Tumpeng dan Makna Filosofi di Balik Perayaan Kemerdekaan

  • 12 Agt 2026 01:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nasi tumpeng adalah hidangan istimewa yang berbentuk mengerucut seperti gunung dan dikelilingi berbagai lauk pauk beraneka warna.
  • Setiap Agustus, nasi tumpeng muncul dalam perayaan kemerdekaan Indonesia sebagai simbol kebersamaan dan nilai-nilai budaya nasional.
  • Sajian ini ditempatkan di atas tampah dan dihiasi dengan sayuran, telur, ayam, ikan, tempe, dan pelengkap lainnya yang mencerminkan kekayaan kuliner Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta: Nasi tumpeng kerap hadir dalam perayaan kemerdekaan setiap Agustus sebagai simbol syukur dan kebersamaan. Hidangan berbentuk kerucut itu tidak hanya menjadi sajian istimewa, tetapi juga memiliki sejarah dan filosofi dalam kehidupan masyarakat.

Nasi tumpeng dibuat berbentuk mengerucut seperti gunung dan dikelilingi berbagai lauk. Sajian tersebut umumnya ditempatkan di atas tampah dan dilengkapi sayuran, telur, ayam, ikan, tempe, serta pelengkap lainnya.

Dalam tradisi Jawa, tumpeng dikenal dalam berbagai acara selamatan dan ungkapan syukur. Makna tumpeng kemudian berkembang mengikuti konteks sosial dan kepercayaan masyarakat.

Melansir Raminten, bentuk kerucut tumpeng memiliki filosofi gunung suci sebagai simbol tempat sakral dalam kebudayaan Jawa. Bentuk tersebut juga menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan serta harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Dalam perkembangannya, tumpeng digunakan dalam berbagai tradisi masyarakat Muslim di Jawa. Melansir Nahdlatul Ulama, tumpeng kemudian dimaknai sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tumpeng juga hadir dalam berbagai perayaan, seperti kelahiran, pernikahan, syukuran, dan kegiatan masyarakat. Tradisi tersebut membuat tumpeng tidak hanya berfungsi sebagai makanan, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial dan budaya.

Saat perayaan 17 Agustus, tumpeng kerap disajikan dalam kegiatan syukuran dan makan bersama. Kemerdekaan menjadi momentum untuk mensyukuri kebebasan sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat.

Selain bentuknya, warna nasi dan lauk yang mengelilingi tumpeng juga memiliki simbol dalam tradisi masyarakat. Melansir Kementerian Agama, nasi kuning sering dimaknai sebagai lambang kemakmuran, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Dalam perayaan kemerdekaan, masyarakat dapat membuat tumpeng dengan berbagai kreasi, termasuk dekorasi bertema merah putih. Meski penyajiannya semakin modern, tumpeng tetap membawa pesan syukur, kebersamaan, harapan, dan penghargaan terhadap kehidupan. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....