PJJ Hidupkan Kembali Mimpi Bagas Bersekolah

  • 31 Jul 2026 00:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bagas Bagus William mengalami kecelakaan kendaraan bermotor pada 2024 yang mengakibatkan patah tulang dan pendarahan di dada.
  • Remaja tersebut harus menjalani empat operasi untuk mengatasi luka-lukanya akibat kecelakaan.
  • Selama setahun pemulihan, Bagas terpaksa menghabiskan waktunya di tempat tidur dengan aktivitas terbatas hanya bangun, makan, bermain telepon genggam, dan tidur.

RRI.CO.ID, Jakarta – Selama setahun, dunia Bagas Bagus William hanya seluas tempat tidur di kamarnya. Hari-harinya berjalan lambat, diisi bangun, makan, bermain telepon genggam, lalu kembali tidur.

Remaja yang akrab disapa Bagas itu tidak pernah membayangkan hidupnya berubah begitu drastis. Kecelakaan kendaraan bermotor pada 2024 membuatnya harus menjalani empat operasi akibat patah tulang dan pendarahan di bagian dada.

"Kecelakaan menabrak mobil parah tidak bisa bangun. Jadinya dibawa ke rumah sakit, dua minggu kurang lebih," kata Bagas dalam acara bincang bersama media bertajuk "Lebih Dekat dengan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ): Menjangkau yang Tidak Terlayani, Membuka Akses Pendidikan untuk Semua", di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026.

Operasi berhasil menyelamatkan nyawanya, tetapi bukan berarti perjuangannya selesai. Setelah keluar dari rumah sakit, Bagas kehilangan sesuatu yang sering dianggap biasa oleh banyak anak, yaitu kesempatan untuk bersekolah.

Selama satu tahun, ia tidak mampu berdiri maupun berjalan. Aktivitas sederhana seperti duduk lama, keluar rumah, atau bertemu teman menjadi sesuatu yang nyaris mustahil.

"Di kasur tidak bisa beraktivitas selama satu tahun. Jadi hanya bangun, makan, main hp, terus tidur," ujarnya.

Bagas kemudian diterima sebagai peserta didik PJJ di SMAN 2 Semarang dengan sekolah mitra SMAN 1 Kemusu, Boyolali, Jawa Tengah. Kesempatan itu menjadi titik balik yang mengembalikan semangatnya.

Ia kini memiliki mimpi menjadi seorang wirausahawan. Bagas ingin belajar berjualan secara daring dan membangun usahanya sendiri.

Bagi ibunya, Aas Novy, masa itu adalah ujian yang tidak mudah. Selama dua tahun, seluruh perhatian keluarga tertuju pada proses penyembuhan putranya.

Tahun pertama dihabiskan Bagas di atas tempat tidur. Tahun kedua dipenuhi jadwal terapi dan kontrol rumah sakit agar ia bisa kembali berjalan.

"Selama dua tahun itu putus sekolah karena fokus penyembuhan. Tahun pertama tidak bisa berjalan sama sekali, tahun kedua menjalani terapi," kata Aas.

Ketika kondisi Bagas mulai membaik, persoalan lain muncul. Tubuhnya belum mampu duduk terlalu lama, sehingga sulit mengikuti kegiatan belajar di SMA formal dari pagi hingga sore hari.

Aas khawatir putranya akan menjadi bagian dari jutaan anak Indonesia yang kehilangan akses pendidikan. Kekhawatiran itu berubah menjadi harapan ketika seorang kerabat memberi tahu tentang program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).

"Saya senang sekali ada PJJ ini untuk membantu anak saya tetap melanjutkan sekolah. Saya ingin dia bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi," ujarnya.

Bagi Aas, pendidikan bukan sekadar ijazah. Pendidikan adalah harapan yang membuat putranya tetap memiliki masa depan.

"Harapannya anak saya bisa tetap melanjutkan sekolah untuk mendapatkan ijazah. Ya karena pendidikan itu sangat penting," katanya.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat sekitar 4 juta anak masih berada di luar sistem pendidikan per Juni 2026. Sebagian besar di antaranya belum pernah bersekolah, putus sekolah, atau tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq mengatakan, pemerintah memperkuat penyelenggaraan PJJ. Sehingga, layanan pendidikan dapat menjangkau kelompok yang selama ini sulit mengakses sekolah formal.

"Kami punya perhatian besar mengatasi tingginya angka ATS. Penurunannya belum signifikan dalam beberapa tahun terakhir," kata Fajar.

Pemerintah juga memastikan PJJ bukan pendidikan kelas dua. Lulusan PJJ memperoleh rapor dan ijazah yang diterbitkan sekolah induk, sehingga memiliki kesempatan sama melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui jalur SNBP maupun SNBT.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Tatang Muttaqin menegaskan kualitas PJJ setara dengan sekolah formal. Seluruh proses pembelajaran dan asesmen dilakukan secara daring dengan dukungan guru serta modul pembelajaran.

"Yang penting anak-anak memiliki kesempatan yang sama. Kami optimistis PJJ dapat membantu mereka melanjutkan kuliah atau bekerja," kata Tatang.

Tahun ini, penyelenggaraan PJJ bagi ATS akan melibatkan 132 satuan pendidikan di berbagai daerah. Pemerintah menargetkan perluasan program secara nasional apabila implementasi tahap awal berjalan baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....