Dua Paskibraka Paniai Bagikan Kisah Perjuangan di Pasukan Delapan

  • 17 Agt 2026 21:24 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Di balik khidmatnya upacara penurunan Bendera Merah Putih pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Papua Tengah, tersimpan kisah perjuangan para anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka.

Para anggota merupakan putra-putri terbaik yang telah melalui seleksi dan pelatihan intensif sebelum menjalankan tugas pada peringatan HUT ke-81 RI. Salah satunya adalah Otto Wisel Tebai, siswa SMA Negeri 1 Paniai Timur, Kabupaten Paniai. Ia mengaku sempat merasakan gugup sebelum menjalankan tugas pada upacara penurunan bendera.

“Rasanya sebelum masuk lapangan itu gugup sekali, takut salah. Untung ada pelatih yang selalu kasih kita semangat agar bisa menurunkan Sang Merah Putih dengan baik,” kata Otto saat ditemui tim LPP RRI Nabire setelah upacara penurunan bendera merah putih di Halaman Kantor Gubernur Papua Tengah, Senin 17 Agustus 2026.

Otto juga mengungkapkan perjalanan menjadi anggota Paskibraka tidak mudah. Menurutnya, seleksi melalui tes TIU dan TWK menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dilalui sebelum terpilih sebagai anggota Pasukan Delapan.

Selain Otto, Allipin B. Tenouye yang juga berasal dari SMA Negeri 1 Paniai Timur turut merasakan kebanggaan saat dipercaya menjadi bagian dari Pasukan Delapan Papua Tengah.

Ia mengaku tidak menyangka dapat terpilih hingga akhirnya menjalankan tugas sebagai Paskibraka tingkat provinsi.

“Perasaannya senang sekali bisa terpilih menjadi Pasukan Delapan mewakili Paniai,” ujarnya.

Allipin juga mengajak pelajar lain untuk terus bersemangat mengikuti seleksi Paskibraka pada tahun-tahun mendatang.

Menurut Alipin, keberhasilannya menjalankan tugas tidak lepas dari dukungan keluarga. Ia menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tuanya yang terus memberikan doa selama proses seleksi hingga pelaksanaan tugas.

“Untuk keluarga, terima kasih untuk doa-doanya. Saya berterima kasih sekali untuk Mama, Bapak, karena berkat doa mereka juga saya bisa mengibarkan Bendera Pusaka di tingkat Provinsi Papua Tengah,” ucapnya.

Kisah Otto dan Alipin menunjukkan bahwa menjadi Paskibraka tidak hanya membutuhkan kemampuan fisik dan disiplin, tetapi juga ketekunan, dukungan keluarga, serta semangat untuk membawa nama daerah di tingkat provinsi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....