Persahabatan Kartini-Rosa Abendanon, Kisah di Balik Gagasan Emansipasi Kartini
- 19 Apr 2026 15:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gagasan Raden Ajeng Kartini tentang pendidikan dan kesetaraan perempuan menjadi tidak penting perubahan sosial. Pemikiran tersebut lahir dari pengalaman hidup dan interaksinya dengan sahabat pena di Eropa.
- Salah satunya kedekatan Raden Ajeng Kartini dengan Rosa Abendanon yang tidak hanya sebatas pertukaran surat. Hubungan ini turut memantik lahirnya gagasan besar tentang kesetaraan perempuan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Gagasan Raden Ajeng Kartini tentang pendidikan dan kesetaraan perempuan menjadi tidak penting perubahan sosial. Pemikiran tersebut lahir dari pengalaman hidup dan interaksinya dengan sahabat pena di Eropa.
Salah satunya kedekatan Raden Ajeng Kartini dengan Rosa Abendanon yang tidak hanya sebatas pertukaran surat. Hubungan ini turut memantik lahirnya gagasan besar tentang kesetaraan perempuan.
Pada akhir abad ke-19, posisi perempuan masih berada di bawah dominasi laki-laki. Kondisi ini terutama terlihat dalam keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan.
Kartini yang lahir pada 21 April 1879 merupakan putri Bupati Jepara. Ia dikenal memiliki pemikiran progresif dan bercita-cita menempuh pendidikan tinggi hingga ke Belanda.
Namun, Kartini harus mengakhiri pendidikannya pada usia 12 tahun. Ia kemudian menjalani kehidupan sesuai tradisi yang berlaku saat itu.
Meski demikian, semangat belajarnya tidak padam. Ia tetap mengembangkan pemikiran melalui membaca dan menulis surat.
Saat itu, Rosa dikenal memberikan dukungan moral dalam perjalanan intelektual Kartini. Ia juga menjadi tempat berbagi pemikiran dan perasaan secara terbuka.
Ketika rencana studi Kartini ke Belanda batal, sahabat-sahabatnya turut merasakan kekecewaan. Bagi mereka, Kartini adalah representasi perempuan pribumi dengan pemikiran maju.
Perjuangan Kartini tidak berhenti setelah menikah. Ia tetap aktif menyuarakan gagasannya melalui tulisan dan surat-menyurat.
Pemikiran Kartini banyak dimuat dalam majalah Belanda 'De Hollandsche Lelie'. Tulisan tersebut membahas pendidikan, kebebasan, dan kesetaraan perempuan.
Surat-surat Kartini kemudian dihimpun oleh Jacques Henri Abendanon. Ia menerbitkannya dengan judul 'Door Duisternis tot Licht'.
Di Indonesia, buku tersebut dikenal sebagai 'Habis Gelap Terbitlah Terang'. Karya ini diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1922.
Buku tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah emansipasi perempuan dan terus menginspirasi hingga kini. Kisah persahabatan Kartini dan Rosa menunjukkan kekuatan solidaritas perempuan yang melampaui batas geografis dan budaya.
Dukungan emosional dan intelektual dari sahabatnya memperkuat perjuangan Kartini. Hal ini menjadi bukti pentingnya kolaborasi dalam mendorong perubahan sosial.
Semangat 'sisterhood' yang diwariskan Kartini juga tetap relevan hingga saat ini. Nilai tersebut terus mendorong kesetaraan gender di berbagai belahan dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....