Gelombang Panas Ekstrem Diperkirakan Ancam Pertumbuhan Ekonomi Eropa
- 01 Jul 2026 14:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gelombang panas ekstrem akibat perubahan iklim kini dipandang sebagai risiko makroekonomi struktural yang menekan aktivitas ekonomi dan berpotensi menghambat pertumbuhan di kawasan Eropa.
- Infrastruktur, sektor konstruksi, dan logistik di Jerman dinilai belum siap menghadapi suhu yang semakin tinggi, sehingga negara tersebut diperkirakan menjadi penyumbang kerugian ekonomi terbesar ketiga di Eropa pada 2030.
- Gelombang panas menurunkan produktivitas, meningkatkan biaya kesehatan dan pendinginan, mengganggu transportasi serta pertanian, sekaligus berpotensi mendorong kenaikan harga pangan akibat menurunnya hasil panen.
RRI.CO.ID, Berlin — Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa mulai memberikan tekanan besar terhadap aktivitas ekonomi di berbagai negara. Jerman sebagai ekonomi terbesar di kawasan diperkirakan menjadi salah satu negara yang akan mengalami dampak paling besar akibat kondisi tersebut.
Para ekonom menilai perubahan iklim telah membuat gelombang panas terjadi lebih sering dan lebih intens di Eropa. Kondisi tersebut tidak lagi dipandang sebagai fenomena sementara, melainkan sebagai risiko makroekonomi struktural yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi.
Melansir dari Anadolu, Rabu, 1 Juli 2026, rekor suhu pada Juni tahun ini melanda Prancis, Inggris, Swiss, dan Jerman. Di Prancis, kondisi tersebut membangkitkan kembali ingatan akan gelombang panas musim panas 2003 yang diperkirakan menyebabkan sekitar 70.000 kematian.
Dampak panas ekstrem juga dirasakan sektor layanan publik, sejumlah rumah sakit mengalami gangguan kerusakan sistem pendingin dan infrastruktur teknologi informasi. Sementara itu, Prancis menghentikan sementara operasional dua reaktor nuklir karena kekurangan air pendingin.
Gelombang panas kini telah berkembang menjadi faktor yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi Eropa. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Riset Makro dan Kepala Ekonom ING untuk Jerman, Carsten Brzeski.
Ia mengatakan bahwa dampaknya mulai menyerupai gangguan besar yang terjadi selama pandemi COVID-19. Menurutnya, jalan sepi, penutupan sekolah, gangguan layanan kereta api, hingga terhentinya operasional reaktor nuklir menjadi bukti dampak gelombang panas.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa suhu udara kini menjadi indikator penting bagi prospek pertumbuhan ekonomi Eropa. Brzeski menilai risiko panas ekstrem yang sebelumnya identik dengan negara-negara Eropa Selatan kini juga mengancam Jerman.
Ia memperkirakan Jerman akan menjadi negara dengan kerugian ekonomi akibat panas terbesar ketiga di Eropa pada 2030. Hal tersebut karena infrastruktur, perumahan, serta sektor padat karya seperti konstruksi dan logistik belum siap menghadapi iklim yang semakin panas.
Sejumlah penelitian menunjukkan besarnya dampak ekonomi akibat panas ekstrem. Studi yang diterbitkan pada 2021 memperkirakan gelombang panas telah mengurangi output ekonomi Eropa sebesar 0,3 hingga 0,5 persen.
Di wilayah yang paling terdampak, kerugian ekonomi bahkan diperkirakan melampaui 1 persen dari output. Kerugian ekonomi diperkirakan akan semakin besar jika memperhitungkan biaya pendinginan dan meningkatnya pengeluaran layanan kesehatan.
Dampak kekeringan terhadap sektor pertanian, transportasi, jalur perairan, serta kebutuhan perbaikan infrastruktur juga turut memperbesar beban ekonomi. Para ekonom juga memperingatkan bahwa dampak inflasi terbesar akan dirasakan pada sektor pangan karena kekeringan mengurangi hasil panen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....