Kembali Terpilih Jadi Rais Aam PBNU, Ini Profil Miftachul Akhyar

  • 31 Agt 2026 06:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Miftachul Akhyar kembali terpilih sebagai Rais Aam PBNU untuk periode 2026-2031 melalui mekanisme musyawarah Ahlul Halli Wal 'Aqdi.
  • Kepercayaan ini merupakan kesempatan kedua bagi Miftachul Akhyar setelah sebelumnya menjabat sebagai Rais Aam PBNU pada periode 2021-2026.
  • Pemilihan Rais Aam PBNU dilakukan melalui mekanisme musyawarah yang melibatkan Ahlul Halli Wal 'Aqdi, struktur pengambilan keputusan tertinggi dalam organisasi Nahdlatul Ulama.

RRI.CO.ID, Jombang - Miftachul Akhyar kembali terpilih sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmah 2026-2031. Ia kembali dipercaya memimpin jajaran Syuriyah PBNU melalui mekanisme musyawarah Ahlul Halli Wal ‘Aqdi (AHWA).

Kiai Miftachul Akhyar sebelumnya juga menjabat sebagai Rais Aam PBNU periode 2021-2026. Dengan kembali terpilihnya untuk periode berikutnya, kiprah dan perjalanan hidupnya di lingkungan

Miftachul Akhyar lahir pada 30 Juni 1953 dan merupakan putra Abdul Ghoni dan Siti Ashfiyah. Ayahnya merupakan pengasuh Pesantren Tahsinul Akhlak Rangkah.

Miftachul Akhyar merupakan anak kesembilan dari 13 bersaudara. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan pesantren dan mendapatkan pendidikan keagamaan dari keluarganya.

Setelah menimba Ilmu dan pendidikan, Miftach, sapaan akrabnya, kemudian berlanjut ke sejumlah pesantren. Sejak berusia delapan tahun, ia tercatat mulai menimba ilmu di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke sejumlah pesantren lain. Diantaranya adalah Pesantren Rejoso, Jombang, Pesantren Sidogiri, Pasuruan, dan Pesantren Al-Islah Soditan, Lasem.

Saat menimba ilmu di Pesantren Al-Islah, Miftach dikenal memiliki penguasaan ilmu agama yang baik sekaligus memiliki sifat tawadhu. Pengasuh pesantren tersebut, Masduqie Allasimy, kemudian menjadikannya sebagai menantu.

Ia juga disebut aktif mengikuti Majelis Ta'lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Saat itu ia masih mengajar di Malang.

Miftachul Akhyar memiliki perjalanan panjang dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Ia pernah menjabat Rais Syuriyah PCNU Kota Surabaya pada 2000-2005.

Selanjutnya, ia dipercaya menjadi Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur selama dua periode. Yaitu pada 2007-2013 dan 2013-2018.

Kariernya di tingkat PBNU kemudian berlanjut sebagai Wakil Rais Aam PBNU periode 2015-2020. Ia juga pernah menjalankan tugas sebagai Pj Rais Aam PBNU pada 2018-2020.

Miftah kemudian terpilih sebagai Rais Aam PBNU untuk masa khidmah 2021-2026. Dalam Muktamar ke-35 NU, ia kembali didaulat menduduki posisi tersebut untuk periode 2026-2031.

Selain kiprahnya di NU, Miftachul Akhyar juga pernah menjabat sebagai Ketua MUI periode 2020-2025, menggantikan Ma'ruf Amin. Ia juga dikenal sebagai sosok yang mengutamakan adab, termasuk ketika menerima tamu.

Ia disebut tidak segan melayani tamunya sendiri, seperti menyuguhkan dan menuangkan makanan atau minuman. Sikap tersebut disebut merupakan teladan yang diwariskan oleh ayahnya dalam memperlakukan tamu.

Kesederhanaan dan penghormatan terhadap tamu menjadi salah satu bagian dari keteladanan yang melekat pada dirinya. Miftachul Akhyar pernah masuk dalam daftar 500 Muslim berpengaruh di dunia yang dirilis The Royal Islamic Strategic Studies Center (RISSC), Amman, Yordania.

Dengan kembali terpilih sebagai Rais Aam PBNU, Miftachul Akhyar akan memimpin jajaran Syuriyah PBNU untuk masa khidmah 2026-2031. Bersamaan dengan kepemimpinan baru Tanfidziyah PBNU hasil Muktamar ke-35 NU.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....