Hari Anak Nasional, Menkomdigi Soroti Ancaman Konten Negatif Digital

  • 23 Jul 2026 15:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hari Anak Nasional tanggal 23 Juli menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran akan perlindungan anak, khususnya di ruang digital.
  • Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menekankan bahwa pembatasan akses saja tidak cukup untuk melindungi anak dari kejahatan digital di era perkembangan teknologi saat ini.
  • Adaptasi inovasi teknologi menjadi salah satu upaya strategis untuk menciptakan pemanfaatan digital yang ramah anak dan aman dari ancaman kejahatan siber.

RRI.CO.ID, Jakarta - Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli, menjadi momentum penting akan perlindungan anak. Terlebih lagi hal itu ditekankan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, untuk perlindungan anak di ruang digital.

Ditengah perkembangan teknologi, Menkomdigi menilai pembatasan akses di ruang digital tidak cukup dalam melindungi anak dari kejahatan digital. Namun ditekankannya, adaptasi inovasi teknologi menjadi salah satu upaya dalam pemanfaatan digital raman anak.

"Kita ingin bahwa anak-anak ini cakap digital, tapi di saat yang bersamaan cakap digital. Mengimbangi kehidupan dia di ranah maya dengan kehidupan sehari-hari dengan orang tua, dengan teman dan sebayanya, sehingga anak-anak bisa kita kembalikan kepada jati diri mereka sebagai anak-anak," kata Meutya dalam keterangan resminya, dikutip di Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026.

Lebih lanjut Meutya menyatakan, kemajuan teknologi digital memang membawa banyak manfaat bagi dunia pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, teknologi digital seiring perkembangannya, juga menghadirkan berbagai dampak buruknya.

Hal itu dijelaskan Meutya, seperti gangguan pola tidur (sleep deprivation), kecanduan media sosial dan platform digital. Bahkan selain itu, dampak buruk dari perkembangan teknoogi digital ialah, paparan konten yang tidak sesuai dengan usia anak.

Menurutnya, perubahan perilaku anak sering kali bukan disebabkan karakter anak itu sendiri. Tetapi hal itu diakibatkan paparan konten negatif yang diterima sebelum mereka memiliki kesiapan secara usia.

"Anak-anak kita bukan anak yang nakal. Mereka adalah tunas bangsa yang hebat. Tetapi jika anak-anak yang baik terus-menerus terpapar konten negatif ketika usianya belum siap, tentu perilaku mereka bisa berubah," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....