Sejarah Pangeran Diponegoro, Pemimpin Perang Jawa Mengguncang Kolonial Belanda
- 03 Agt 2026 09:04 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pangeran Diponegoro dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional terbesar dalam sejarah Indonesia. Sosoknya dikenang, karena memimpin Perang Jawa (Perang Diponegoro), menjadi salah satu perlawanan terbesar terhadap kolonial Belanda
- Perlawanan Diponegoro dipicu oleh semakin besarnya campur tangan pemerintah kolonial Belanda dalam urusan Keraton Yogyakarta. Kebijakan ekonomi kolonial yang membebani rakyat, memperparah penderitaan masyarakat, terutama para petani.
- Apa tidak, ada baiknya, kita kembalikan makamnya Pangeran Diponegoro. Ke kampung halamannya lagi
RRI.CO.ID, Jakarta - Pangeran Diponegoro dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional terbesar dalam sejarah Indonesia. Sosoknya dikenang, karena memimpin Perang Jawa (Perang Diponegoro), menjadi salah satu perlawanan terbesar terhadap kolonial Belanda pada abad ke-19.
Melansir informasi Direktorat Sekolah Menengah Pertama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Pangeran Diponegoro lahir di Yogyakarta, 11 November 1785. Semasa kecil, ia bernama Bendoro Raden Mas Mustahar sebelum kemudian dikenal sebagai Bendoro Raden Mas Ontowiryo.
Gelar Pangeran diperoleh setelah ayahnya, Sri Sultan Hamengku Buwono III, naik takhta sebagai Sultan Yogyakarta. Sementara nama Diponegoro kemudian melekat sebagai penghormatan atas perjuangannya memimpin perang melawan Belanda.
Penyebab Pangeran Diponegoro Mengangkat Senjata
Perlawanan Diponegoro dipicu oleh semakin besarnya campur tangan pemerintah kolonial Belanda dalam urusan Keraton Yogyakarta. Kebijakan ekonomi kolonial yang membebani rakyat, memperparah penderitaan masyarakat, terutama para petani.
Ketegangan mencapai puncaknya, ketika pemerintah kolonial memerintahkan pemasangan patok proyek yang melintasi kawasan makam leluhur Diponegoro di Tegalrejo. Tindakan tersebut, dianggap sebagai penghinaan terhadap keluarga dan tradisi Keraton.
Merasa harga diri bangsa dan keluarganya diinjak-injak, Diponegoro memutuskan mengangkat senjata. Keputusan itu menjadi awal pecahnya Perang Jawa yang berlangsung selama lima tahun.
Perang Jawa yang Menguras Kekuatan Belanda
Melansir Arsip sejarah Perang Jawa (1825–1830), sebelum perang berkecamuk, pemerintah kolonial berupaya menangkap Diponegoro pada 20 Juli 1825. Mengetahui rencana tersebut, Diponegoro bersama keluarga dan para pengikutnya memilih berpindah ke Goa Selarong yang kemudian dijadikan pusat perjuangan.
Dari markas itu, Diponegoro berhasil menghimpun kekuatan rakyat dari berbagai lapisan masyarakat. Petani, ulama, bangsawan, hingga masyarakat biasa bergabung dalam perjuangan melawan Belanda.
Sejumlah pangeran Keraton Yogyakarta juga ikut mendukung perjuangan tersebut. Selain itu, Diponegoro memanfaatkan strategi perang gerilya yang membuat pasukan kolonial kesulitan menguasai wilayah pedalaman Jawa.
Perang Jawa menjadi salah satu konflik paling mahal yang pernah dihadapi Belanda di Nusantara. Ribuan prajurit kolonial dikerahkan untuk menghadapi perlawanan yang terus meluas.
Strategi Benteng Belanda Mengubah Jalannya Perang
Memasuki 1827, Belanda menerapkan strategi Benteng Stelsel dengan membangun jaringan benteng di berbagai wilayah. Taktik tersebut bertujuan mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro sekaligus memutus jalur logistik mereka.
Strategi itu perlahan melemahkan kekuatan pasukan Diponegoro. Banyak tokoh penting gugur atau tertangkap sehingga posisi perjuangan semakin terdesak.
Ditangkap Lewat Jalur Perundingan
Pada 28 Maret 1830, Jenderal Hendrik Merkus de Kock mengundang Diponegoro menghadiri perundingan di Magelang. Diponegoro datang dengan harapan dapat menyelamatkan sisa pasukannya.
Dalam pertemuan tersebut, Diponegoro menyatakan bersedia menghentikan perlawanan dengan syarat para pengikutnya dibebaskan. Namun, Belanda justru menangkapnya dan mengasingkan sang pahlawan ke Manado.
Tiga tahun kemudian Diponegoro dipindahkan ke Benteng Fort Rotterdam di Makassar. Di tempat pengasingan itulah ia menghabiskan sisa hidupnya.
Tetap Berkarya di Balik Pengasingan
Meski kehilangan kebebasan, Diponegoro tidak berhenti berkarya. Selama berada di Benteng Fort Rotterdam, ia menyusun sejumlah manuskrip yang menjadi catatan penting perjalanan sejarah Jawa.
Di antaranya adalah Sejarah Ratu Tanah Jawa dan Hikayat Tanah Jawa. Karya tersebut menjadi bukti bahwa perjuangannya tidak hanya dilakukan melalui peperangan, tetapi juga melalui pemikiran.
Mengapa Makam Pangeran Diponegoro Tidak Dipindahkan?
Pangeran Diponegoro wafat di Makassar dan dimakamkan di kota tersebut. Hingga kini, makamnya menjadi salah satu situs sejarah penting yang banyak dikunjungi masyarakat.
Wacana pemindahan makam kembali mencuat, setelah Presiden Prabowo Subianto pada 2023 mengusulkan agar makam Diponegoro dipindahkan ke Yogyakarta. Menurut Prabowo, langkah tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada salah satu pahlawan terbesar Indonesia.
"Apa tidak, ada baiknya, kita kembalikan makamnya Pangeran Diponegoro. Ke kampung halamannya lagi," ujar Prabowo saat Rakernas XVI APEKSI di Makassar, 13 Juli 2023.
Namun, usulan tersebut mendapat tanggapan dari keluarga besar Diponegoro. Keturunan kelima Pangeran Diponegoro, Raden Hamzah Diponegoro menegaskan, sang pahlawan memiliki wasiat agar dirinya tidak dimakamkan kembali di Tanah Jawa.
"Sepeninggal saya nanti tidak usah pulangkan saya ke tanah Jawa," ujar Raden Hamzah Diponegoro saat menyampaikan amanat yang diwariskan leluhurnya. Menurut Raden Hamzah, Diponegoro telah memilih Makassar sebagai tempat peristirahatan terakhirnya.
Keputusan tersebut, dinilainya merupakan bagian dari pengabdian sang pahlawan kepada Indonesia, bukan hanya kepada Tanah Jawa. Demikian rangkuman sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....