Roehana Koeddoes: Perempuan yang Melawan Ketidakadilan dengan Pena

  • 14 Agt 2026 09:53 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Namanya Roehana Koeddoes, dikenang sebagai salah satu pelopor pers perempuan Indonesia dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2019.
  • Ketika ayahnya mendapat tugas di Alahan Panjang, Roehana mendapatkan kesempatan belajar dari lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Ia memperoleh pelajaran membaca, menulis, dan berhitung dari Adiesa, istri seorang pejabat setempat
  • Roehana kemudian menghubungi Datuk Sutan Maharadja, tokoh pers dan pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe di Padang. Dalam komunikasi tersebut, ia menyampaikan gagasan agar perempuan mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih luas.

RRI.CO.ID, Jakarta - Jauh sebelum kesetaraan gender menjadi pembahasan luas, seorang perempuan dari Koto Gadang, Sumatra Barat, sudah menggunakan tulisan untuk memperjuangkan hak perempuan. Namanya Roehana Koeddoes, dikenang sebagai salah satu pelopor pers perempuan Indonesia dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2019.

Roehana lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat, pada 20 Desember 1884 dengan nama Siti Rohana. Ia merupakan putri Mohammad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam.

Roehana tumbuh besar dalam keluarga yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan dan bacaan. Meski tidak mendapatkan pendidikan formal di sekolah, Roehana memperoleh kesempatan belajar melalui lingkungan keluarganya.

Sang ayah yang bekerja sebagai jaksa pemerintah Hindia Belanda, gemar membaca dan mengenalkan putrinya kepada berbagai buku. Buku-buku yang diperkenalkan kepada Roehana, mulai dari majalah, serta surat kabar sejak usia dini.

Kebiasaan membaca tersebut, membuat kemampuan Roehana berkembang sangat cepat. Ia belajar mengenal huruf Latin, Arab, dan Arab-Melayu sejak kecil, bahkan kemudian memiliki kemampuan berbahasa Inggris ketika masih muda.

Ketika ayahnya mendapat tugas di Alahan Panjang, Roehana mendapatkan kesempatan belajar dari lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Ia memperoleh pelajaran membaca, menulis, dan berhitung dari Adiesa, istri seorang pejabat setempat yang memperlakukannya seperti anak sendiri.

Buku kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan Roehana. Ayahnya berusaha menyediakan bacaan untuk putrinya, mulai dari cerita anak hingga berbagai terbitan dari luar daerah.

Alhasil, wawasan Roehana berkembang melampaui lingkungan tempat ia tinggal. Dari kebiasaan membaca itulah, muncul kesadaran Roehana mengenai ketimpangan akses pendidikan yang dialami perempuan.

Ia melihat, perempuan pribumi menghadapi keterbatasan kesempatan belajar. Sehingga, menurutnya pengetahuan harus menjadi jalan untuk meningkatkan kehidupan kaum perempuan.

Pada 11 Februari 1911, Roehana mendirikan Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Lembaga tersebut, menjadi ruang bagi perempuan memperoleh pendidikan sekaligus mempelajari berbagai keterampilan seperti membaca, menulis, berhitung, hingga menjahit.

Bagi Roehana, keterampilan bukan sekadar kemampuan untuk mengisi waktu. Pendidikan dan keterampilan dapat membantu perempuan menjadi lebih mandiri sekaligus meningkatkan kedudukan mereka dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Namun, Roehana menyadari bahwa perjuangan melalui pendidikan saja belum cukup. Ia kemudian, berusaha menggunakan media massa untuk menyebarkan gagasan mengenai pendidikan perempuan kepada masyarakat yang lebih luas.

Roehana kemudian menghubungi Datuk Sutan Maharadja, tokoh pers dan pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe di Padang. Dalam komunikasi tersebut, ia menyampaikan gagasan agar perempuan mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih luas.

Sekaligus, memperoleh ruang untuk menyampaikan pemikiran melalui surat kabar. Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Roehana ingin menghadirkan media yang secara khusus memberikan ruang bagi perempuan untuk menulis. Sekaligus, berbicara mengenai persoalan mereka dan menyampaikan gagasan kepada masyarakat.

Pada 1912, lahirlah Soenting Melajoe, surat kabar yang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah pers perempuan di Indonesia. Media tersebut, memberikan ruang bagi tulisan perempuan sekaligus menjadi sarana untuk menyuarakan persoalan pendidikan, kehidupan sosial, dan kedudukan perempuan.

Melalui tulisan-tulisannya, Roehana tidak sekadar menyampaikan informasi. Ia menggunakan, jurnalistik sebagai alat kritik sosial untuk mempertanyakan kondisi perempuan.

Ia menilai, banyak perempuan masih terbelenggu oleh keterbatasan pendidikan dan berbagai praktik sosial yang tidak adil. Isu yang dibicarakannya bahkan menyentuh persoalan yang sangat sensitif pada zamannya.

Roehana turut menyuarakan pandangannya mengenai poligami serta berbagai persoalan yang menyangkut posisi perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Keberanian tersebut membuat gagasan Roehana terasa melampaui zamannya.

Perjuangan Roehana tidak berhenti di Koto Gadang. Ia kemudian memiliki kiprah dalam dunia pers di sejumlah daerah dan terus menggunakan tulisan sebagai sarana untuk menyebarkan gagasan.

Roehana juga memiliki hubungan dengan sejumlah tokoh pers pada masa Hindia Belanda. Kiprahnya menunjukkan, dunia jurnalistik pada masa tersebut tidak sepenuhnya menjadi ruang laki-laki karena perempuan juga mulai mengambil posisi sebagai penulis dan pengelola media.

Karena perjuangannya, Roehana kemudian dikenal dengan berbagai julukan, salah satunya “Kartini dari Sumatra.” Julukan tersebut, muncul karena terdapat persamaan semangat antara keduanya dalam memperjuangkan pendidikan dan kemajuan perempuan.

Roehana menjalani hidup dalam masa ketika perempuan menghadapi banyak pembatasan sosial. Namun, ia memilih melawan keterbatasan tersebut bukan dengan kekerasan, melainkan melalui pendidikan, keterampilan, tulisan, dan pers.

Puluhan tahun setelah perjuangannya, negara akhirnya memberikan pengakuan atas jasa Roehana Koeddoes. Pada 2019, Presiden Joko Widodo menetapkannya sebagai salah satu Pahlawan Nasional bersama sejumlah tokoh lainnya.

Penetapan tersebut, menjadi pengakuan negara terhadap perjalanan panjang Roehana dalam memperjuangkan pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan perkembangan pers Indonesia. Pemerintah Provinsi Sumatra Barat sendiri sebelumnya telah mengusulkan Roehana sebagai calon Pahlawan Nasional.

Jejak Roehana bahkan pernah mendapat perhatian dari Google melalui Google Doodle yang menampilkan ilustrasi dirinya. Penghormatan tersebut menjadi pengingat bahwa gagasan seorang perempuan dari Koto Gadang yang hidup lebih dari satu abad lalu masih relevan hingga sekarang.

Roehana Koeddoes akhirnya tidak hanya tercatat sebagai tokoh perempuan dalam sejarah pers Indonesia. Ia meninggalkan warisan penting bahwa pena, pendidikan, dan pengetahuan dapat menjadi kekuatan untuk mengubah cara masyarakat memandang perempuan.

Sumber:

Sekretariat Negara Republik Indonesia — mengenai penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional 2019.

Kementerian Sosial RI — informasi mengenai pengusulan dan penetapan Pahlawan Nasional.

Indonesia.go.id — biografi dan kiprah Roehana Koeddoes.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat — informasi sejarah dan pengusulan Roehana Koeddoes sebagai Pahlawan Nasional.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia — literatur mengenai sejarah pers Indonesia dan Soenting Melajoe.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....