Bukan Sekadar Guru, Ini Perjuangan Ki Hajar Dewantara untuk Pendidikan Indonesia
- 16 Agt 2026 11:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional, jurnalis, pendidik, sekaligus pelopor pendidikan nasional
- Perjuangan Ki Hajar Dewantara pada awalnya tidak langsung dilakukan melalui sekolah, melainkan lewat tulisan dan aktivitas pergerakan. Salah satu tulisannya yang paling terkenal adalah “Als Ik Een Nederlander Was”
- Sistem Among yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara, menempatkan guru sebagai pamong membantu peserta didik berkembang sesuai tahapan pertumbuhan dan potensinya.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pendidikan bukan sekadar sarana untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun kualitas sebuah bangsa. Gagasan itulah, sejak masa penjajahan diperjuangkan Ki Hajar Dewantara ketika akses pendidikan bagi masyarakat pribumi masih dibatasi oleh sistem kolonial.
Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional, jurnalis, pendidik, sekaligus pelopor pendidikan nasional yang gagasannya memiliki pengaruh hingga saat ini.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, sistem pendidikan disusun secara bertingkat dan aksesnya tidak diberikan secara merata kepada seluruh masyarakat. Kondisi tersebut, mendorong Ki Hajar Dewantara melihat pendidikan sebagai jalan untuk membangun kesadaran, kemandirian, dan harga diri bangsa.
| Baca juga: Mengapa Surabaya Disebut Kota Pahlawan? |
Perjuangan Ki Hajar Dewantara pada awalnya tidak langsung dilakukan melalui sekolah, melainkan lewat tulisan dan aktivitas pergerakan. Salah satu tulisannya yang paling terkenal adalah “Als Ik Een Nederlander Was” atau “Seandainya Aku Seorang Belanda”.
Tulisan itu, diterbitkan pada 1913 sebagai kritik terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Tulisan tersebut, membuat pemerintah kolonial mengambil tindakan terhadap Ki Hajar Dewantara.
Pemerintah kolonial mengasingkan Ki Hajar Dewantara ke Belanda bersama dua rekannya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo. Namun, masa pengasingan justru dimanfaatkannya untuk memperdalam pengetahuan mengenai pendidikan dan pengajaran.
Sebelum, akhirnya ia kembali ke tanah air dan memusatkan perjuangannya pada bidang pendidikan. Sekembalinya ke Indonesia, Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta.
Lembaga tersebut, menjadi salah satu bentuk perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial. Sekaligus, menjadi ruang untuk memberikan pendidikan yang berorientasi pada kemerdekaan, kebangsaan, dan perkembangan kepribadian peserta didik.
Taman Siswa tidak hanya mengejar kemampuan akademik, tetapi juga menempatkan kebudayaan dan pembentukan karakter sebagai bagian penting dalam pendidikan. Sistem Among yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara, menempatkan guru sebagai pamong membantu peserta didik berkembang sesuai tahapan pertumbuhan dan potensinya.
Melalui pendidikan tersebut, Ki Hajar Dewantara ingin melahirkan manusia yang memiliki kemampuan berpikir sekaligus karakter dan rasa kebangsaan. Pendidikan bagi dirinya, merupakan proses membentuk manusia yang mampu berdiri secara mandiri dan bertanggung jawab.
Pemikiran tersebut kemudian dirangkum dalam semboyan yang sangat terkenal, yakni “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Semboyan tersebut, bermakna bahwa seorang pendidik ketika berada di depan harus memberikan teladan.
Lalu, ketika berada di tengah harus membangun semangat dan ketika berada di belakang harus memberikan dorongan. Bagian “Tut Wuri Handayani” kemudian menjadi salah satu simbol yang sangat lekat dengan dunia pendidikan Indonesia.
Gagasan tersebut, menggambarkan pandangan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidik tidak seharusnya hanya menjadi pihak yang memberikan perintah. Tetapi juga, membimbing dan mendorong peserta didik agar berkembang menjadi pribadi yang mandiri.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara juga menempatkan kebudayaan sebagai bagian penting dari pendidikan. Dalam konsep Taman Siswa, pendidikan diharapkan mampu berakar pada kebudayaan bangsa.
Setelah Indonesia merdeka, perjuangan Ki Hajar Dewantara tidak berhenti. Ia dipercaya menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan pertama Republik Indonesia, sementara gagasan pendidikannya terus menjadi bagian penting dalam perkembangan sistem pendidikan nasional.
Atas jasa-jasanya, pemerintah kemudian menetapkan Ki Hajar Dewantara sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 305 Tahun 1959. Pemerintah juga menjadikan tanggal kelahirannya, 2 Mei, sebagai Hari Pendidikan Nasional melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959, yang kemudian mengalami perubahan melalui Keppres Nomor 67 Tahun 1961.
Warisan terbesar Ki Hajar Dewantara bukan hanya sebuah lembaga pendidikan atau semboyan yang terpampang di lingkungan sekolah. Ia meninggalkan gagasan, bahwa pendidikan harus mampu membentuk manusia yang berpengetahuan, berkarakter, memiliki kebebasan berpikir, mencintai kebudayaan, serta tanggung jawab.
Sumber:
• Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Pusat Statistik
• Dokumen Keputusan Presiden Republik Indonesia terkait Ki Hajar Dewantara dan Hari Pendidikan Nasional.
• KPU Papua Pegunungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....