LMA Nabire Deklarasikan Persatuan Masyarakat Adat, Tolak Provokasi dan Kekerasan

  • 20 Agt 2026 05:57 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire — Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Nabire menggelar Deklarasi dan Pawai Masyarakat Adat Nusantara dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Rabu 19 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Taman Gizi Oyehe, Distrik Nabire, tersebut mengusung tema “Bersama dalam Keberagaman Ciptakan Papua Tengah yang Aman dan Damai.” Sekitar 350 peserta dari berbagai suku dan elemen masyarakat mengikuti kegiatan yang dipimpin Ketua LMA Kabupaten Nabire Karel Misiro, didampingi Korwil LMA Papua Tengah Yona Kogoya.

Hadir dalam kegiatan tersebut Asisten I Setda Nabire La Halim, S.Sos., mewakili Bupati Nabire, Danlanal Nabire Letkol Laut (P) Mario Marco Wainarisi, unsur TNI-Polri, tokoh adat, serta tokoh masyarakat.

Korwil LMA Papua Tengah Yona Kogoya mengatakan keberagaman suku, budaya, dan agama merupakan kekuatan masyarakat Nabire dalam menjaga persaudaraan dan kedamaian.

“Keberagaman bukan menjadi alasan untuk terpecah, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun persaudaraan dan menciptakan Papua Tengah yang aman dan damai,” ujar Yona.

Ia menegaskan LMA berkomitmen menolak segala bentuk kekerasan dan kebencian. Masyarakat juga diajak hidup rukun serta mendukung pembangunan Papua Tengah, terutama melalui peningkatan pendidikan bagi generasi muda.

Sementara itu, Ketua LMA Kabupaten Nabire Karel Misiro mengatakan deklarasi tersebut menjadi simbol persatuan masyarakat adat dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Menurut Karel, persatuan harus berjalan seiring dengan upaya melestarikan adat dan budaya sebagai warisan leluhur yang harus dijaga oleh generasi penerus.

Mewakili Bupati Nabire, La Halim menyampaikan apresiasi pemerintah daerah kepada LMA yang dinilai menjadi mitra strategis dalam menjaga ketertiban sosial, memperkuat persatuan, dan melestarikan budaya.

“Kemerdekaan Indonesia lahir dari keberagaman. Karena itu, perbedaan harus menjadi perekat persaudaraan, bukan menjadi sumber perpecahan,” kata La Halim.

Dalam deklarasi tersebut, masyarakat adat menyatakan sejumlah komitmen, di antaranya menjadikan keberagaman sebagai kekuatan persatuan, menolak provokasi, hoaks, kekerasan dan konflik antarsuku, menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, serta mendukung program pembangunan demi kesejahteraan masyarakat Papua Tengah.

Usai deklarasi, sekitar 350 peserta kemudian mengikuti pawai budaya mengelilingi Kota Nabire. Pawai dimulai dari Taman Gizi Oyehe menuju Kalibobo dan kembali ke titik awal.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan tertib. Kegiatan berakhir sekitar pukul 17.20 WIT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....