Profil Cut Nyak Dien, Pahlawan Perempuan yang Gigih Melawan Belanda

  • 12 Agt 2026 10:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Cut Nyak Dien terlibat langsung dalam perjuangan bersenjata dan memimpin perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda
  • Meski kondisi fisiknya melemah, Cut Nyak Dien tetap memimpin perjuangan gerilya dan tidak menyerah menghadapi penjajahan
  • Cut Nyak Dien wafat dalam pengasingan di Sumedang pada 1908 dan kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia

RRI.CO.ID, Jakarta - Cut Nyak Dien merupakan pahlawan nasional perempuan asal Aceh yang dikenal karena perjuangannya memimpin perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang memiliki latar belakang keagamaan kuat di wilayah Aceh Besar.

Dilansir dari laman resmi Taman Edukasi Kebangsaan Universitas Jember, Cut Nyak Dien berasal dari keluarga bangsawan agamis di Aceh Besar. Ketika berusia 12 tahun, ia menikah dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga yang juga berasal dari kalangan bangsawan.

Cut Nyak Dien kemudian terlibat langsung dalam perjuangan bersenjata bersama para pejuang Aceh menghadapi pasukan Belanda. Sebagai perempuan, ia tidak gentar memimpin perlawanan dan mampu membangkitkan semangat perjuangan rakyat Aceh.

Cut Nyak Dien mulai mengangkat senjata pada 1880 setelah suaminya, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, gugur dalam pertempuran. Teuku Cek Ibrahim Lamnga meninggal pada 29 Juni 1878, sehingga Cut Nyak Dien bertekad menghancurkan Belanda.

Pada 1880, Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Umar dan kemudian mempersilahkannya ikut berjuang menghadapi Belanda. Kehadirannya dalam perjuangan turut meningkatkan semangat rakyat Aceh, sementara perlawanan kemudian dilanjutkan menggunakan strategi gerilya.

Perjuangan gerilya yang berlangsung terus-menerus membuat kondisi fisik Cut Nyak Dien semakin menurun dari waktu ke waktu. Meski tidak lagi mampu bergerak cepat, ia tetap memimpin perlawanan rakyat Aceh dari medan perjuangan.

Kondisi fisiknya yang melemah tidak membuat Cut Nyak Dien menghentikan perjuangannya menghadapi pasukan Belanda. Ia bahkan tetap berada di medan pertempuran dengan bantuan tandu ketika kekuatannya semakin terbatas.

Belanda akhirnya berhasil menangkap dan mengasingkan Cut Nyak Dien ke Sumedang, Jawa Barat, tempat ia kemudian mengajarkan ilmu agama. Cut Nyak Dien wafat pada 6 November 1908, sedangkan makamnya baru ditemukan kembali pada 1959.

Presiden Soekarno menetapkan Cut Nyak Dien sebagai Pahlawan Nasional melalui keputusan presiden yang mengakui jasa perjuangannya. Rumah Cut Nyak Dien di Aceh kemudian dibangun kembali pemerintah daerah sebagai simbol perjuangannya di Tanah Rencong.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....