BMKG: Gelombang Panas seperti di Eropa Kecil Kemungkinan Terjadi
- 01 Jul 2026 19:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BMKG menyatakan peluang gelombang panas ekstrem seperti di Eropa terjadi di Indonesia masih sangat kecil.
- Indonesia tetap mengalami cuaca panas saat musim kemarau, tetapi berbeda dengan heatwave karena suhu malam hari masih menurun dan wilayahnya dikelilingi lautan.
- BMKG mencatat tren kenaikan suhu rata-rata sekitar 0,3 derajat Celsius per dekade dan mengimbau masyarakat menjaga hidrasi serta mengurangi aktivitas luar ruangan saat cuaca terik.
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa memiliki peluang yang sangat kecil untuk terjadi di Indonesia. Meski demikian, masyarakat tetap akan merasakan suhu udara yang cukup panas sebagai karakteristik iklim tropis, terutama saat musim kemarau.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan suhu udara di Indonesia memang dapat mencapai 35-36 derajat Celsius di beberapa wilayah. Namun, kondisi tersebut berbeda dengan gelombang panas di Eropa yang suhu udaranya menembus lebih dari 40 derajat Celsius.
“Menurut analisis kami kejadian lonjakan temperatur seperti yang terjadi di Eropa itu masih kecil peluangnya terjadi di Indonesia. Tapi tidak berarti bahwa kita tidak mengalami suhu panas,” kata Sena dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Rabu, 1 Juli 2026.
Ia menjelaskan, Indonesia memiliki karakteristik geografis yang berbeda karena dikelilingi oleh lautan. Kondisi tersebut berperan sebagai penyangga alami yang membantu menahan lonjakan suhu ekstrem.
“Alasannya karena kita dikelilingi banyak lautan dengan gelombang-gelombang tinggi. Gelombang-gelombang tinggi yang menjadi penyangga untuk mencegah terjadinya lonjakan temperatur yang tinggi seperti yang sekarang terjadi di Eropa,” ujarnya.
Menurutnya, kelembapan udara yang tinggi di wilayah Indonesia memang dapat membuat cuaca terasa lebih gerah. Namun, justru kondisi itu mengurangi peluang terjadinya lonjakan suhu drastis sebagaimana yang dialami negara-negara Eropa.
Sena menambahkan, suhu udara di Indonesia selama musim kemarau umumnya berkisar 30 hingga 33 derajat Celsius pada siang hari. Di beberapa daerah seperti Nusa Tenggara Timur, suhu dapat mencapai sekitar 36 derajat Celsius, tetapi tetap belum memenuhi karakteristik gelombang panas.
Ia menjelaskan ciri gelombang panas adalah suhu udara tetap tinggi pada malam hari sehingga tubuh tidak memiliki waktu memulihkan diri. Kondisi inilah yang kerap meningkatkan risiko gangguan kesehatan hingga menyebabkan korban jiwa seperti yang sedang terjadi di Eropa.
“Karakteristik lain juga yang menjadi ciri dari gelombang panas yaitu temperatur malamnya itu tidak turun. Sementara di Indonesia setelah sore kan temperatur itu turun, memungkinkan kita untuk merecovery diri,” ucapnya
Meski peluang terjadinya gelombang panas ekstrem masih rendah, BMKG mencatat adanya tren kenaikan suhu rata-rata di Indonesia. Ardhasena mengatakan kenaikan suhu rata-rata mencapai sekitar 0,3 derajat Celsius setiap satu dekade.
Menurutnya, tren tersebut tetap perlu diwaspadai. Karena kombinasi suhu udara yang tinggi dengan tingkat kelembapan yang besar dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG telah mengembangkan sistem peringatan dini suhu panas di beberapa kota besar. Diantaranya, termasuk Jakarta, dan akan memperluasnya ke daerah lain secara bertahap.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari. Serta menghindari paparan sinar ultraviolet dalam waktu lama guna mengurangi risiko dampak kesehatan akibat cuaca panas.
“Masyarakat yang beraktivitas siang hari di luar dapat menggunakan pelindung kepala, lalu menjaga hidrasi tetap dengan mengkonsumsi cairan yang banyak. Mengurangi aktivitas di luar yang barangkali lama karena tidak hanya panas tetapi juga paparan sinar ultraviolet lama dapat merusak kulit,” ujar Sena.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....