Mengapa Surabaya Disebut Kota Pahlawan?

  • 15 Agt 2026 22:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Surabaya diakui sebagai kota perdagangan sekaligus pusat sejarah perlawanan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
  • Julukan Surabaya sebagai kota bersejarah lahir dari rangkaian panjang perlawanan rakyat Surabaya yang menunjukkan keberanian dan dedikasi.
  • Identitas Surabaya tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi perdagangan, tetapi juga menyimpan warisan sejarah perjuangan kemerdekaan yang signifikan bagi Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta - Surabaya tidak hanya dikenal sebagai kota perdagangan, tetapi juga sebagai ruang sejarah yang merekam keberanian mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Julukan tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan lahir dari rangkaian panjang perlawanan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Melansir dari Pemerintah Kota Surabaya, sejarah kota ini sejak awal memang berkaitan erat dengan nilai-nilai kepahlawanan. Nama Surabaya terdiri atas kata 'sura' yang berarti berani dan 'baya' yang bermakna bahaya, menggambarkan keberanian menghadapi ancaman.

Nilai kepahlawanan tersebut antara lain tercermin dalam pertempuran Raden Wijaya melawan pasukan Mongol pimpinan Kubilai Khan pada 1293. Peristiwa tersebut begitu penting hingga tanggalnya, 31 Mei, kemudian diperingati sebagai hari jadi Kota Surabaya.

Selain memiliki sejarah kepahlawanan, Surabaya berkembang sebagai kota dagang karena letaknya strategis di pesisir utara Pulau Jawa. Pada masa Majapahit, Surabaya berperan sebagai gerbang utama aktivitas perdagangan kerajaan pada abad keempat belas.

Memasuki masa kolonial, posisi geografis Surabaya semakin strategis sehingga Belanda menjadikannya pelabuhan utama untuk mengumpulkan hasil perkebunan. Hasil produksi dari wilayah pedalaman Jawa Timur dikumpulkan di Surabaya sebelum dikirim menuju Eropa melalui jalur perdagangan.

Namun, citra Surabaya sebagai kota perjuangan semakin kuat ketika masyarakatnya menghadapi konflik bersenjata setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Heroisme 'Arek-Arek Suroboyo' kemudian mencapai puncaknya melalui pertempuran besar melawan pasukan Sekutu pada November 1945.

Melansir dari Universitas Brawijaya, rangkaian Pertempuran Surabaya bermula dari meningkatnya ketegangan antara rakyat Indonesia dan pasukan Sekutu. Pasukan Sekutu datang setelah Jepang menyerah dengan tugas melucuti tentara Jepang, tetapi kedatangan NICA memicu kecurigaan rakyat.

Ketegangan semakin meningkat setelah insiden perobekan bagian biru bendera Belanda di Hotel Yamato pada 19 September 1945. Peristiwa tersebut memperlihatkan kuatnya penolakan masyarakat Surabaya terhadap upaya mengembalikan kekuasaan kolonial setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Konflik kemudian berkembang menjadi pertempuran yang semakin besar hingga Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945. Kematian Mallaby membuat pihak Sekutu meningkatkan tekanan dan mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Surabaya untuk menyerahkan senjata.

Ultimatum tersebut memerintahkan rakyat Surabaya menghentikan perlawanan dan menyerahkan persenjataan sebelum batas waktu yang ditentukan Sekutu. Rakyat Surabaya menolak tuntutan tersebut karena menganggap menyerahkan senjata berarti membuka kembali peluang hilangnya kemerdekaan Indonesia.

Pada 10 November 1945, pasukan Sekutu akhirnya menggempur Surabaya melalui serangan besar dari berbagai arah untuk mematahkan perlawanan rakyat. Meski begitu, rakyat Surabaya tetap bertahan meskipun menghadapi kekuatan Sekutu yang jauh lebih besar.

Pertempuran tersebut kemudian dikenang sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah Proklamasi. Semangat perlawanan masyarakat Surabaya inilah yang kemudian melatarbelakangi penetapan 10 November sebagai Hari Pahlawan. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....