Benarkah Indonesia Bisa Alami Gelombang Panas Ekstrem seperti Eropa? Ini Kata BMKG

  • 02 Jul 2026 10:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa, memicu kekhawatiran masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia khawatir, fenomena 'heatwave' serupa terjadi di Tanah Air.
  • Merespons rasa khawatir masyarakat tersebut, BMKG memastikan, potensi gelombang panas ekstrem di Eropa sangat kecil terjadi di Indonesia.
  • Secara umum (tidak mungkin terjadi). Potensi gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa sangat kecil terjadi di Indonesia

RRI.CO.ID, Jakarta - Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa, memicu kekhawatiran masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia khawatir, fenomena 'heatwave' serupa terjadi di Tanah Air.

Merespons rasa khawatir masyarakat tersebut, BMKG memastikan, potensi gelombang panas ekstrem di Eropa sangat kecil terjadi di Indonesia. Prakirawan Cuaca BMKG, Adinda Dara Vahada menjelaskan, karakteristik iklim Indonesia sangat berbeda dengan negara-negara di Eropa.

Ia menjelaskan, Indonesia sebagai negara kepulauan beriklim tropis memiliki kelembapan udara tinggi. Serta, dipengaruhi oleh keberadaan laut yang membantu pembentukan awan dan hujan.

"Secara umum (tidak mungkin terjadi). Potensi gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa sangat kecil terjadi di Indonesia," kata Adinda dalam keterangan persnya, di Jakarta, dikutip Selasa, 2 Juli 2026.

Hasil penelitian BMKG, kata Adinda, gelombang panas di Eropa biasanya dipicu oleh massa udara panas. Yakni, udara panas yang terperangkap dalam waktu lama akibat pola tekanan tinggi.

Kondisi tersebut, ia menuturkan, lebih sering terjadi di wilayah daratan yang luas dan berada di lintang menengah. Dibandingkan, kawasan maritim seperti Indonesia.

Adinda menjelaskan, suhu udara panas di Indonesia masih tergolong cuaca panas harian. Karena, hanya mencapai 33 hingga 36 derajat Celsius, bahkan sesekali menyentuh 37 derajat Celsius di beberapa daerah.

"Peningkatan suhu tersebut umumnya dipengaruhi berkurangnya tutupan awan. Dan, menurunnya curah hujan saat musim kemarau, bukan termasuk kategori heatwave," ucap Adinda.

Sebelumnya diberitakan, dalam beberapa pekan terakhir, cuaca panas ekstrem menyebabkan dampak serius di berbagai negara Eropa. Ribuan korban jiwa dilaporkan meninggal dunia, sementara kebakaran hutan, gangguan transportasi, hingga kerusakan infrastruktur juga terjadi akibat suhu terus meningkat.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, Eropa kini menjadi kawasan yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia. Ia menyebut jutaan warga terdampak suhu ekstrem yang membebani layanan kesehatan hingga pasokan listrik.

"Saat ini 150 juta orang hidup di bawah panas ekstrem, ratusan orang telah meninggal, sekolah-sekolah ditutup. Dan jaringan listrik kewalahan," ujar Tedros dikutip dari Associated Press.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....