Presiden Prabowo Buka Muktamar ke-35 NU, Ketahui Sejarah Singkat Berdirinya PBNU

  • 28 Agt 2026 14:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Presiden Prabowo Subianto resmi membuka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis, 27 Agustus 2026.
  • Momentum tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang NU yang telah hadir hampir satu abad di Indonesia.
  • NU berdiri pada 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 Hijriah.

RRI.CO.ID, Jombang - Presiden Prabowo Subianto resmi membuka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Muktamar itu diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis, 27 Agustus 2026.

Momentum tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang NU yang telah hadir hampir satu abad di Indonesia. Mengutip laman NU.or.id, NU berdiri pada 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 Hijriah.

Kelahirannya melalui rangkaian perjuangan, pemikiran, serta proses keagamaan dan kebangsaan yang melibatkan sejumlah ulama pesantren. Salah satu tokoh penting di balik proses tersebut adalah KH Abdul Wahab Chasbullah.

Sekitar 1924, Kiai Wahab Chasbullah menggagas pendirian sebuah jam'iyyah. Gagasan itu kemudian disampaikan kepada KH Muhammad Hasyim Asy'ari untuk mendapatkan persetujuan.

Namun, Kiai Hasyim tidak langsung menyetujui gagasan tersebut. Ia memilih melakukan shalat istikharah untuk meminta petunjuk sebelum mengambil keputusan.

Dalam proses tersebut, KH Cholil Bangkalan yang juga merupakan guru Kiai Hasyim dan Kiai Wahab memberikan sejumlah petunjuk. Petunjuk itu melalui santrinya, KH As'ad Syamsul Arifin.

Salah satu petunjuk disampaikan melalui sebuah tongkat yang diantar Kiai As'ad dari Bangkalan ke Tebuireng pada akhir 1924. Tongkat tersebut disertai ayat Al-Qur'an Surat Thaha ayat 17-23 yang mengisahkan mukjizat Nabi Musa.

Setahun kemudian, Kiai As'ad kembali diutus membawa tasbih dari Kiai Cholil Bangkalan kepada Kiai Hasyim Asy'ari. Tasbih tersebut disertai pesan berupa bacaan Ya Jabbar, Ya Qahhar yang diulang tiga kali.

Setelah menerima pesan tersebut, Kiai Hasyim Asy'ari kemudian menyatakan bahwa Allah SWT telah memberikan izin untuk mendirikan jam'iyyah. Selain proses spiritual tersebut, berdirinya NU juga berkaitan dengan persoalan keagamaan dan kondisi umat Islam pada masa itu.

Salah satunya muncul ketika Dinasti Saud di Arab Saudi berencana mengubah sejumlah kebijakan keagamaan di wilayah Hijaz. Para ulama pesantren menyoroti rencana pembatasan kebebasan bermazhab serta ancaman terhadap tradisi keagamaan yang berkembang di kalangan umat Islam.

KH Wahab Chasbullah kemudian memperjuangkan agar kebebasan bermazhab tetap dipertahankan. Ia mengusulkan agar delegasi yang dikirim ke Muktamar Dunia Islam di Makkah dapat menyampaikan aspirasi tersebut kepada Raja Ibnu Saud.

Upaya Kiai Wahab melalui sejumlah tokoh organisasi Islam saat itu tidak membuahkan hasil. Ia kemudian mengambil langkah dengan membentuk Komite Hijaz pada Januari 1926 dengan restu KH Hasyim Asy'ari.

Pada 31 Januari 1926, para ulama berkumpul di, Surabaya, membahas pengiriman delegasi ke Muktamar Dunia Islam di Makkah. KH Raden Asnawi Kudus kemudian disepakati sebagai delegasi Komite Hijaz.

Namun muncul persoalan baru. Siapa atau organisasi apa yang memiliki kewenangan mengirim delegasi tersebut?

Dari kebutuhan itulah kemudian lahir Jam'iyah Nahdlatul Ulama. Nama Nahdlatul Ulama sendiri diusulkan oleh KH Mas Alwi bin Abdul Aziz.

NU akhirnya berdiri pada 31 Januari 1926. Bertepatan dengan 16 Rajab 1344 Hijriah.

Sebelum NU berdiri, Kiai Wahab bersama para kiai pesantren telah membangun sejumlah wadah perjuangan. Di antaranya Tashwirul Afkar pada 1914 yang menjadi ruang diskusi dan pemikiran.

Kemudian berdiri Nahdlatul Wathan pada 1916 sebagai organisasi pergerakan. Serta Nahdlatut Tujjar pada 1918 yang bergerak dalam bidang ekonomi dan perdagangan.

Rangkaian tersebut menjadi bagian dari proses panjang yang kemudian mengantarkan lahirnya NU. Hal ini sekaligus menjadi respons terhadap persoalan keagamaan, peneguhan tradisi bermazhab, persoalan sosial masyarakat, serta kepentingan kebangsaan.

Sejak awal, NU berkembang dengan perhatian terhadap kehidupan keagamaan sekaligus kehidupan berbangsa. Hampir satu abad kemudian, NU terus berkembang menjadi salah satu organisasi keagamaan dan kemasyarakatan terbesar di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....