Eropa Dihantam Gelombang Panas, Prancis Laporkan Ribuan Korban Jiwa

  • 29 Jun 2026 16:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Badan kesehatan Prancis melaporkan sekitar 1.000 kematian berlebih akibat gelombang panas, dengan mayoritas korban berusia di atas 65 tahun.
  • Gelombang panas yang melanda Eropa sejak 20 Juni memengaruhi sekitar 191 juta penduduk dan mengganggu aktivitas masyarakat di berbagai negara.
  • Ilmuwan menyebut perubahan iklim dan fenomena omega block menjadi faktor yang memperparah cuaca panas ekstrem di Eropa.

RRI.CO.ID, Jakarta - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sejak akhir Juni terus memakan korban jiwa. Badan kesehatan masyarakat Prancis melaporkan sekitar 1.000 kematian lebih (excess deaths) yang diduga berkaitan dengan cuaca panas.

Melansir dari Al Jazeera, badan kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan Prancis itu menyatakan angka tersebut diperkirakan bisa bertambah. Hal itu karena laporan kematian dari rumah-rumah maupun fasilitas perawatan lansia masih terus dihimpun.

Sebagian besar korban diketahui lansia, berusia 65 tahun ke atas, meski dampak suhu ekstrem dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist mengatakan efek gelombang panas diperkirakan masih akan berlangsung hingga 10 hari ke depan.

Gelombang panas yang melanda Eropa sejak 20 Juni telah mengganggu berbagai aktivitas masyarakat. Sejumlah museum dan sekolah di beberapa negara terpaksa menghentikan operasional lebih awal akibat tingginya suhu.

Berdasarkan perkiraan AFP, sedikitnya 191 juta penduduk Eropa diperkirakan menghadapi suhu mencapai 35 derajat Celsius atau lebih. Kondisi terpanas diperkirakan terjadi di Jerman, Ceko, Hungaria, dan Polandia, Slovakia, Serbia, Kroasia, Italia, Austria, hingga Ukraina bagian barat.

Meski sebagian besar wilayah Prancis saat ini mulai mengalami penurunan suhu. Namun, badan meteorologi setempat menyebut beberapa kawasan di timur laut masih berada dalam status peringatan gelombang panas.

Sementara itu, cuaca ekstrem kini mulai bergeser ke kawasan Eropa Timur. Di Jerman, cuaca panas juga memicu peningkatan jumlah kecelakaan di perairan.

Berdasarkan laporan dari kantor berita DPA, sedikitnya tujuh orang meninggal dunia akibat insiden tenggelam selama akhir pekan. Diketahui banyak warga memadati danau dan sungai untuk mencari kesejukan.

Otoritas Jerman mencatat sedikitnya dua korban meninggal dalam insiden terpisah di Berlin. Dalam kasus lainnya, seorang pria ditemukan tidak sadarkan diri di Danau Jungfernheideteich setelah ditemukan oleh sekelompok warga.

Jerman telah mengalami suhu ekstrem selama beberapa hari terakhir dengan temperatur yang mencapai bahkan melampaui 40 derajat Celsius. Layanan setempat juga mencatat suhu malam di Kubschuetz tidak turun di bawah 29,4 derajat Celsius.

Pada Sabtu, 27 Juni 2026, rekor suhu tertinggi sepanjang masa juga tercatat di Jerman, Denmark, dan Republik Ceko. Para ilmuwan menilai gelombang panas kali ini diperparah oleh perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia.

Meski secara langsung fenomena tersebut dipengaruhi pola cuaca Omega block. Fenomena ini memerangkap massa udara panas di suatu wilayah dalam waktu lama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....