Mayjen D.I Pandjaitan Dipukul saat Berdoa, Ditembak Pakai Seragam

  • 30 Sep 2026 15:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Donald Isaac Panjaitan merupakan perwira TNI Angkatan Darat yang gugur pada 1 Oktober 1965 saat Gerakan 30 September/PKI.
  • Sebelum ditembak, Panjaitan menolak perintah prajurit G30S untuk bersiap dan memilih untuk berdoa dengan mengenakan seragam militer lengkap.
  • Kisah perjuangan Panjaitan menjadi bagian penting dari sejarah nasional yang dirayakan melalui peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap tanggal 1 Oktober.

RRI.CO.ID, Jakarta - Donald Isaac Panjaitan (D.I. Panjaitan) merupakan salah satu pahlawan yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI). Kisah perjuangannya menjadi bagian dari sejarah nasional yang dikenang melalui peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap tanggal 1 Oktober.

Perwira TNI Angkatan Darat tersebut gugur pada tanggal 1 Oktober 1965 dengan menggunakan seragam militer lengkap. Sebelum ditembak, ia tidak mengikuti perintah dari prajurit G30S untuk bersiap dan memilih untuk berdoa.

Dikutip dari laman Kementerian Kebudayaan (Kemenbud), D.I. Panjaitan mulai mengenal dunia militer pada masa pendudukan Jepang. Ia mengikuti Sekolah Opsir Gyugun di Pekanbaru pada 14 Februari 1944.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, ia ikut membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). Kemudian, ia juga memimpin bagian latihan BKR Riau karena memiliki dasar pendidikan militer dari Gyugun.

Dalam perjalanan kariernya, Panjaitan menangani berbagai tugas strategis di lingkungan militer. Ia pernah menjabat Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium I/Bukit Barisan di Medan.

Ia kemudian bertugas sebagai Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium II/Sriwijaya di Palembang. D.I. Panjaitan juga merancang penyelundupan senjata untuk mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pada 1965, ia berpangkat Brigadir Jenderal dan menjabat Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat. Tugasnya mencakup bidang logistik, yang menjadi salah satu tanggung jawab penting dalam organisasi militer.

Ia juga berhasil membongkar penyelundupan senjata dari Tiongkok. Semua itu membuatnya menjadi salah satu target G30S/PKI.

Maka, dini hari tanggal 1 Oktober 1965, sekelompok prajurit G30S mendatangi kediamannya. Mereka memasuki halaman rumah dengan melompati pagar, lalu merusak pintu menggunakan tembakan.

Kelompok tersebut meminta D.I. Panjaitan mengikuti mereka dan mengancam keselamatan keluarganya. Ia akhirnya turun dengan mengenakan pakaian dinas setelah para penculik mengaku akan membawanya menemui Presiden Soekarno.

Di dekat garasi, D.I. Panjaitan tidak mengikuti perintah untuk bersiap, justru memilih berdoa. Para penculik kemudian menembaknya, lalu membawa jenazahnya meninggalkan kediaman tersebut.

Petugas menemukan jenazah D.I. Panjaitan bersama enam korban lainnya di Lubang Buaya pada 4 Oktober 1965. Pemerintah menaikkan pangkatnya secara anumerta menjadi Mayor Jenderal dan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan Kalibata. (Davina Keisha Salsabila)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....