Aktivis Ditangkap, Israel Didesak Tidak Lakukan Manuver Kontraproduktif
- 19 Mei 2026 11:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Komisi I DPR RI mengecam, tindakan militer Israel menangkap sekitar 100 aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0.
- Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta menegaskan, Israel seharusnya tidak melakukan manuver kontraproduktif.
- Instrumen hukum internasional yang ada seharusnya sudah cukup untuk mendesak Israel membebaskan para aktivis.
RRI.CO.ID, Jakarta - Komisi I DPR RI mengecam, tindakan militer Israel menangkap sekitar 100 aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0. Israel melakukan tindakan keji itu, di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta menegaskan, Israel seharusnya tidak melakukan manuver kontraproduktif. Tepatnya, di tengah upaya berbagai pihak mewujudkan perdamaian di Timur Tengah.
“Israel memang memiliki rekam jejak yang buruk soal kepatuhan terhadap perjanjian dan hukum internasional. Namun, dengan adanya Board of Peace (BoP), sikap Israel juga setidaknya sejalan dengan upaya BoP untuk mewujudkan perdamaian di Palestina,” kata Sukamta dalam keterangan persnya, di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.
Dari 100 aktivis kemanusiaan yang ditangkap Israel itu, sebanyak dua wartawan Indonesia ditahan. Dua wartawan Indonesia yang ditangkap Israel itu, yakni jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai.
“Mengecam ulah Israel ini. Mendukung pemerintah RI lebih tegas untuk mendesak DK PBB dan AS melobi Israel agar membebaskan para aktivis dan jurnalis Republika tersebut," ucap Sukamta.
Dalam kondisi konflik dan perang sekalipun, ia mengingatkan, jurnalistik dan misi kemanusiaan dilindungi oleh Piagam PBB. Oleh karenanya, pihak internasional harusnya mendesak Israel untuk segera membebaskan ratusan aktivisi kemanusiaan tersebut.
“Instrumen hukum internasional yang ada seharusnya sudah cukup untuk mendesak Israel membebaskan para aktivis. Dan jurnalis serta membuka blokade bantuan kemanusiaan,” ujar Sukamta.
Sebelumnya diberitakan, Kemlu RI mengecam, tindakan militer Israel mencegat rombongan kapal misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0. Israel melakukan tindakan keji itu, di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur.
Insiden tersebut memicu kekhawatiran internasional karena melibatkan relawan kemanusiaan dan warga sipil dari berbagai negara, termasuk WNI. Jubir Kemlu RI, Yvonne Mewengkang mengatakan, hingga saat ini sedikitnya sepuluh kapal dikonfirmasi telah ditangkap.
Beberapa kapal yang disebut berada dalam rombongan itu antara lain Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys. Menurutnya, pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan situasi yang dinilai masih sangat dinamis.
“Berdasarkan informasi dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), di kapal Josef diinformasikan terdapat seorang WNI. Atas nama Andi Angga Prasadewa yang merupakan delegasi dari GPCI-Rumah Zakat,” kata Yvonne dalam keterangannya, Senin, 18 Mei 2026, malam.
Selain itu, Kemlu RI juga masih berupaya memperoleh informasi mengenai kondisi kapal yang membawa jurnalis Republika, Bambang Noroyono. Hingga kini, komunikasi dengan kapal tersebut masih terus diupayakan untuk memastikan keselamatan awak kapal dan seluruh penumpang di dalamnya.
“Kapal yang membawa jurnalis atas nama Bambang Noroyono sampai saat ini masih dicoba dihubungi. Untuk mengetahui status dari kapal termasuk Sdr. Bambang Noroyono di kapal tersebut,” ujar Yvonne.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....