Hoaks di Media Sosial Dinilai Jadi Tantangan Kerukunan di Papua Tengah
- 10 Agt 2026 13:24 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Penyebaran informasi bohong atau hoaks di media sosial dinilai menjadi salah satu tantangan dalam menjaga kerukunan umat beragama di Papua Tengah. Kecepatan penyebaran informasi dapat menjadi peluang untuk memperkuat komunikasi, namun juga berpotensi memicu persoalan sosial apabila tidak disikapi secara bijak.
Inspektur Pengawasan Daerah (Irwasda) Polda Papua Tengah Kombes. Pol. Wahyu Kuncoro, S.I.K., M.H., mengatakan media sosial saat ini memungkinkan masyarakat menerima berbagai informasi dalam hitungan detik, baik informasi positif maupun negatif. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, khususnya bagi generasi muda lintas agama.
"Selanjutnya, tentunya teman-teman, kita tidak lepas dari namanya media sosial. Inilah yang menjadi peluang, tetapi juga menjadi tantangan pada kondisi sekarang. Dunia lebih cepat dalam menerima informasi. Bukan itu saja, tapi dalam detik semua sudah bisa mengetahui informasi-informasi baik yang positif maupun yang negatif," ungkap Wahyu.
Menurut Wahyu, penyebaran hoaks dapat menjadi hambatan dalam mewujudkan kerukunan umat beragama. Karena itu, generasi muda lintas agama perlu memiliki kesadaran untuk menyaring informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya kepada masyarakat.
Ia menilai upaya menjaga kerukunan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Situasi yang damai dan kondusif di Papua Tengah membutuhkan kolaborasi pemerintah, Polri, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta generasi muda.

"Di tingkat regional tentunya Papua Tengah memiliki keberagaman sosial, budaya, agama, dan memiliki kekayaan yang cukup luar biasa. Situasi yang damai dan kondusif perlu dijaga bersama melalui kolaborasi pemerintah, Polri, eksekutif, tokoh masyarakat, serta generasi muda sebagai komponen kesatuan," tambahnya.
Wahyu juga menjelaskan pentingnya membangun kolaborasi antarelemen masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan yang dapat mengganggu keamanan dan keharmonisan daerah. Pendekatan kolaboratif tersebut dinilai dapat membantu menemukan solusi yang tepat sesuai dengan kondisi masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua Tengah Drs. Ignatius Robertus Adii, M.MPd., menegaskan keberadaan FKUB memiliki peran penting dalam menjaga toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia.
Menurut Ignatius, keberagaman Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, agama, budaya, dan wilayah dapat menjadi kekuatan sekaligus membutuhkan pengelolaan yang baik agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik.
Ia mengatakan keberadaan FKUB di tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten menjadi bagian dari upaya membantu menjaga kerukunan sekaligus mendukung pihak keamanan dalam mengantisipasi persoalan yang muncul akibat perbedaan di masyarakat.
Temu Pemuda Lintas Agama FKUB Provinsi Papua Tengah Tahun 2026 menjadi salah satu ruang untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi generasi muda dari berbagai latar belakang agama.
Melalui penguatan komunikasi lintas agama dan penggunaan media sosial secara bijak, generasi muda diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya menjaga persatuan, mencegah penyebaran informasi yang dapat memicu konflik, serta memperkuat kehidupan masyarakat Papua Tengah yang aman dan harmonis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....