Identik di Hari Kartini, Kebaya jadi Simbol Emansipasi
- 19 Apr 2026 12:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Setiap peringatan Hari Kartini pada 21 April, kebaya menjadi busana yang sering dikenakan perempuan Indonesia. Pakaian tradisional ini lekat dengan sosok Raden Ajeng Kartini dan nilai emansipasi perempuan.
- Kata kebaya berasal dari bahasa Arab “abaya” yang berarti pakaian. Istilah ini kemudian berkembang menjadi busana khas dengan identitas lokal di Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Setiap peringatan Hari Kartini pada 21 April, kebaya menjadi busana yang sering dikenakan perempuan Indonesia. Pakaian tradisional ini lekat dengan sosok Raden Ajeng Kartini dan nilai emansipasi perempuan.
Kebaya tidak hanya identik dengan Kartini, tetapi juga memiliki sejarah panjang dalam budaya Nusantara. Perkembangannya mencerminkan perjalanan sosial dan budaya masyarakat dari masa ke masa.
Kata kebaya berasal dari bahasa Arab “abaya” yang berarti pakaian. Istilah ini kemudian berkembang menjadi busana khas dengan identitas lokal di Indonesia.
Sejumlah sumber menyebut kebaya diperkenalkan bangsa Portugis saat datang ke Asia Tenggara. Pada masa itu, kebaya dikenal sebagai pakaian atas atau blus perempuan.
Pendapat lain mengaitkan kebaya dengan busana tunik perempuan pada masa Dinasti Ming di China. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh lintas budaya dalam perkembangan kebaya.
Jejak awal kebaya juga tercatat dalam buku The History of Java karya Thomas Stamford Raffles . Ia menyebut busana “kalambi” yang dikenakan masyarakat Hindia Belanda.
Kalambi digambarkan sebagai pakaian longgar berlengan panjang hingga lutut. Busana tersebut umumnya berwarna polos tanpa motif.
Pada masa kolonial Belanda, kebaya digunakan sebagai busana resmi perempuan Eropa. Bahan yang digunakan umumnya berupa kain tenun mori dengan desain sederhana.
Memasuki abad ke-19, kebaya menjadi pakaian sehari-hari berbagai kalangan. Baik masyarakat Jawa maupun keturunan Belanda mengenakannya dalam aktivitas harian.
Bahkan, kebaya menjadi busana wajib bagi perempuan Belanda yang datang ke Hindia Belanda. Penggunaan ini menunjukkan posisi kebaya sebagai pakaian umum lintas sosial.
Namun, pada akhir masa penjajahan Belanda hingga masa Jepang, pamor kebaya sempat menurun. Kebaya digunakan oleh tahanan pribumi dan pekerja paksa perempuan.
Memasuki era modern, kebaya berkembang menjadi simbol identitas nasional. Popularitasnya semakin menguat saat Presiden Soekarno menetapkannya sebagai busana nasional pada tahun 1940-an.
Keterkaitan kebaya dengan Hari Kartini tidak lepas dari sosok Kartini. Ia dikenal mengenakan kebaya sebagai identitas perempuan pribumi terpelajar.
Semangat Kartini menjadikan kebaya lebih dari sekadar pakaian tradisional. Kebaya juga menjadi simbol perjuangan, identitas, dan kebanggaan perempuan Indonesia.
Seiring perkembangan zaman, kebaya terus mengalami perubahan desain. Para desainer menghadirkan inovasi dengan bahan modern dan tambahan aksesori.
Kini, kebaya tidak hanya dikenakan dalam acara adat atau peringatan Hari Kartini. Busana ini juga hadir dalam berbagai inovasi desain tanpa meninggalkan nilai tradisional.
Kebaya menjadi representasi sejarah, budaya, dan identitas perempuan Indonesia. Dari masa kerajaan hingga modern, kebaya tetap relevan sebagai simbol semangat emansipasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....