Dari Putri Bangsawan jadi Panglima Perang, Kisah Heroik Pocut Baren di Aceh
- 12 Agt 2026 10:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nama Pocut Baren menjadi salah satu bagian penting, dalam sejarah panjang perjuangan rakyat Aceh melawan kolonialisme Belanda.
- Pocut Baren merupakan pejuang perempuan dari Tungkop, wilayah Aceh Barat, dan lahir dari keluarga bangsawan. Ayahnya, Teuku Cut Amat, merupakan seorang uleebalang yang memiliki pengaruh di wilayah tersebut.
- Ketika dewasa, Pocut Baren menikah dengan seorang Kejruen yang juga menjabat sebagai uleebalang dan panglima perang di Woyla.
RRI.CO.ID, Jakarta - Nama Pocut Baren menjadi salah satu bagian penting, dalam sejarah panjang perjuangan rakyat Aceh melawan kolonialisme Belanda. Turun ke medan perang, Pocut Baren turut memimpin gerilya yang membuat pasukan Belanda kesulitan menghadapi perlawanan dari pedalaman Aceh.
Pocut Baren merupakan pejuang perempuan dari Tungkop, wilayah Aceh Barat, dan lahir dari keluarga bangsawan. Ayahnya, Teuku Cut Amat, merupakan seorang uleebalang yang memiliki pengaruh di wilayah tersebut.
Meski memiliki kehidupan yang berkecukupan, tidak membuat Pocut Baren memilih untuk hidup dalam kemewahan. Sejak masih kecil, Pocut Baren telah hidup dalam suasana Perang Aceh yang berkepanjangan.
Pocut Baren bahkan disebut, telah mengikuti ayahnya ke sejumlah medan pertempuran ketika usianya masih sangat muda. Sehingga, suara tembakan dan dentuman meriam menjadi bagian dari kehidupan yang membentuk keberanian serta ketangguhannya.
Pendidikan agama yang diterimanya sejak kecil juga ikut membentuk karakter Pocut Baren. Ia dikenal sebagai perempuan yang memiliki keteguhan prinsip untuk mempertahankan agama, tanah kelahiran, dan masyarakatnya.
Ketika dewasa, Pocut Baren menikah dengan seorang Kejruen yang juga menjabat sebagai uleebalang dan panglima perang di Woyla. Pernikahan tersebut tidak membuatnya menjauh dari perjuangan, karena ia justru ikut mendampingi suaminya dalam menghadapi pasukan Belanda.
Tragedi kemudian terjadi ketika sang suami gugur dalam pertempuran. Setelah kehilangan suaminya, Pocut Baren justru mengambil alih kepemimpinan dan meneruskan perlawanan terhadap Belanda.
Pocut Baren kemudian tampil sebagai pemimpin pasukan gerilya di wilayah Aceh Barat. Ia mengorganisasi kembali kekuatan pasukannya, menggunakan medan hutan serta pegunungan sebagai bagian dari strategi untuk menghadapi tentara Belanda.
Salah satu lokasi penting dalam perjuangannya adalah kawasan Gunong Mancang. Di tempat tersebut, Pocut Baren menjadikan sebuah gua sebagai basis pertahanan yang sulit dijangkau pasukan Belanda.
Dari markas tersebut, pasukannya melakukan serangan mendadak terhadap posisi dan patroli Belanda. Strategi gerilya semacam ini, membuat pasukan kolonial kesulitan menemukan sekaligus menghancurkan kekuatan Pocut Baren.
Perlawanan yang dilakukan Pocut Baren bahkan membuat Belanda harus mengerahkan kekuatan tambahan untuk memburu kelompoknya. Medan yang berat dan strategi pertahanan yang digunakan pasukan Aceh, membuat pasukan kolonial Belanda kesulitan.
Ketika serangan langsung tidak membuahkan hasil, Belanda kemudian menggunakan cara lain untuk menghancurkan pertahanan Pocut Baren. Sejumlah sumber sejarah lokal menyebut, Belanda mengalirkan sekitar 1.200 kaleng minyak tanah menuju kawasan gua sebelum kemudian membakarnya.
Serangan tersebut, menyebabkan markas pertahanan di Gunong Mancang terbakar dan menimbulkan banyak korban. Dalam peristiwa itu, ayah Pocut Baren, Teuku Cut Amat, juga disebut menjadi salah satu korban yang gugur.
Meski markasnya hancur, Pocut Baren tidak begitu saja menyerah. Ia berhasil keluar dari kawasan tersebut dan kembali membangun kekuatan untuk melanjutkan perlawanan terhadap Belanda.
Namun, perjuangan tersebut akhirnya harus dibayar mahal. Dalam sebuah pertempuran, Pocut Baren terkena tembakan pada bagian kaki dan kemudian ditangkap setelah kondisinya semakin parah.
Luka tersebut kemudian mengalami infeksi dan membuat kakinya harus diamputasi. Kehilangan salah satu kaki ternyata tidak menghapus semangat perjuangannya.
Pocut Baren, ternyata masih memiliki cara lain untuk mempertahankan pengaruhnya di tengah masyarakat. Selain dikenal sebagai pejuang, Pocut Baren juga merupakan seorang penulis syair dan pantun.
Karya-karyanya ditulis menggunakan bahasa Aceh serta huruf Melayu-Arab atau Jawi, dan sejumlah karya tersebut kemudian diterjemahkan oleh penulis Belanda. Serta, disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden.
Salah satu syair yang dikaitkan dengan Pocut Baren berbunyi:
“Ie Krueng Woyla ceukoelikat Engkot jilumpat jisangka ie tuba Seungap di yub seungap di rambut Meurubok Barat buka suara”
Syair tersebut menggambarkan suasana Sungai Woyla dan kehidupan yang dijalani Pocut Baren di tengah perjuangan. Karya-karya semacam ini, menunjukkan bahwa perjuangannya tidak hanya dilakukan dengan senjata, tetapi juga melalui kekuatan kata-kata dan sastra.
Setelah mengalami amputasi, Pocut Baren kemudian dikembalikan ke kampung halamannya di Tungkop dan dikenal sebagai uleebalang. Jejak kehidupannya masih dikenang masyarakat Aceh, termasuk melalui makamnya di Gampong Tungkop, Kecamatan Sungai Mas, Aceh Barat.
Pocut Baren meninggalkan kisah perjuangan yang berbeda dari banyak tokoh perempuan dalam sejarah Indonesia. Ia pernah hidup sebagai perempuan bangsawan.
Ia memilih meninggalkan kenyamanan untuk memimpin perlawanan dan bertahan di tengah hutan. Bahkan, rela kehilangan satu kaki demi bisa mengusir pasukan kolonial Belanda.
Sumber
• Nuraini H. A. Mannan, Peran Ulama Inong Pocut Baren dalam Pendidikan Perempuan di Aceh, Takammul: Jurnal Studi Gender dan Islam Serta Perlindungan Anak, Vol. 12 No. 2 (2023). UIN Ar-Raniry Journal Portal
• Pemerintah Aceh, artikel mengenai ziarah makam Pocut Baren dan keteladanan perjuangannya. Dinas Komunikasi dan Informatika Aceh
• Badan Kesbangpol Kota Banda Aceh, Di Balik Nama Jalan Pocut Baren.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....