Gugur Melawan VOC di Wajo, Begini Kisah Sultan Aji Muhammad Idris dari Kutai

  • 09 Agt 2026 11:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nama Sultan Aji Muhammad Idris tercatat dalam sejarah Indonesia, sebagai salah satu tokoh dari Kalimantan Timur. Pada abad ke-18, Sultan Aji berjuang melawan kekuatan kolonial Belanda di wilayah Kalimantan Timur.
  • Sultan ke-14 Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura itu, kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Pemberian gelar pahlawan itu, diberikan oleh Presiden Joko Widodo pada 10 November 2021.
  • Sultan Aji juga memiliki hubungan keluarga dengan bangsawan Wajo melalui pernikahannya dengan keturunan La Madukelleng. Hubungan tersebut, kemudian berkembang menjadi sebuah aliansi politik dan perjuangan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Nama Sultan Aji Muhammad Idris tercatat dalam sejarah Indonesia, sebagai salah satu tokoh dari Kalimantan Timur. Pada abad ke-18, Sultan Aji berjuang melawan kekuatan kolonial Belanda di wilayah Kalimantan Timur.

Sultan ke-14 Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura itu, kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Pemberian gelar pahlawan itu, diberikan oleh Presiden Joko Widodo pada 10 November 2021.

Penganugerahan tersebut diberikan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 109/TK/Tahun 2021 tertanggal 25 Oktober 2021. Pemerintah menetapkan, Sultan Aji sebagai Pahlawan Nasional bersama tiga tokoh lainnya atas jasa dan perjuangannya bagi bangsa Indonesia.

Kisah Perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris

Kisah perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Ia menjadi bagian penting, dari sejarah perubahan kerajaan tersebut.

Sultan Aji merupakan figur yang mampu memperkuat hubungan Kutai dengan jaringan kerajaan dan kesultanan di Sulawesi Selatan. Pada masa pemerintahannya, pengaruh Islam di lingkungan Kesultanan Kutai Kartanegara semakin kuat.

Sejumlah sumber sejarah mencatat, Sultan Aji sebagai raja Kutai Kartanegara pertama yang menggunakan gelar dan nama bernuansa Islam. Sehingga, sosoknya menjadi salah satu penanda penting dalam perkembangan Kesultanan Kutai.

Sultan Aji juga memiliki hubungan keluarga dengan bangsawan Wajo melalui pernikahannya dengan keturunan La Madukelleng. Hubungan tersebut, kemudian berkembang menjadi sebuah aliansi politik dan perjuangan.

Tepatnya, ketika konflik antara kerajaan-kerajaan lokal di Sulawesi Selatan dengan VOC Belanda semakin memanas. Saat VOC memperluas pengaruhnya di Sulawesi Selatan, Sultan Aji tidak memilih untuk tinggal di lingkungan istana Kutai.

Ia justru, berangkat menuju Wajo untuk membantu perjuangan keluarga dan masyarakat Bugis menghadapi kekuatan VOC. Keputusan tersebut, menunjukkan bahwa perjuangannya tidak hanya berorientasi pada kepentingan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Ia melihat ancaman VOC sebagai persoalan yang lebih luas. Sehingga, membangun hubungan dan kerja sama dengan kekuatan lokal di Sulawesi Selatan untuk menghadapi ekspansi kolonial Belanda.

Sultan Aji kemudian, terlibat langsung dalam perlawanan bersenjata di tanah Wajo. Ia bersama pasukan dan masyarakat Bugis menghadapi VOC dalam pertempuran yang berlangsung di tengah perebutan pengaruh di kawasan Sulawesi Selatan.

Sejumlah sumber mencatat, Sultan Aji turut memimpin serangan terhadap kekuatan VOC di kawasan Makassar pada pertengahan dekade 1730-an. Catatan tersebut, menggambarkan keberaniannya mengambil posisi langsung di garis depan dalam menghadapi kekuatan kolonial.

Namun, keputusan Sultan Aji untuk meninggalkan Kutai juga menimbulkan konsekuensi besar bagi pemerintahannya. Ketika sang sultan berada di medan perjuangan, pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara untuk sementara harus dijalankan oleh Dewan Perwalian.

Perjuangan Sultan Aji, akhirnya berakhir di tanah Wajo. Ia gugur dalam pertempuran melawan VOC pada 1739 dan kemudian dimakamkan di Wajo, Sulawesi Selatan, di kawasan pemakaman keluarga bangsawan Wajo.

Kematian sang sultan, kemudian memicu persoalan suksesi di Kesultanan Kutai Kartanegara. Ketika putra mahkota Aji Imbut masih berusia muda, Aji Kado mengambil alih kekuasaan dan kemudian menggunakan gelar Sultan Aji Muhammad Aliyeddin.

Aji Imbut yang kelak dikenal sebagai Sultan Aji Muhammad Muslihuddin kemudian kembali ke Kutai setelah dewasa. Dengan dukungan kerabat istana dan kelompok Bugis yang tetap setia kepada mendiang Sultan Aji, Aji Imbut akhirnya dinobatkan sebagai sultan.

Dua tahun kemudian, pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara dipindahkan dari Pemarangan ke Tepian Pandan. Kawasan tersebut, kemudian dikenal dengan nama Tangga Arung dan dalam perkembangannya lebih populer dengan sebutan Tenggarong.

Warisan Sultan Aji, tidak berhenti pada sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara. Perjuangannya juga menjadi bagian dari sejarah hubungan antara Kutai di Kalimantan Timur dan kerajaan-kerajaan Bugis di Sulawesi Selatan.

Sultan Aji menunjukkan, perlawanan terhadap kolonialisme pada masa itu tidak selalu berlangsung dalam batas wilayah satu kerajaan. Hubungan keluarga, kepentingan politik, solidaritas antarkerajaan, dan keberanian seorang pemimpin dapat membentuk jaringan perlawanan yang melintasi pulau.

Bagi Kalimantan Timur, penghargaan itu menjadi pengakuan nasional terhadap sosok yang selama berabad-abad hidup dalam ingatan sejarah Kutai. Sementara bagi Indonesia, kisah Sultan Aji memperlihatkan bahwa perjuangan melawan kekuatan kolonial lahir dari berbagai penjuru Nusantara.

Sumber:

• Sekretariat Negara RI

• Garuda/Kemdikbud

• ANTARA

• Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....