Sang Srikandi dari Nusa Laut: Perjuangan Martha Christina Tiahahu Melawan Belanda

  • 12 Agt 2026 09:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Jauh sebelum namanya dikenal sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, Martha Christina Tiahahu hanyalah seorang gadis muda dari Nusa Laut, Maluku. Sejak usia belia, Martha Christina Tiahahu memilih jalan yang tidak biasa.
  • Martha Christina Tiahahu memilih meninggalkan, kehidupan sebagai remaja dan terjun langsung ke medan perjuangan melawan penjajahan Belanda.
  • Sang ayah merupakan seorang kapitan sekaligus tokoh penting dalam perlawanan rakyat Nusa Laut. Sementara, ibunya juga berasal dari keluarga yang memiliki garis keturunan kapitan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Jauh sebelum namanya dikenal sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, Martha Christina Tiahahu hanyalah seorang gadis muda dari Nusa Laut, Maluku. Sejak usia belia, Martha Christina Tiahahu memilih jalan yang tidak biasa.

Martha Christina Tiahahu memilih meninggalkan, kehidupan sebagai remaja dan terjun langsung ke medan perjuangan melawan penjajahan Belanda. Martha Christina Tiahahu lahir sekitar tahun 1800 di Nusa Laut, Kepulauan Maluku, dari pasangan Paulus Tiahahu dan Sina.

Sang ayah merupakan seorang kapitan sekaligus tokoh penting dalam perlawanan rakyat Nusa Laut. Sementara, ibunya juga berasal dari keluarga yang memiliki garis keturunan kapitan.

Semangat perlawanan itu, tumbuh dalam diri Martha Christina Tiahahu sejak kecil. Tepatnya, ketika Paulus Tiahahu menerima kabar mengenai ajakan Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy untuk melawan Belanda.

Kala itu, Martha Christina Tiahahu diam-diam menyimak pembicaraan ayahnya bersama para kapitan lainnya. Keinginan untuk ikut berjuang semakin kuat, ketika Paulus bersiap menuju Saparua pada Mei 1817.

Martha Christina Tiahahu meminta izin agar diperbolehkan mendampingi ayahnya, meskipun sempat beberapa kali dilarang. Mengingat, usia Martha Christina Tiahahu saat itu masih sangat muda dan medan perang adalah tempat berbahaya.

Namun, Martha Christina Tiahahu tidak menyerah pada larangan tersebut. Pada akhirnya, Paulus mengizinkan putrinya ikut dalam perjuangan melawan Belanda.

Martha Christina Tiahahu kemudian, bergabung dengan barisan rakyat yang melakukan perlawanan terhadap Belanda. Dalam perjuangan tersebut, Paulus Tiahahu kemudian dipercaya sebagai Kapitan Nusa Laut oleh Pattimura.

Martha Christina Tiahahu pun berada di tengah barisan pejuang dengan membawa senjata tradisional berupa tombak dan parang. Perlawanan rakyat kemudian menjalar ke berbagai wilayah di Maluku.

Salah satu pertempuran yang dikenang, penyerangan terhadap Benteng Beverwijk di Nusa Laut. Tepatnya, ketika pasukan rakyat berusaha menggempur pertahanan Belanda.

Keberanian Martha Christina Tiahahu dalam pertempuran tersebut, mendapat perhatian dari penulis Belanda. Dalam catatan yang dikutip Museum Benteng Vredeburg, keberaniannya digambarkan sebagai bagian dari kisah tentang seorang gadis yang memiliki keberanian.

Perlawanan Martha Christina Tiahahu terhadap Belanda, tidak berhenti di Benteng Beverwijk. Dalam pertempuran di Ulat dan Ouw, ia kembali menghadapi pasukan Belanda dan terus memberikan perlawanan meskipun situasi semakin sulit.

Ketika persenjataan yang dimiliki pasukan rakyat semakin terbatas, Martha Christina Tiahahu bahkan disebut menggunakan batu untuk menyerang lawan. Pertempuran tersebut, berlangsung sengit dan menewaskan Mayor Mayer dari pihak Belanda, sebelum pasukan Belanda kembali melancarkan serangan besar-besaran.

Pasukan rakyat akhirnya terdesak, setelah Belanda menggempur pertahanan mereka dengan persenjataan yang lebih kuat. Satu demi satu tokoh perlawanan kemudian ditangkap, termasuk Paulus Tiahahu dan Martha Christina Tiahahu.

Dalam proses pengadilan, Martha Christina Tiahahu tidak langsung dijatuhi hukuman mati, karena usianya masih sangat muda. Berbeda dengan sang ayah, Paulus Tiahahu dijatuhi hukuman mati dan akhirnya dieksekusi oleh Belanda di Nusa Laut pada November 1817.

Kematian sang ayah menjadi pukulan berat bagi Martha Christina Tiahahu. Namun, kisah perjuangannya belum berakhir, karena ia kemudian dibawa bersama para tawanan lainnya menuju Pulau Jawa.

Di Pulau Jawa, Martha Christina Tiahahu menjalani pembuangan dan melakukan kerja paksa di perkebunan kopi. Pada akhir 1817, Martha Christina Tiahahu bersama puluhan tawanan lainnya diangkut menggunakan Kapal Eversten menuju Jawa.

Dalam perjalanan tersebut, kondisi kesehatan Martha Christina Tiahahu semakin memburuk setelah ia melakukan mogok makan dan menolak pengobatan. Pada 2 Januari 1818, Martha Christina Tiahahu akhirnya meninggal dunia dalam perjalanan.

Jenazahnya tidak dibawa ke daratan, melainkan dihanyutkan ke Laut Banda. Kehidupan Martha Christina Tiahahu memang singkat, tetapi keberaniannya meninggalkan jejak panjang dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan Martha Christina Tiahahu sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 012/TK/Tahun 1969 pada 20 Mei 1969. Pengakuan tersebut menegaskan bahwa perjuangannya, meskipun berlangsung ketika usianya masih sangat muda, menjadi bagian penting dari sejarah perlawanan rakyat Indonesia.

Sumber:

Vredeburg (Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, khususnya tulisan “Martha Christina Tiahahu, Srikandi Belia dari Nusa Laut”)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....