Pertempuran Medan Area, Perlawanan Sengit Rakyat Indonesia Lawan Sekutu-NICA
- 06 Agt 2026 10:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pertempuran Medan Area menjadi salah satu babak penting, dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.
- Perlawanan ini, respons atas upaya Sekutu yang diboncengi Nederlandsch Indische Civiele Administratie (NICA) mengembalikan kekuasaan Belanda di Sumatra Utara.
- Situasi berubah ketika pasukan Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly mendarat di Medan pada 9 Oktober 1945. Kedatangan mereka yang turut membawa NICA, menimbulkan kecurigaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Pertempuran Medan Area menjadi salah satu babak penting, dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Perlawanan ini, respons atas upaya Sekutu yang diboncengi Nederlandsch Indische Civiele Administratie (NICA) mengembalikan kekuasaan Belanda di Sumatra Utara.
Konflik bersenjata tersebut berlangsung di Kota Medan sejak Oktober 1945 hingga Februari 1947. Selama hampir dua tahun, rakyat bersama para pejuang terus memberikan perlawanan meski menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih lengkap.
Awal Mula Pertempuran Medan Area
Kabar kemerdekaan Indonesia baru diterima masyarakat Medan sekitar 10 hari setelah Proklamasi dibacakan di Jakarta. Informasi tersebut, disampaikan Gubernur Sumatra, Teuku Mohammad Hassan, pada 27 Agustus 1945 sehingga membangkitkan semangat rakyat mempertahankan kemerdekaan.
Semangat nasionalisme, kemudian diwujudkan dengan pembentukan Barisan Pemuda Indonesia. Organisasi ini, menjadi salah satu kekuatan rakyat yang berperan dalam menghadapi ancaman kembalinya pemerintahan kolonial Belanda.
Di sisi lain, pada 24 Agustus 1945, Pemerintah Inggris dan Belanda telah menandatangani Civil Affairs Agreement. Kesepakatan itu, memberikan kewenangan kepada pasukan Inggris untuk menjalankan administrasi atas nama Pemerintah Belanda di Indonesia.
Situasi berubah ketika pasukan Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly mendarat di Medan pada 9 Oktober 1945. Kedatangan mereka yang turut membawa NICA, menimbulkan kecurigaan karena dianggap sebagai upaya mengembalikan kekuasaan kolonial.
Insiden Lencana Merah Putih Memicu Perlawanan
Pada awal kedatangannya, pemerintah Indonesia di Sumatra Utara masih menerima kehadiran tentara Inggris karena mengaku hanya bertugas membebaskan tawanan perang. Namun, kondisi berubah drastis beberapa hari kemudian.
Pada 13 Oktober 1945, seorang anggota NICA di sebuah hotel di Jalan Bali merampas dan menginjak lencana Merah Putih. Lencana yang dirampas oleh anggota NICA itu, milik seorang pemuda Indonesia.
Tindakan tersebut, memicu kemarahan rakyat dan menjadi awal pecahnya Pertempuran Medan Area. Gelombang perlawanan, meluas ke berbagai titik di Kota Medan, termasuk Pematang Siantar dan Berastagi.
Sekutu Tetapkan Medan Area sebagai Wilayah Kekuasaan
Meningkatnya perlawanan Indonesia, membuat Sekutu mengeluarkan ultimatum pada 18 Oktober 1945. Seluruh rakyat, diminta menyerahkan senjata kepada pasukan Sekutu.
Ultimatum tersebut tidak menghentikan perjuangan rakyat Indonesia di Sumatra Utara. Sebaliknya, semangat perlawanan terus berkobar di berbagai wilayah.
Pada 1 Desember 1945, Sekutu memasang papan bertuliskan 'Fixed Boundaries Medan Area' di sejumlah perbatasan Kota Medan. Sejak saat itu, istilah 'Medan Area' dikenal luas sebagai kawasan yang berada di bawah pengawasan militer Sekutu.
Sekutu kemudian meningkatkan serangan pada 10 Desember 1945 dengan mengerahkan operasi militer berskala besar. Serangan tersebut, bahkan didukung penggunaan pesawat tempur untuk menggempur posisi para pejuang Indonesia.
Tekanan militer terus berlangsung hingga April 1946. Pada periode itu, Sekutu berhasil menguasai Kota Medan dan mendesak pemerintah Republik Indonesia untuk meninggalkan wilayah tersebut.
Meski kehilangan pusat kota, perjuangan rakyat tidak berhenti. Para pejuang memilih menyusun kekuatan baru dari luar Medan.
Komando Resimen Laskar Rakyat Bangkitkan Perlawanan
Pada 10 Agustus 1946, para komandan pasukan yang bertempur di Medan Area menggelar pertemuan di Tebing Tinggi. Pertemuan tersebut, menghasilkan pembentukan Komando Resimen Laskar Rakyat sebagai wadah memperkuat koordinasi perjuangan.
Sejak saat itu, perlawanan terhadap Sekutu kembali meningkat. Serangan demi serangan terus dilakukan hingga kedua belah pihak akhirnya menghentikan kontak senjata.
Pertempuran Medan Area resmi berakhir pada 15 Februari 1947 pukul 24.00. Penghentian pertempuran dilakukan berdasarkan keputusan Komite Teknik Gencatan Senjata yang kemudian menetapkan garis demarkasi pada 10 Maret 1947.
Dampak Pertempuran Medan Area
Pertempuran Medan Area meninggalkan dampak besar bagi kedua belah pihak. Selain menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah Kota Medan, konflik tersebut juga menimbulkan banyak korban jiwa.
Data sejarah mencatat sedikitnya tujuh pejuang Indonesia gugur dalam pertempuran. Sementara itu, tujuh anggota NICA dilaporkan tewas dan 96 lainnya mengalami luka-luka akibat bentrokan yang berlangsung sejak Oktober 1945 hingga April 1946.
Sumber
• Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
• Buku Cerita Perang Kemerdekaan Indonesia (2015).
• Arsip sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia mengenai Pertempuran Medan Area.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....