Peringatan Hari Kartini, Ketahui Fakta Penting Tentang RA Kartini
- 20 Apr 2026 14:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Raden Ajeng Kartini tidak hanya dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan, tetapi juga pemikir progresif di bidang pendidikan, budaya, dan sosial.
- Gagasan Kartini tentang pendidikan, jurnalisme, hingga kritik terhadap feodalisme menunjukkan visi kemajuan bangsa yang melampaui zamannya.
- Kiprah Kartini dalam seni, literasi, dan pemikiran sosial menjadikannya simbol perubahan dan inspirasi lintas generasi di Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Peringatan Hari Kartini selalu identik dengan perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia. Sosok Raden Ajeng Kartini dikenal luas sebagai pelopor kesetaraan dan pendidikan bagi perempuan pribumi.
Namun, pemikiran Kartini tidak hanya terbatas pada isu perempuan semata. Gagasan dan kiprahnya mencakup pendidikan, seni, hingga kritik sosial terhadap kolonialisme dan feodalisme.
Mengutip dari berbagai sumber, berikut sederet fakta penting tentang Kartini yang belum banyak diketahui publik:
1. Pelopor pendidikan pribumi
Kartini menggagas pentingnya pendidikan sebagai jalan keluar dari ketertinggalan masyarakat. Ia meyakini pendidikan mampu membebaskan rakyat dari kebodohan dan penindasan.
Pada 1903, Kartini bersama saudarinya mendirikan sekolah perempuan di Jepara. Sekolah ini terbuka untuk semua kalangan tanpa memandang status sosial.
“Pendidikan adalah jalan satu-satunya untuk mengubah pola pikir mereka, yakni penanaman kesadaran bahwa saat ini mereka tertindas, tanpa pendidikan mereka akan terus terjajah dan tidak menyadari bahwa diri mereka sebenarnya terbelenggu". (The Chronicle of Kartini, 2010:360)
2. Seorang penulis dengan nama samaran
Dalam buku Panggil Aku Kartini Saja tahun 2003 tertulis: “Sebagai pengarang, aku akan bekerja secara besar-besaran untuk mewujudkan cita-citaku. Serta bekerja untuk menaikan derajat dan peradaban rakyat kami."
Kartini dikenal aktif menulis dalam bahasa Belanda melalui surat, puisi, dan prosa. Namun, ia kerap menggunakan nama samaran karena tidak ingin dikenal luas.
Kartini tidak suka pujian, bahkan segera marah jika nama samarannya terbongkar. “Benar-benar aku sebal, karena aku ingin tiada orang tahu kalau aku memainkan pena,” katanya.
Tulisan-tulisannya menjadi sarana menyuarakan gagasan sosial dan kemajuan bangsa. Karya tersebut kemudian dihimpun dalam buku terkenal Habis Gelap Terbitlah Terang.
3. Memiliki bakat seni lukis
Selain menulis, Kartini juga memiliki bakat dalam seni lukis sejak muda. Salah satu karyanya menggambarkan suasana alam dengan objek angsa di kolam.
Bakat ini dipengaruhi lingkungan budaya Jepara yang kaya seni rupa. Namun, minat melukisnya jarang terekspos dalam catatan sejarah populer.
Dalam suratnya kepada Nj Abendanon, 5 Maret 1902, Kartini menjelaskan, “seni gambar rupa-rupanya sudah warisan bagi Jepara. Kacung-kacung kecil, bocah-bocah pengangon kerbau, pandai sekali menggambar wayang, baik di pasir, di tembok-tembok, maupun di jembatan-jembatan, pada tangan-tangannya.”
4. Pecinta fotografi
Kartini memiliki ketertarikan besar pada dunia fotografi di masa itu. Ia ingin mendokumentasikan kehidupan rakyat sebagai bahan edukasi bagi masyarakat Eropa.
Melalui foto, Kartini berharap realitas kehidupan pribumi dapat lebih dipahami dunia luar. Ketertarikan ini menunjukkan visinya yang jauh melampaui zamannya.
Dalam Engineers of Happy Land (2002), Rudolf Mrázek menceritakan kecintaan Kartini pada dunia fotografi. “Amat sulit membuat bahkan satu saja foto di desa….(ada) takhyul…..(mereka takut) umurnya dapat diperpendek bila mereka membiarkan kami mengambil fotonya,” keluh Kartini seperti diceritakan Mrázek.
5. Ahli batik sejak usia muda
“Sebuah karangan tentang batik, yang tahun lalu kutulis buat pameran karya wanita, dan sejak itu tak terdengar kabar beritanya. Akan diterbitkan didalam karya-standar tentang batik, yang segera akan terbit.” (Panggil Aku Kartini Saja tahun 2003).
Kartini mulai belajar membatik sejak usia 12 tahun di lingkungan keluarga. Ia bahkan melakukan riset dan menulis tentang seni batik Jepara.
Karyanya mengenai batik mendapat perhatian hingga ke Belanda. Hal ini menunjukkan kontribusinya dalam pelestarian budaya lokal.
6. Penggemar musik tradisional dan Barat
Kartini menyukai musik gamelan sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. Ia juga menggemari musik Barat, termasuk permainan piano.
Musik menjadi sarana refleksi dan penguat emosional dalam kehidupannya. Ketertarikan ini memperlihatkan sisi humanis dan estetika Kartini.
7. Pengusung jurnalisme progresif
Kartini memiliki pandangan kritis terhadap praktik jurnalisme pada masanya. Ia menginginkan media berperan dalam mencerdaskan masyarakat.
Menurutnya, jurnalisme harus menyajikan pengetahuan yang memperluas wawasan. Pandangan ini relevan dengan konsep media edukatif saat ini.
8. Tertarik pada kemajuan teknologi
Kartini sangat terkesan dengan perkembangan kereta api sebagai simbol modernitas. Meski hanya sekali mencoba, pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam.
Baginya, teknologi membuka peluang interaksi sosial dan pertukaran gagasan. Hal ini memperlihatkan keterbukaan Kartini terhadap kemajuan zaman.
9. Menjalani pola hidup vegetarian
Kartini pernah menjalani pola makan vegetarian setelah mengalami sakit. Ia menganggap pilihan tersebut sebagai bentuk pengendalian diri dan spiritualitas.
Gaya hidup ini menunjukkan kesadaran kesehatan yang cukup maju pada zamannya. Pilihan tersebut juga mencerminkan nilai-nilai filosofis yang dianutnya.
“Kami sekarang pantang makan daging, sudah lama kami merencanakan itu, bahkan beberapa tahun saya hanya makan tanaman saja. Tetapi tidak punya cukup keberanian susila untuk bertahan, saya masih muda sekali, masih berusia 14, 15 tahun," tulis Kartini kepada sahabatnya, Ny RM Abendanon-Mandri.
10. Penentang feodalisme dan kolonialisme
Meski berasal dari kalangan bangsawan, Kartini menolak sistem feodal yang menindas. Ia juga mengkritik praktik kolonialisme yang merugikan rakyat.
Kartini memilih berpihak pada rakyat dan memperjuangkan kesetaraan sosial. Sikap ini menjadikannya simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.
“Disebut bersama dengan rakyatku; dengannyalah dia akan berada buat selama-lamanya! Aku sangat bangga, Stella, disebut dengan satu nafas dengan rakyatku.” (Panggil Aku Kartini Saja tahun 2003)
Pemikiran Kartini yang luas menunjukkan bahwa perjuangannya melampaui isu perempuan. Ia adalah tokoh pembaharu yang membawa visi kemajuan bagi bangsa Indonesia.
Melalui warisan gagasan tersebut, Kartini tetap relevan hingga saat ini. Semangatnya menjadi inspirasi dalam membangun masyarakat yang adil dan berpendidikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....