kemudian ditunjuk sebagai Kepala staf Markas Besar Polisi Tentara dengan pangkat Kapten pada bulan Desember 1945.
Dikutip dari Ensiklopedia Kemenbud, Pada 1948, karier militernya sempat terhenti akibat keterlibatan kakaknya dalam Peristiwa Madiun. Parman ditahan di Penjara Wirogunan bersama kakaknya karena dituduh membantu pemberontakan tersebut.
Setelah tidak terbukti terlibat, Parman dibebaskan ketika Agresi Militer Belanda II berlangsung. Ia kemudian bergerilya menuju Wonogiri dan membantu perjuangan melalui kemampuan intelijennya.
Karier intelijen Parman terus berkembang hingga dipercaya menjadi Asisten I Bidang Intelijen. Ia kemudian naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal pada 1962 dan Mayor Jenderal pada 1964.
Sebagai petinggi Angkatan Darat, Parman beberapa kali menentang kebijakan PKI, termasuk pembentukan Angkatan V. Puncaknya pada 1 Oktober 1965 dini hari, ia diculik pasukan Cakrabirawa dari rumahnya di Jakarta.
Pasukan Cakrabirawa meminta Parman segera menghadap presiden karena situasi sedang genting. Parman segera berganti pakaian seragam lengkap, kemudian Parman dibawa oleh pasukan Cakrabirawa ke Lubang Buaya.
Pada 3 Oktober 1965, jenazah Parman ditemukan bersama enam perwira Angkatan Darat lainnya. Dua hari kemudian, pemerintah memberikan kenaikan pangkat anumerta serta gelar Pahlawan Revolusi. (Muhammad Herdi Fabryansyah)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....