BMKG Mimika Pantau Perubahan Arah Angin di Tengah Musim Kemarau
- 24 Agt 2026 19:42 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Mimika — Prakirawan BMKG Dwi Christianto menjelaskan, pergerakan asap di wilayah Papua sangat dipengaruhi oleh pola angin yang terjadi saat ini. Pada Agustus, Indonesia secara umum berada dalam periode musim kemarau yang berlangsung sejak April hingga September.
Dwi mengatakan, pada musim kemarau, pola angin di Indonesia didominasi angin timuran yang bergerak dari Australia menuju wilayah Indonesia. Angin tersebut memiliki karakteristik relatif kering dan dingin karena membawa sedikit uap air.
"Kalau musim kemarau, anginnya dari Australia masuk ke Indonesia. Di BMKG kita menyebutnya angin timuran. Angin ini sifatnya kering dan biasanya terasa dingin," jelas Dwi.
Menurutnya, arah angin tersebut sangat menentukan ke mana asap akibat kebakaran atau pembakaran lahan akan bergerak. Jika terdapat titik api di suatu wilayah, asap akan mengikuti arah angin yang bertiup pada saat itu.
Berdasarkan analisis sementara BMKG, asap yang berada di wilayah tertentu di Papua dapat bergerak mengikuti pola angin menuju wilayah lainnya. Asap dari kawasan pegunungan, misalnya, berpotensi bergerak menuju Nabire, Manokwari hingga Biak, tergantung arah dan kekuatan angin.
Dwi menjelaskan, kondisi tersebut berbeda dengan musim penghujan yang berlangsung sekitar Oktober hingga Maret. Pada periode tersebut, pola angin secara umum bergerak dari Asia menuju Indonesia, berlawanan dengan pola angin pada musim kemarau.
"Untuk saat ini sampai September, kita masih berada dalam pola angin timuran. Artinya, angin bertiup dari Australia masuk ke wilayah Indonesia," ujarnya.
Terkait kondisi kualitas udara akibat asap, Dwi mengatakan BMKG di daerah belum dapat memastikan tingkat kesehatan udara secara langsung. Hal tersebut disebabkan keterbatasan peralatan khusus untuk mengukur kualitas udara dan kandungan polutan.
"Kalau kita memiliki alatnya, kita bisa berkoordinasi dengan pihak pusat untuk mengetahui apakah kondisi udara sehat atau tidak. Karena kita tidak memiliki alatnya, jadi kita tidak bisa mengukur secara langsung," katanya.
Dari sisi penerbangan, Dwi menyebut keberadaan asap dan kabut dapat mengganggu aktivitas penerbangan, terutama saat pesawat melakukan lepas landas dan pendaratan. BMKG terus melakukan pemantauan dan menyampaikan laporan jarak pandang kepada pihak terkait setiap setengah jam.
Berdasarkan pemantauan, jarak pandang di wilayah Timika berada pada kisaran tiga ribu hingga lima ribu meter. Kondisi tersebut masih memungkinkan aktivitas penerbangan, namun jarak pandang dapat menurun apabila kabut dan asap terjadi secara bersamaan.
Dwi menambahkan, kombinasi kabut dan asap menjadi salah satu kondisi yang dapat mengurangi jarak pandang secara signifikan. Karena itu, BMKG terus memantau perkembangan cuaca dan jarak pandang untuk mendukung keselamatan serta kelancaran aktivitas penerbangan di Timika.
Ia menegaskan, arah dan kekuatan angin menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan asap di wilayah Papua. Masyarakat juga diimbau menghindari aktivitas pembakaran yang dapat menghasilkan asap, terutama pada periode musim kemarau ketika kondisi angin timuran cukup dominan.(Sandra)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....