BMKG: Suhu Udara Indonesia Masih Normal meski Eropa Dilanda Gelombang Panas

  • 01 Jul 2026 18:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BMKG memastikan peluang gelombang panas seperti di Eropa masih sangat kecil terjadi di Indonesia.
  • Kondisi geografis Indonesia yang dikelilingi lautan menjadi penyangga lonjakan suhu ekstrem.
  • Salah satu ciri heatwave, yaitu suhu malam tetap tinggi, belum terjadi di Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta – BMKG memastikan peluang gelombang panas seperti yang melanda Eropa masih sangat kecil terjadi di Indonesia. Kondisi geografis Indonesia menjadi faktor utama yang membedakan karakter cuaca.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan suhu udara di Indonesia masih berada pada kisaran normal musim kemarau. Suhu siang umumnya berkisar 33 hingga 36 derajat Celsius.

"Kita biasanya rentangnya kira-kira dari sekarang di pertengahan tahun seperti musim kemarau ini. Sekitar 33 hingga 34 ada wilayah-wilayah yang sampai 35 dan 36 gitu,” kata Ardhasena dalam perbincangan bersama PRO3 RRI, Rabu, 1 Juli 2026.

Menurutnya, Indonesia dikelilingi lautan yang membantu menahan lonjakan suhu ekstrem. Kondisi tersebut berbeda dengan wilayah Eropa yang sedang mengalami gelombang panas.

"Saat ini masih kecil peluangnya kita mengalami lonjakan yang begitu drastis, alasannya karena kita dikelilingi banyak lautan dengan gelombang-gelombang tinggi. Gelombang-gelombang tinggi ini yang menjadi penyangga atau buffer mencegah terjadinya lonjakan temperatur yang tinggi seperti sekarang yang terjadi di Eropa,” kata dia.

Meski bukan gelombang panas, masyarakat tetap dapat merasakan cuaca terik saat musim kemarau. Suhu tinggi umumnya terjadi pada siang hari dan kembali menurun menjelang malam.

Ia menjelaskan salah satu ciri gelombang panas adalah suhu malam yang tetap tinggi. Kondisi itu belum terjadi di Indonesia.

"Ada karakteristik lain juga yang menjadi ciri dari gelombang panas yaitu temperatur malamnya itu tidak turun. Sementara di kita setelah sore kan temperatur itu turun, yang memungkinkan kita untuk merecover diri,” ujarnya.

BMKG juga mencatat kenaikan suhu rata-rata Indonesia sekitar 0,3 derajat Celsius setiap sepuluh tahun. Kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai karena dipengaruhi kelembapan udara yang tinggi.

BMKG mengimbau masyarakat menjaga hidrasi, memakai pelindung kepala, dan membatasi aktivitas luar ruangan saat cuaca terik. Langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan panas. (Sarah Maulida Ali)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....