SPMB PJJ Buka Harapan Baru Bagi Anak Tidak Sekolah

  • 11 Jul 2026 18:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemendikdasmen meluncurkan Sistem Penerimaan Murid Baru Pendidikan Jarak Jauh (SPMB PJJ) untuk jenjang pendidikan menengah tahun 2026 sebagai upaya mengembalikan anak tidak sekolah ke pembelajaran berkelanjutan.
  • Terdapat sekitar 2,4 juta anak usia 16-18 tahun yang belum mengakses pendidikan, dan pendidikan jarak jauh dihadirkan untuk mengatasi berbagai hambatan yang mereka hadapi.
  • Program Deklarasi Nasional Gerakan Daerah Nol Anak Tidak Sekolah akan melibatkan 132 sekolah di 32 provinsi pada tahun 2026, dengan fokus pada penjangkauan aktif dan pendampingan hingga peserta lulus pendidikan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meluncurkan Sistem Penerimaan Murid Baru Pendidikan Jarak Jauh (SPMB PJJ) jenjang pendidikan menengah tahun 2026. Program ini menjadi upaya mengembalikan anak tidak sekolah ke pembelajaran secara berkelanjutan.

Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti mengatakan, SPMB PJJ tidak hanya berfokus pada penerimaan murid baru. Menurutnya, program tersebut mencakup penjangkauan, pendampingan, hingga memastikan peserta menyelesaikan pendidikan.

Selain itu, lanjut dia, layanan pendidikan harus mengubah pendekatan kepada anak. Negara, menurutnya, perlu aktif menjangkau mereka yang sulit mengakses sekolah.

“Selama bertahun-tahun kita terbiasa dengan anak yang datang ke sekolah. Kini negara harus hadir mendekati dan menjemput mereka,” kata Suharti dalam keterangan tertulis, Sabtu, 11 Juli 2026.

Kemendikdasmen mencatat ada sekitar 2,4 juta anak usia 16–18 tahun belum mengakses pendidikan. Pendidikan jarak jauh dihadirkan untuk menjawab berbagai hambatan yang mereka hadapi.

Ia menegaskan jutaan anak tidak sekolah harus segera mendapatkan layanan pendidikan. Langkah itu penting agar mereka tidak kehilangan kesempatan memperbaiki masa depan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin mengatakan, SPMB PJJ merupakan gerakan pengembalian anak ke pembelajaran. Keberhasilannya diukur dari kemampuan peserta bertahan hingga lulus pendidikan.

“Target akhirnya bukan banyaknya pendaftar atau peserta aktif belajar. Target utamanya adalah semakin banyak anak bertahan dan lulus,” ujar Tatang.

Di sisi lain, Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, Saryadi, mengatakan layanan kini harus aktif menjangkau masyarakat. Pendekatan tersebut mengubah pola layanan dari menunggu menjadi mendatangi anak.

"Tujuan akhirnya bukan hanya sekadar meningkatkan APS (angka partisipasi sekolah). Melainkan, setiap anak bisa menyelesaikan pendidikan, mendapatkan pengakuan secara formal, dan melanjutkan kehidupannya," kata Saryadi.

Peluncuran SPMB PJJ juga diiringi Deklarasi Nasional Gerakan Daerah Nol Anak Tidak Sekolah. Program itu akan berlangsung di 32 provinsi dengan melibatkan 132 sekolah pada 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....