Detik-Detik Jenderal A.H. Nasution Lolos dari Penculikan PKI 1965

  • 30 Sep 2026 16:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Setiap 30 September, Indonesia memperingati G30S/PKI sebagai peristiwa kelam yang terjadi pada tahun 1965 dan merenggut nyawa para perwira TNI Angkatan Darat.
  • Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution menjadi target utama dalam upaya penculikan G30S/PKI namun berhasil selamat dari ancaman tersebut.
  • Nasution lahir pada 3 Desember 1918 di Kotanopan, Sumatera Utara, dan diterima sebagai kadet CORO pada 1940 sebelum menjadi letnan dua tentara kolonial Belanda.

RRI.CO.ID, Jakarta - Setiap 30 September, Bangsa Indonesia memperingati G30S/PKI, peristiwa kelam yang merenggut nyawa para perwira TNI Angkatan Darat pada 1965. Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution menjadi sasaran utama, tetapi berhasil lolos dari upaya penculikan.

Nasution lahir pada 3 Desember 1918 di Kotanopan, Sumatera Utara, dan awalnya berniat menjadi seorang guru. Menurut BPKD Jakarta, ia diterima sebagai kadet CORO pada 1940 dan menjadi letnan dua tentara kolonial Belanda.

Dilansir Kementerian Kebudayaan (Kemenbud), Nasution adalah perwira militer tertinggi kedua pada Revolusi Nasional setelah Jenderal Besar Soedirman. Ia memimpin Divisi Siliwangi di Jawa Barat dan menjadi panglima Markas Besar Komando Djawa pada 1948-1949.

Nasution dikenal sebagai pencetus konsep Perang Rakyat Semesta yang hingga kini masih memengaruhi strategi militer Indonesia. "Angkatan perang tidak boleh mendominasi proses politik," ujar Jenderal A.H Nasution, dikutip dari laman Kemenbud dalam pidato 1963, Rabu, 30 September 2026.

Pada 1962, Nasution menjadi Kepala Staf Angkatan Bersenjata dan posisinya di Angkatan Darat digantikan Ahmad Yani. Tiga tahun kemudian, pada 1965, ia menjadi sasaran utama penculikan para jenderal oleh Gerakan 30 September.

Dini hari 1 Oktober, pasukan dari empat kompi ABRI, termasuk unsur Cakrabirawa, mendatangi rumah para jenderal. Para ajudan Nasution berhasil dilucuti oleh pasukan yang menyerbu rumahnya di Jakarta.

Nasution berhasil meloloskan diri dengan memanjat tembok taman rumahnya menuju kediaman duta besar Irak di sebelahnya. Ia melompati dinding batas Kedutaan Besar Irak sebagai target utama para penculik saat itu.

Sang jenderal ditembaki saat memanjat tembok lalu jatuh dan mematahkan pergelangan kakinya. Ia berbaring diam di taman Kedutaan Besar Irak selama sekitar tiga jam hingga situasi dianggap aman.

Pasukan penculik justru membawa ajudan Nasution, Lettu Pierre Tendean, karena dikira mirip sang jenderal dalam gelap. Tendean kemudian dibunuh di Lubang Buaya bersama para jenderal yang diculik.

Putri Nasution, Ade Irma Suryani yang berusia lima tahun, tertembak dan meninggal lima hari kemudian. Project Leaflet mencatat enam jenderal tewas, dan jenazah mereka dibuang ke sumur tua di Lubang Buaya.

Sumur pembuangan jenazah itu ditemukan pada 3 Oktober 1965 dan dikenal dengan nama Sumur Lubang Buaya. Melansir laman BPKD Jakarta, para korban dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada 5 Oktober 1965 setelah penggalian.

Pilar Kebangsaan mencatat Nasution meninggal di Jakarta pada 6 September 2000 dalam usia 81 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dan pada 6 November 2002 dianugerahi gelar Pahlawan. (Nikita Yunistia Maryam)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....