Muktamar NU ke-35: Mampukah NU Menjadikan Pesantren sebagai Kompas Abad Kedua?

  • 29 Agt 2026 01:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

Oleh:

Dr. Saifullah Isri, S.Pd.I., M.A.

Dosen Senior | Peneliti | Pemerhati Pendidikan dan Transformasi Sosial

Gus H. Fauzi Mahendra

Tokoh Millenial PBNU

Pengurus DPP PBNU

RRI.CO.ID, Jakarta - Ada ironi menarik menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Muktamar secara resmi digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, 27–31 Agustus 2026. Namun, sehari menjelang pembukaan, perhatian publik justru kembali tertuju kepada Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Di tempat inilah para kiai sepuh berkumpul.

Bukan untuk berebut posisi. Bukan untuk mengumumkan siapa yang harus menang.

Tetapi untuk mengingatkan satu hal yang jauh lebih mendasar:

Jaga marwah NU. Hindari tekanan. Jangan biarkan pertikaian merusak persaudaraan.

Pesan tersebut bukan sekadar pernyataan menjelang Muktamar. Ia seperti cermin yang memantulkan pertanyaan lebih besar:

Apakah NU masih menjadikan pesantren sebagai kompas moral dalam menentukan arah perjalanan organisasi?

Lirboyo Bukan Sekadar Nama

Lirboyo mungkin bukan lokasi Muktamar ke-35.

Tetapi secara simbolik, Lirboyo sedang memainkan peran yang tidak kalah penting: menjadi salah satu ruang moral tempat suara para masyayikh terdengar ketika NU sedang berada di persimpangan.

Pada 26 Agustus 2026, para kiai sepuh yang berkumpul di Lirboyo menyerukan agar proses Muktamar berlangsung bermartabat, demokratis, jujur, serta bebas dari tekanan dan intervensi.

Mereka juga mengingatkan muktamirin agar menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab dan menghindari provokasi maupun pertikaian. (NU Online)

Pesannya sederhana, tetapi sangat dalam:

Muktamar boleh menjadi arena memilih pemimpin, tetapi jangan berubah menjadi arena mempertaruhkan persaudaraan.

Di sinilah pesantren menemukan kembali fungsi historisnya. Pesantren bukan hanya tempat belajar kitab.

Pesantren adalah tempat belajar adab.

Dan dalam tradisi NU, adab sering kali lebih menentukan daripada sekadar kemenangan.

Pertanyaan Besarnya Bukan: Siapa yang Menang?

Muktamar ke-35 akan memasuki tahapan penting: pembahasan LPJ, komisi, rekomendasi, pemilihan AHWA, penetapan Rais Aam, hingga pemilihan Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031. (NU Online)

Tentu saja, publik ingin tahu siapa yang akan memimpin NU. Itu wajar.

Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting:

Untuk apa kekuasaan organisasi itu digunakan?

Sebab NU tidak sedang mencari sekadar seorang pemenang kontestasi.

NU sedang mencari kepemimpinan yang mampu mengubah perbedaan menjadi kekuatan, konflik menjadi rekonsiliasi, tradisi menjadi inovasi, dan jaringan besar Nahdliyin menjadi kekuatan nyata bagi kemaslahatan bangsa.

KH Ma’ruf Amin bahkan menekankan bahwa calon Ketua Umum PBNU harus memiliki kapasitas manajerial dan teknokratis serta mampu menjalankan fungsi al-islah. (NU Online)

Ini pesan yang sangat penting.

Kepemimpinan NU masa depan tidak cukup hanya saleh secara personal. Ia juga harus cakap mengelola organisasi yang semakin kompleks.

Dari Kitab Kuning Menuju Artificial Intelligence

Inilah tantangan baru NU. Dunia sedang berubah sangat cepat.

Artificial Intelligence atau AI mulai mengubah pendidikan, ekonomi, media, pekerjaan, bahkan cara manusia membangun opini. Generasi muda NU tumbuh bukan hanya di masjid dan pesantren.

Mereka hidup di TikTok.

Mereka belajar melalui YouTube.

Mereka berdiskusi melalui WhatsApp.

Mereka mendapatkan informasi dari algoritma.

Mereka berinteraksi dengan AI.

Pertanyaannya:

Apakah NU siap memasuki dunia tersebut tanpa kehilangan jati dirinya?

Jawabannya tidak cukup dengan mengatakan bahwa NU memiliki jutaan anggota.

Jumlah bukan otomatis menjadi kekuatan.

Kekuatan baru muncul ketika tradisi keilmuan pesantren bertemu dengan kecakapan teknologi. Karena itu, pesantren masa depan tidak boleh hanya melahirkan santri yang mampu membaca kitab.

Pesantren juga harus melahirkan:

ulama yang memahami teknologi,

intelektual yang memahami agama,

teknokrat yang berakhlak,

dan generasi digital yang memiliki sanad keilmuan. Inilah salah satu bentuk nyata bagaimana pesantren dapat menjadi kompas abad kedua NU.

Jangan Sampai Teknologi Menjadi Kompas

Namun ada paradoks.

Ketika teknologi berkembang sangat cepat, manusia justru semakin membutuhkan kompas moral.

AI dapat menghasilkan informasi.

Tetapi AI tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan.

Algoritma dapat menentukan apa yang kita lihat. Tetapi algoritma tidak boleh menentukan apa yang kita yakini.

Media sosial dapat membuat seseorang viral.

Tetapi viralitas tidak sama dengan kebenaran. Di sinilah pesantren memiliki modal yang sangat besar.

Pesantren memiliki tradisi tabayyun, talaqqi, sanad, adab, dan penghormatan terhadap ilmu. Nilai-nilai tersebut justru semakin penting di tengah banjir informasi.

Maka, masa depan NU tidak boleh memilih antara tradisi atau teknologi.

Pilihan yang lebih tepat adalah:

Tradisi yang mampu membimbing teknologi.

Pesantren Harus Naik Kelas

Selama ini pesantren sering ditempatkan sebagai objek kebijakan. Sudah waktunya pesantren menjadi subjek peradaban.

Pesantren harus berbicara tentang pendidikan.

Tentang ekonomi.

Tentang kesehatan.

Tentang lingkungan.

Tentang ketahanan pangan.

Tentang teknologi.

Tentang AI.

Tentang geopolitik.

Tentang ekonomi digital.

Tentang masa depan pekerjaan.

Tentang masa depan Indonesia 2045.

Bukan berarti pesantren harus kehilangan identitasnya. Justru sebaliknya.

Semakin luas persoalan yang dihadapi, semakin penting pesantren mempertahankan akar keilmuannya.

Karena dunia modern membutuhkan manusia yang bukan hanya pintar, tetapi juga memiliki arah moral.

Dari Muktamar Menuju Rekonsiliasi

Ada satu kata yang menurut saya harus menjadi roh Muktamar ke-35:

REKONSILIASI.

Rekonsiliasi bukan berarti semua orang harus berpikir sama. Tidak.

NU justru besar karena mampu mengelola perbedaan. Yang harus dihentikan adalah ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan.

Ketika kritik berubah menjadi fitnah.

Ketika pilihan politik berubah menjadi fanatisme kelompok. Ketika kontestasi berubah menjadi perebutan pengaruh.

Dan ketika kepentingan jangka pendek mengalahkan kepentingan jam’iyyah.

Karena itu, pesan para kiai sepuh dari Lirboyo menjelang Muktamar harus dibaca sebagai pesan moral untuk seluruh Nahdliyin, bukan hanya untuk para muktamirin. (NU Online)

Jangan bawa ego kelompok ke dalam rumah besar NU. Jangan Wariskan Konflik kepada Generasi berikutnya

Generasi muda NU sedang menunggu.

Mereka tidak terlalu peduli siapa yang paling keras berdebat di ruang elite.

Mereka ingin melihat apakah NU mampu memberikan jawaban atas problem hidup mereka.

Mereka bertanya:

Di mana NU ketika lapangan kerja semakin kompetitif?

Di mana NU ketika pendidikan semakin mahal?

Di mana NU ketika AI mengubah dunia kerja?

Di mana NU ketika hoaks membelah masyarakat?

Di mana NU ketika ekonomi digital menciptakan peluang sekaligus ketimpangan?

Di mana NU ketika anak-anak muda kehilangan arah?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat dijawab hanya dengan struktur organisasi.

Ia membutuhkan visi peradaban.

Muktamar Jangan Hanya Menghasilkan Ketua Umum

Inilah pesan paling penting.

Muktamar jangan hanya menghasilkan:

Ketua Umum baru.

Tetapi harus menghasilkan:

arah baru.

Jangan hanya menghasilkan:

kepengurusan baru.

Tetapi menghasilkan:

Energi baru.

Jangan hanya menghasilkan:

pemenang baru.

Tetapi menghasilkan:

persaudaraan baru.

Dan jangan hanya menghasilkan:

program lima tahunan.

Tetapi menghasilkan:

Roadmap NU menuju Indonesia 2045 dan peradaban global.

Pesantren sebagai Rumah Moral NU

Di sinilah kita dapat membaca makna penting dari keterlibatan pesantren dalam momentum Muktamar. Tambakberas menjadi tempat berlangsungnya Muktamar.

Lirboyo menjadi salah satu ruang tempat pesan moral para kiai sepuh disampaikan. Namun, makna yang lebih besar terletak pada posisi pesantren sebagai sumber orientasi bagi NU.

Pesantren bukan hanya latar tempat.

Pesantren adalah rumah moral, sumber keilmuan, dan ruang pembentukan karakter Nahdliyin. Muktamar membutuhkan ruang untuk bermusyawarah.

Tetapi NU juga membutuhkan kompas moral agar musyawarah tidak kehilangan arah. Karena itu, pertanyaan dalam judul tulisan ini bukan tentang pesantren mana yang menjadi tuan rumah Muktamar.

Pertanyaannya jauh lebih dalam:

Mampukah NU menjadikan nilai-nilai pesantren sebagai kompas dalam memasuki abad keduanya? Jika jawabannya iya, maka Muktamar ke-35 tidak boleh berhenti pada pergantian kepemimpinan. Ia harus menjadi momentum transformasi.

NU Abad Kedua Harus Berani Melangkah Lebih Jauh

NU memiliki sejarah yang panjang.

Tetapi sejarah bukan alasan untuk berhenti.

Justru sejarah adalah modal untuk melangkah lebih jauh.

NU abad kedua harus tetap berakar pada Aswaja, tetapi mampu berbicara dengan bahasa zaman. Tetap menghormati ulama, tetapi juga memberi ruang besar kepada intelektual dan profesional.

Tetap menjaga tradisi pesantren, tetapi tidak takut berhadapan dengan teknologi.

Tetap mencintai bangsa, tetapi mampu berkontribusi pada persoalan global.

Dan yang paling penting:

Tetap berbeda pendapat tanpa kehilangan persaudaraan. Muktamar ke-35 Adalah Ujian

Pada akhirnya, Muktamar ke-35 bukan hanya ujian bagi calon Ketua Umum.

Ia adalah ujian bagi seluruh NU.

Apakah kita mampu mengendalikan ego?

Apakah kita mampu menerima perbedaan?

Apakah kita mampu menghormati pilihan orang lain?

Apakah kita mampu menjaga marwah jam’iyyah?

Dan setelah semua proses politik organisasi selesai:

apakah kita masih mau duduk bersama?

Sebab NU yang besar bukan NU yang tidak pernah berbeda. NU yang besar adalah NU yang mampu mengubah perbedaan menjadi persatuan.

Maka, jika Muktamar ke-35 berlangsung di lingkungan pesantren dan suara para kiai sepuh kembali mengingatkan pentingnya marwah, persaudaraan, serta kedaulatan jam’iyyah, mari kita berharap satu hal:

Semoga Muktamar ke-35 tidak hanya memilih siapa yang akan memimpin NU, tetapi juga menentukan ke mana NU akan berjalan. Karena abad kedua membutuhkan NU yang bukan hanya besar jumlahnya.

Tetapi besar pengaruhnya, kuat keilmuannya, matang kepemimpinannya, modern teknologinya, mandiri ekonominya, dan luhur akhlaknya.

Dan jika pesantren benar-benar dijadikan kompas, maka NU tidak perlu takut memasuki masa depan. Sebab pesantren mengajarkan satu prinsip sederhana:

boleh berubah dalam cara, tetapi jangan kehilangan arah. Itulah barangkali makna terdalam Muktamar ke-35.

Bukan sekadar memilih pemimpin.

Bukan sekadar mempertahankan tradisi.

Tetapi menentukan bagaimana NU menjaga akar, membaca zaman, dan menyalakan kembali cahaya peradaban untuk abad keduanya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....