Kisah Cut Meutia, Pahlawan Perempuan asal Aceh yang Pantang Menyerah

  • 13 Agt 2026 15:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Cut Meutia meneruskan perjuangan melawan Belanda setelah suaminya, Teuku Cut Muhammad, gugur dalam perjuangan
  • Cut Meutia memimpin pasukan menuju Gayo dan tetap melawan meski tertembak hingga akhirnya gugur di Alue Kurieng
  • Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepada Cut Meutia melalui SK Presiden Nomor 107 Tahun 1964

RRI.CO.ID, Jakarta - Cut Meutia merupakan pejuang perempuan Aceh yang meneruskan perlawanan terhadap Belanda setelah suaminya, Teuku Cut Muhammad, gugur. Perjuangannya berlanjut hingga dirinya memimpin pasukan dan gugur dalam pertempuran di Alue Kurieng pada 1910.

Dilansir dari laman resmi Dinas Kebudayaan Yogyakarta, Cut Meutia disebut juga Cut Nyak Meutia dan merupakan putri Teuku Ben Wawud. Teuku Ben Wawud merupakan ulebalang Perak, Aceh, sementara Cut Meutia lahir pada 1870, tiga tahun sebelum Perang Aceh meletus.

Cut Meutia dikenal sebagai perempuan berparas cantik dengan kulit putih bersih dan tubuh tinggi semampai sejak masa mudanya. Menjelang dewasa, orang tua kedua pihak menjodohkannya dengan Teuku Syam Sareh tanpa terlebih dahulu meminta persetujuannya.

Setelah pernikahan berlangsung, Cut Meutia tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri sehingga hubungan tersebut akhirnya berakhir dengan perceraian. Cut Meutia kemudian menikah dengan Teuku Cut Muhammad, adik Syam Sareh, yang kemudian dikenal dengan gelar Teuku Cik Tunong.

Keduanya kemudian bergabung dalam perjuangan rakyat muslimin Aceh untuk menentang penjajahan Belanda yang berlangsung di wilayah tersebut. Teuku Cut Muhammad memilih perjuangan rakyat muslimin karena tidak terikat perjanjian pendek Belanda yang ditandatangani kakaknya.

Di kalangan masyarakat, Cut Muhammad lebih dikenal sebagai Cik Tunong, sedangkan wilayah utara dikenal dengan sebutan Cik Baroh. Pada 1901 hingga 1903, Cik Tunong memimpin pertempuran di wilayah Aceh Utara bagian timur melawan pasukan Belanda.

Cik Tunong yang diangkat Sultan ketika penguasa tersebut sudah menyerah kemudian bermufakat dengan Cut Meutia untuk meninggalkan hutan. Mereka bersama pasukan, terutama 12 orang rekannya, kemudian memutuskan kembali menuju desa.

Cik Tunong kemudian kembali ke Jrat Mayang, tempat kediaman Cut Nyak Aisah yang merupakan ibu angkatnya. Saat itu, Cut Meutia sedang hamil tua, mengalami sakit parah, bahkan dalam kondisi lumpuh akibat kekurangan makanan.

Dalam kondisi tersebut, Cut Meutia melahirkan anak kembar yang kemudian meninggal dunia setelah kelahirannya. Ia juga tidak sempat bertemu kembali dengan Cik Tunong setelah suaminya ditangkap dan ditembak mati Belanda.

Setelah Cik Tunong gugur, perjuangan Cut Meutia memasuki babak baru yang penuh penderitaan dan kembali melawan Belanda. Barisan perjuangan rakyat muslimin kemudian terdiri dari pasukan Pang Nanggroe, Teungku di Barat, Pang Amin, dan Muda Kari.

Cut Meutia bersama pasukannya kemudian berangkat menuju Gayo untuk bergabung dengan kelompok perjuangan lainnya di wilayah tersebut. Namun, rombongan mereka diserang pasukan Christoffel ketika berhenti memasak nasi di Alue Kurieng, persimpangan Krueng Peutoe.

Dalam pertempuran tersebut, Cut Meutia tertembak pada bagian kaki hingga terduduk di tanah, tetapi tetap melakukan perlawanan. Dengan pedang terhunus, Cut Meutia terus melawan hingga akhirnya gugur setelah ditembak pasukan musuh.

Sebelum gugur, Cut Meutia sempat berpesan kepada Teuku Syekh Buwah agar menyelamatkan putranya, Teuku Raja Sabi. Amanat tersebut kemudian dilaksanakan sehingga Teuku Raja Sabi selamat dan sempat mengalami masa kemerdekaan Indonesia.

Teuku Raja Sabi merupakan putra Cik Tunong dan Cut Meutia yang kemudian meninggal pada 1946 dalam peristiwa Revolusi Sosial di Sumatera Utara. Pemerintah Republik Indonesia kemudian memberikan penghargaan kepada Cut Meutia sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Gelar tersebut diberikan berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia Nomor 107 Tahun 1964 tertanggal 2 Mei 1964 kepada Cut Meutia. Penghargaan itu menjadi bentuk pengakuan negara terhadap perjuangannya melawan penjajahan Belanda di Aceh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....